

“Besok, Minggu sepertinya … ”
Di perbukitan desa Jangkar, seorang anak tertidur pulas di bawah pohon seperti hari ini telah menjadi Sabtu. Ayahnya memacul menyiapkan lahan ubi. Nenek sedang mengoceh dengan wanita muda di pasar. Anak pedagang sedang beristirahat dan para nelayan mencari umpan-umpannya. Namun, ada sesuatu yang membuat anak tertidur itu terpaksa untuk bangun, tapi bukan karena besok Senin.
Mata menyeripit anak itu terkejut melihat munculnya meteor secara tiba-tiba. Ia heran sekaligus merinding dengan fenomena alam ini, “Memang gila hari ini!” pikirnya
“Akhirnya bangun juga kau Gondol,” ujar kepala desa sambil memegang batu.
Mungkin, karena si Gondol ini anak petani, kepala desa memberinya tugas untuk mencari sayuran … “Unik”
“Carikan saya Wortel Sakti,” perintah si Kepala Desa.
“HAH!? Emang ad … “ heran Gondol, namun dipotong dengan perginya tanpa tanggung jawab dari kepala desa
Ia sedikit kesal, SEDIKIT. Tapi, rasanya tidak bisa kabur.
“Wortel Sakti? Cari di mana itu?”
Ia bergegas menanyai bapaknya, yang sedang memacul dengan biasa saja.
“Pak, Wortel-“ belum juga ia menyebut kata pamungkas (Sakti),
“BWAHAHAHAH!” ayahnya sudah tertawa lepas gembira bagaikan tawa itu sudah tersimpan lama untuk ini. Pemaculnya saja terhempas ke mana itu, air matanya keluar bersimbah ke tanah kering. Sampai terserak-serak, “KHA-Kha-kha…”
Akhirnya, si Gondol pergi saja. Sedikit menyesal tadinya, tapi ia sudah memasukan nama ayahnya ke dendam pribadi, bersamaan dengan kepala desa dan Ucup.
Tidak mengerti mengapa ayahnya begitu “Bahagia”, padahal ia begitu datar dan membosankan, bahkan bajunya yang sudah terbasahi oleh air mata lebih biasa saja daripada pemaculnya yang sekarang hilang juga.
Pergilah ia ke jalanan, berharap ada sesuatu yang memberinya Wortel Sakti secara ajaib dan di luar nalar
Seorang Nenek menyapanya.
Gondol sapa balik, dan menghampiri.
“Nek, apakah tau di mana Wortel Sakti it-“
Kali ini, Gondol yang diam, saat mulut keriput nenek itu mulai meninggi.
Lalu dia …
“Khe-kHe-KHE KHE KHE BWEHEHEHEHEH!” tawa lepas, terlepas juga gigi palsunya. “WoK Wok Wort… WOer… WORTEL SAKTI! HE HE HE HEKK!”
Nenek itu jatuh. Tangan kiri memukul-mukul tanah, tangan kanan mulai kejang-kejang tak karuan.
Pergilah Gondol sekali lagi, bukan karena kasian melihat nenek tua kejang-kejang, namun muka nenek itu sudah masuk ke dendam pribadinya.
Di jalanan bertanah ia tidak sengaja berpapasan dengan seseorang, orang yang berada di dendam pribadinya, paling pertama. Melihat hidungnya saja sudah jijik bagi si Gondol. Bukan lagi, kalau itu Ucup.
“Woi Gondol!”
“Hm … Ucup.” Ia sedikit menghela napas, lalu Gondol bertanya, “Kau tau-“
“GAK TAU!”
Angin menyapu dedaunan.
“HAHAHAHAHA!” tawa si Ucup, hingga terbaring ke tanah. Dagangan dilepas dari pandangan.
Untunglah Ucup sudah masuk ke daftar. Ia mendatangi dagangan, dan tentunya tidak ada namanya Wortel Sakti di situ, bahkan rasanya Wortel Sakti itu tidak ada.
“Memangnya ada, ya?” gumamnya.
Tiba-tiba, ia mendengar, “IEEEEEK!” keras sekali suara suara itu, namun Ucup masih saja berguling-guling.
Gondol mulai mendekati suara itu, suaranya seperti berada di semak-semak. Ia mengecek semak itu yang mulai bergoyang-goyang.
“Ciit!” ternyata itu Kelinci, “Cit-cit-cit … ” Kelinci itu menggigit sesuatu,
mirip wortel
tapi …
warnanya hitam. Legam sekali.
Namun, Gondol menghiraukan kelinci itu, dan kelinci itu juga tidak peduli, dia langsung saja kabur ke hutan sana. Mungkin, mereka saling sepakat untuk mengakhiri hari ini.
Di perbukitan, Gondol membaringkan badannya di bawah pohon, lalu menutup mata, namun suara langkah kaki muncul.
“GONDOL!” Kepala Desa rupanya, “MANA PESANAN SAYA?!”
“Astaga … ” kesalnya memuncak, “ASTAGA! MANA?!”
“Wortel Sakti itu apaan, Pak? Aku dari tadi keliling desa! Tidak ada namanya Wortel Sakti itu! Memangnya itu apa?” ujar Gondol mencurahkan hampir seluruhnya.
Untunglah kepala desa tidak tertawa, ia menghela napas.
Ia mengambil selembaran kertas di saku celananya, “Wortel yang warnanya hitam legam.”
“Astaga… Jadi barusan di mulut kelinci itu!”
Akhirnya Gondol teringat.
