Ghost in The Cell dan Bangsa yang Gemar Diadu Domba

Source: IMDB

Saya cukup menikmati malming dengan menonton Ghost in The Cell kemarin. Filmnya tak membuat saya ingin mem-pause film di tengah jalan dan mengulangnya berkali-kali sampai bilang,

“Nih, lihat deh. Kenapa harus gini? Kenapa gak gini?” tanya saya dengan belagu padahal membuat satu film pun tak pernah.

Selain itu, sepertinya kebahagiaan menonton film ini sesedehana ditemani si dia yang jajanin saya popcorn seabreg (saya suka sekali popcorn!) sehingga perut saya tak kerubukan meski memakai baju lekbong ke bioskop.

Ghost in The Cell sebetulnya tak banyak menawarkan hal baru dalam persona film Joko Anwar. Ya, memang Joko Anwar sekali filmnya. Pemilihan aktornya juga. Kita tahu bahwa beberapa sutradara atau produser akan sangat senang bekerja sama dengan “orang yang sama”, yang “cocok”.

Tara Basro yang bermain di empat filmnya JA (bukan Denny) A Copy of My MindPengabdi SetanGundala, dan Perempuan Tanah Jahanam. Fachri Albar dalam Kala, Pintu Terlarang, dan tentu za Pengabdi Setan. Pun, beberapa aktor yang saya tahu pernah terlibat projek dengan JA kembali dihadirkan dalam GITC ini.

Sebut saja Endy di Pengabdi Setan (saya akan spill kalimat spoiler Pengabdi Setan di akhir), Arswendi yang sebelumnya juga berperan sebagai Pak Ustas di Pengabdi Setan, Bront Palarae (Bapak Pengabdi Setan), Rio Dewanto dalam Modus Anomali, dan Morgan Oey yang sebelumnya juga berperan dalam Pengepungan di Bukit Duri.

Oh iya, saya tidak akan kecewa karena tidak ada pemeran perempuan di sini. Biar saja, wong jalan ceritanya begitu.

 

Sinopsis

Film ini mengambil latar di penjara, dengan segala kehidupan di dalamnya, yang tak berbeda dengan kehidupan kita di luar penjara.

Segala macam kelas sosial muncul, hierarki dipadatkan, dan kuasa dipertontonkan tanpa tedeng aling-aling.

Banyak tahanan berasal dari background yang berbeda juga. Gangster, maling kelas coro, mafia, dosen, sampai penipu telepon (diperankan Danang) pun ada.

Penjara ini terdiri dari (entah jumlahnya), namun yang terpenting adalah ada 2 blok yang paling menonjol. Yaitu Blok C, tempat semua peristiwa mengerikan terjadi, dan saya anggap C itu coro. Lalu Blok K (saya dan banyak orang anggap blok-nya koruptor), yang di dalamnya lebih terlihat seperti kos-kosan eksklusif.

Tentu saja, satu diantara penghuni penjara blok K itu bernama Prakasa Kitabuming. Maaf, saya gak akan menyebut JA berani-berani amat karena nanti kita bahas~

Kehidupan di dalam penjara cukup ugal-ugalan, bahkan saling bunuh pun tak apa. Setidaknya, ada dua geng yang menonjol dari penjara itu. Ada geng Anggoro (yang masuk penjara karena mencuri di rumah perusak lahan yang didemo dan merugikan masyarakat), dan ada juga geng Rendra, mafia narkoba yang tentu saja di-backing oleh para sipir dan kepala penjara.

Di awal, penjara itu memperlihatkan dengan gamblang tentang negeri yang penuh kriminalitas, gaduh, dan terlalu mudah diprovokasi, seperti Konoha~

Sampai akhirnya, kehadiran Dimas (Endy), seorang wartawan yang divonis akibat diduga membunuh bosnya (pemimpin redaktur) dengan sadis muncul di penjara itu.

Semenjak kemunculan Dimas, terjadi satu per satu kematian yang cukup menyeramkan, tapi bukan di situ letak asyiknya.

 

Penokohan yang Brilliant

Sebagai komentator film, begitu saya dan si doi yang membelikan saya popcorn se-abreg itu selesai menonton, kami langsung mendiskusikannya. Ketika pertanyaan itu sampai kepada saya, saya dengan lantang menjawab,

“Aku suka banget deh sama penokohannya!”

