Gugatan Gen Z: Kata Siapa Kami Kurang Minat Literasi?

Saya muak mendengar anggapan kalau Gen Z itu generasi yang malas membaca dibandingkan generasi sebelumnya.

Tidak jarang juga mereka membandingkan antara zaman sekarang yang serba digital, cepat, dan mudah dengan zaman dahulu yang katanya lebih “niat” dalam membaca.

Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Justru, data dari GoodStats menunjukkan bahwa Gen Z menjadi generasi dengan tingkat aktivitas membaca tertinggi, yakni sebesar 26%.

Angka tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan Gen Y atau Milenial yang berada di angka 20%, sementara Gen X sebesar 18%. Ironisnya dua generasi ini lah yang suka mencibir kami. Cuih!

Data tersebut jelas membantah stigma kalau Gen Z kurang literasi.

Justru sebaliknya, mereka tetap membaca, hanya saja caranya yang berbeda. Sekarang juga makin banyak komunitas literasi, bookstagram, booktok, dan berbagai gerakan membaca di media sosial yang mayoritas penggeraknya adalah Gen Z. Hal yang tidak terjadi di generasi sebelumnya.

Ini menunjukkan bahwa minat membaca itu masih ada, bahkan berkembang dalam bentuk yang lebih modern dan kreatif. Sebenarnya, bukan karena Gen Z malas membaca buku, melainkan ada beberapa faktor yang cukup berpengaruh, di antaranya:

Kurangnya update buku di beberapa perpustakaan

Di beberapa perpustakaan, terutama di sekolah atau daerah yang masih pelosok, koleksi bukunya masih terbilang kurang update dan cenderung masih versi lama.

Ketika Gen Z ingin membaca buku yang sedang mereka cari atau yang sedang relevan dengan kebutuhan mereka, sering kali tidak tersedia.

Akhirnya, mereka memilih mencari alternatif lain, seperti membaca di internet atau platform digital yang lebih cepat dan mudah diakses.

Harga buku fisik yang mahal

Ini salah satu faktor yang cukup krusial. Banyak Gen Z sebenarnya masih menyukai membaca buku fisik karena sensasinya yang berbeda, tapi kenyataannya harga buku sekarang cukup mahal, terutama bagi pelajar atau mahasiswa.

Saya sendiri sering menargetkan untuk membeli buku fisik tiap bulan minimal 2 buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Jujur saja, target itu belum sepenuhnya terpenuhi secara konsisten. Alasannya sederhana, harga buku yang relatif mahal.

Walaupun sebenarnya tidak sebanding dengan isi dan pemikiran penulisnya, tetap saja dari sisi pembaca atau pembeli terasa berat.

Akhirnya, kalau ada sisa uang saku biasanya hanya cukup buat beli satu buku, kalau ada uang lebih, baru bisa beli dua buku atau lebih.

Memang ada opsi membaca buku digital, tapi tidak semua buku yang kami suka tersedia dalam versi resmi digital.

Kalaupun ada, sering kali yang beredar justru versi bajakan, yang secara etika dan legalitas tentu jadi dilema tersendiri. Bahkan, ada penulis yang tidak mengizinkan pembacanya membaca buku bajakan. Dari situ saya sadar, keinginan membaca itu ada, tapi sering kali terbentur realitas berkaitan harga dan akses. In this economy, Bor!

3. Infrastruktur dan ekosistem yang kurang mendukung

Negara sering menuntut (entah serius atau cuma basa-basi belaka) masyarakatnya untuk gemar membaca, tapi fasilitas ada belum layak dan merata.

Selain itu, lingkungan sekitar juga terkadang kurang mendukung. Saya pernah kuliah tanpa menggunakan smartphone selama lebih dari dua minggu karena rusak. Waktu itu, saya mengisi waktu kosong sebelum dosen datang dengan membaca buku fiksi, tapi ada saja candaan dari teman saya yang bilang,

“Tumben rajin baca, gak ada HP ya?”

Kalau hanya sekali mungkin saya memaklumi jika ia sedang bertanya, tapi nyatanya lebih dari tiga kali teman saya bercanda mengatakan itu. Lalu, ketika smartphone saya sudah kembali normal, akhirnya saya memutuskan baca buku di kos saja, tetap aja ada komentar yang bilang, “Gitu ya, giliran HP udah bener, jadi gak baca buku lagi”.