Kembali ke tempat sama, di tempat Ucup masih tertawa lepas. Sekarang, isi dagangannya kosong. Memasuki hutan, di antara semak-semak, segala ranting berlepotan di sana. Kelinci itu belum terlihat juga. Pohon-pohon di mana-mana, akar menjungkal kaki mengganggunya, rotan melingkar sekitaran. Bunga putih hampir menipu mata menjadi kelinci.
Tetap saja aneh! Buat apa Kepala Desa butuh wortel hitam itu?
Di antara rawa-rawa kelinci itu belum ketemu juga, makin dalam Gondol ke hutan, makin ragu ia untuk apa pesanan ini. Sampai di titik, ia ingin balik saja.
“Ciiit! Cit-cit…” suara itu menggema.
Gondol terdiam sebentar.
“Cit.”
Ia langsung berlari ke sumber suara.
Yakin sekali itulah kelinci dicari-carinya.
Tidak ingin ia menghilangkan harapannya lagi, langsung saja ia menerobos hutan tanpa peduli rotan-rotan bergeliat mengganggu langkahnya. Tergores oleh ranting. Terjengkal kaki oleh batu.
“Cit … ” suara kembali bergema.
Lari si Gondol makin kencang.
“CIT!”
“HYAAKH!” Gondol menerkam langsung ke arah kelinci itu, kesal sekali dari banyaknya kesusahan yang ia dapat, ia luapkan pada kelinci ini.
Kelinci itu memberontak keras.
“CIIIIIIIT!” ia sesekali tergigit oleh pergulatannya.
“Cit.”
Kelincinya melepas mulut, terjatuhlah barang terindah itu.
Wortel Sakti. Gondol mengambilnya bagaikan itu barang penyelamat dunia, namun datang kepala desa entah darimana.
Sekarang sudah malam, di belahan cahaya bulan, Kepala Desa berada di tengahnya, ia menatap keberhasilan Gondol, yang Gondol sendiri tak tahu guna Wortel itu.
Sesekali ada suara anak kecil menangis, atau lansia menjerit. Telinga Gondol kurang kompeten saat ini. Suara mesin asap tebal juga ada, bahkan gergaji mesin juga, bahkan getaran mulai terasa sampai di sini. Burung-burung juga beterbangan di hutan.
Gondol melihat kepala desa, ia membawa koper.
“Pak, Wortelnya untuk apa sekarang?”
“Telat.”
Itu saja dari Kepala Desa, ia lalu pergi seperti sebelumnya. Pergi begitu saja tanpa tanggung jawab.
Datang burung hutan membawa surat, Gondol membacanya.
“HEI PARA WARGA JANGKAR!
Kumohon kepala desa kalian tau dan memberi tau!
Jika hari ini KALIAN tidak memberiku WORTEL SAKTI!
KALIAN SEMUA AKAN SAYA USIR PAKSA!
Catatan: ‘Wortelnya warna hitam, dan itu hitam banget. Legam’
Cinta kasih – Juragan.”
Gondol menghela napas. Ia mencoba menghela napas, ia sesekali bernapas. Ini susah sekali, ini bingung sekali. Gondol mencoba berharap.
“Astaga … ”
Ia bergegas keluar dari hutan, kembali lagi ke segala rintangan, rasanya waktu cepat sekali.
Ia berlari melihat desanya, Ucup dan dagangannya sudah tidak ada, Nenek itu juga. Ia kembali ke rumah, ayahnya sudah membawa tiga koper besar.
“Bapak?” bingung Gondol.
“Kita harus pergi, maafkan Bapak,” bapaknya meneteskan air mata ke tanah.
Gondol melihat tangan bapaknya, lalu rumahnya. Ia sesekali bertanya alasan bapaknya membawa tiga tas, padahal hanya mereka berdua yang ada.
Ia menghela napas untuk sekian kalinya.
Gondol tak percaya dengan hari ini, hari ini cukup membingungkannya.
Memegang wortel itu, makin membuatnya banyak pikiran, “Untuk apa!?”
Angin memuncak tiba-tiba ke sekitaran rumahnya.
“HAHAHAHA!” suara itu membuatnya rindu saja.
Pria berbaju hitam legam datang dengan helikopter, ia sepertinya melihat Wortel Sakti yang dipegang Gondol.
“HAHAI! KAU MENEMUKANNYA!”
Gondol langsung meletakkan wortel itu ke giginya. Ia menatap kesal ke orang itu. Juragan.
Juragan sadar dengan intimidasi itu, ia langsung saja mengode angkat tangan “damai”.
Beberapa suara kekacauan mulai meredup.
Gondol juga mulai menyerahkan wortel itu, ia meletakkannya di tanah
Untunglah, Juragan adalah pria bertanggung jawab. Ia menyuruh pekerjanya untuk mengambil Wortel Sakti itu, lalu semua orang pergi.
Kali ini, akhirnya semua sunyi.
Ia menatap bapaknya, bapaknya masuk ke dalam rumah. Ia lalu pergi, sepertinya ke bukit lagi.
Gondol menidurkan tubuhnya di bawah pohon.
Malam ini, bintang-bintang lumayan indah. Gondol menatap mereka.
“Besok, Minggu sepertinya …”
Lahir di Sambas, 1 April 2008. Tinggal juga di Sambas, bahkan mati juga bakalan di sini, gak taulah. Suka nulis, apalagi kalau ada yang suka, tapi jarang sih yang suka. Hobi makan, kemampuan bisa menghabiskan dua piring nasi dalam satu duduk.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!