Hal-hal seperti ini mungkin terdengar sepele, tapi sebenarnya cukup berpengaruh. Hingga kadang muncul rasa canggung untuk membaca buku di ruang publik. Padahal, kebiasaan membaca seharusnya bisa jadi hal yang biasa aja.

Pergeseran Budaya Membaca di Era Digital

Alih-alih disebut malas membaca, sebenarnya Gen Z sedang mengalami pergeseran dalam budaya membaca.

Kini Gen Z lebih inovatif dan adaptif dalam membaca dan menggunakan media yang berbeda-beda. Selain buku fisik, Gen Z juga banyak mengakses bacaan melalui Google, artikel online, e-book, portal berita, bahkan media sosial.

Berdasarkan data Indonesia Gen Z Report 2024, media membaca yang paling banyak digunakan oleh Gen Z adalah artikel dan portal berita online sebanyak 50%, disusul buku fisik sebanyak 24%, e-book sebanyak 19%, audiobook sebanyak 2%, majalah sebanyak 1%, dan yang tidak membaca buku sama sekali sebanyak 1%.

Artinya, sebanyak 99% Gen Z sebenarnya masih gemar membaca dalam berbagai bentuk.

Saya juga pernah punya pengalaman menarik ketika berdiskusi dengan komunitas di sebuah cafe yang ternyata menyediakan banyak koleksi buku terbaru, hampir lengkap layaknya perpustakaan kecil. Suasananya yang nyaman, membuat saya betah dan tertarik membaca buku di sana. Ternyata, tempat yang mendukung seperti itu bisa menarik minat banyak Gen Z untuk membaca sambil bersantai.

Data Indonesia Gen Z Report 2024 memperjelas bahwa masalah utamanya bukan pada minat membaca, melainkan pada akses terhadap bahan bacaan itu sendiri. Sudah lama ada anggapan bahwa generasi muda semakin menjauh dari buku dan lebih memilih video pendek di media sosial. Padahal, kalau dilihat lebih dalam, tantangan sebenarnya mungkin berasal dari ketersediaan dan keterjangkauan buku yang terbatas.

Selain itu, dalam dunia pendidikan sekarang sudah banyak diterapkan sistem active learning yang menuntut mahasiswa untuk aktif membaca dan mencari referensi sendiri. Saya juga pernah mencoba memahami materi sebelum kuliah sesuai rencana pembelajaran yang dibagikan dosen. Dalam praktiknya, apa yang dipelajari terkadang tidak sepenuhnya sesuai dengan yang dibahas di kelas atau ditanyakan oleh dosen, walaupun masih dalam tema yang sama. Akhirnya, hal ini yang kadang Gen Z dinilai malas membaca buku.

Minat Baca Gen Z Sedang Beradaptasi

Pada akhirnya, Gen Z bukan generasi yang kehilangan minat literasi. Mereka hanya beradaptasi dengan zaman. Cara mereka membaca mungkin berbeda, tapi esensinya tetap sama yaitu mencari informasi, memahami dunia, dan mengembangkan diri. Hal ini karena saya juga merasakan hal yang sama, kadang justru lebih sering membaca lewat media online.

Jadi daripada terlalu cepat menyimpulkan bahwa Gen Z malas membaca, lebih baik pada ngaca!

Referensi:

IDN Research Institute. 2024. Indonesia Gen Z Report. IDN Times. https://cdn.idntimes.com/content-documents/indonesia-gen-z-report-2024.pdf

Husein, Ahmad N. 2026. Minat Baca Gen Z Menonjol di Tengah Penurunan Hiburan Digital 2025. GoodStats. https://data.goodstats.id/statistic/minat-baca-gen-z-menonjol-di-tengah-penurunan-hiburan-digital-2025-CTfVr

 

Asal Sukabumi. Menempuh pendidikan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Hukum Keluarga. Sebagian karya tulisnya telah dimuat di beberapa platform media digital. Instagram @riani_624 & @riranizan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!
bets10 | bets10 | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş | mariobet | mariobet giriş |