“Kenapa kamu bilang begitu?”

Begini.

Aming, Mike Lucock, dan Yoga Pratama hadir sebagai favorit saya pada film GITC ini. Alasannya? Sederhana sekali. Sutradara seperti JA begitu cermat menempatkan para aktor menjadi suatu karakter. Aming (sebagai Toke), dalam film ini dibuat se-mengerikan mungkin. Bahkan, di awal film, saya bergidik dan mundur sedikit dari kursi saya melihat Aming memegang pisau kecilnya. Kengerian itu berubah menjadi ketakjuban tatkala karakter Toke ditampilkan sebagai seorang homoseksual yang begitu “problematik”. Saya tidak mengatakan homoseksual itu problematik, ya. Saya membicarakan Toke.

Aming, yang saya kenal sejak Extravaganza belakangan sempat menghebohkan dunia digital dengan penampilannya di siniar Denny Sumargo. Saya sempat melihat siniar itu dan kemudian muncul kembali Aming di podcast Melaney Ricardo dan berbicara kehidupan dan trauma seksualnya. Akting Aming benar-benar luar biasa di sini, membuat saya semakin yakin bahwa spektrum seni peran Aming memang gak bisa diremehkan!

Toke, adalah seorang homoseksual yang begitu nafsu pada Dimas. Nafsu yang menyeramkan dan cenderung melecehkan. Intimidasinya sudah dimulai dari tatapan mata Toke kepada Dimas sejak pertama datang ke penjara. Toke begitu gila seks di film ini, dan gila. Sayang, Toke harus dibuat mati di awal film. Tahu kematiannya karena apa?

Di toilet, Toke mati ketika menuliskan kata “kont*l” yang itu artinya, ia begitu “memikirkan” kelamin, dan menjadi sangat relate ketika saya mengetahui Aming bercerita di siniar Densu dan Melaney sebelumnya. Ketika Toke mengukir kata “kont*l” itu, ia lantas didatangi oleh “makhluk” yang akhirnya membunuhnya.

Setelah beberapa kematian, baru lah penonton dibuat paham bahwa “amarah” adalah pemicu kehadiran “makhluk pembunuh” itu. Bayangkan betapa terkejutnya saya ketika mengetahui itu dan melihat korelasi tokoh Toke dan Aming.

Selanjutnya, Mike Lucock (pria berpeci). Saya lupa dan saya sempat bilang pada doi,

“Dia itu yang main Para Pencari Tuhan, kan?”

Namun setelah saya telisik lagi, ternyata Mike Lucock memang sering muncul sebagai pria berpeci di beberapa sinetron, tapi bukan Para Pencari Tuhan, Bor~ Karakter Mike Lucock sebagai “pria berpeci” sudah sangat melekat di kepala saya, dan barulah saya ingat perannya di sinetron Jodoh Wasiat Bapak yang sering saya tonton bersama Bapak saya. Ahihi. Pun, kalau tidak salah, Mike Lucock pernah juga loh main film sebagai seorang Islam fanatik, tapi saya lupa judulnya.

Maksud saya, JA begitu piawai menempatkan tiap aktor dengan penokohannya, sebab semuanya terasa begitu familiar!

Terakhir, Yoga Pratama. Sebelumnya, saya sempat mengulas film 3 Doa 3 Cinta dan Kabut Berduri. Yoga Pratama juga pemainnya. Film Kabut Berduri  menempatkan Yoga Pratama sebagai karakter berketurunan suku Dayak. Di film ini pun, Yoga Pratama dinarasikan sebagai seseorang yang “dekat dengan dunia spiritual”, “indigo”, atau “bisa melihat aura”.

Six, nama tokoh yang diperankan Yoga Pratama adalah seorang atheis, yang untuk saya yang sudah menonton Kabut Berduri cukup cerdas pula JA ini. Suku Dayak, sama seperti suku asli Indonesia lainnya, memiliki agama yang berfokus pada arwah leluhur, dan untuk peran Six, ini bukan main-main. Ayah Six dikisahkan seorang dukun,  Ayah Six dikisahkan seorang “dukun”, yang tentu kita semua tahu dukun adalah orang dengan kemampuan spiritual yang tinggi. Meskipun JA (mungkin) tidak memikirkan ini dan hanya kebetulan saja, saya sangat senang dengan penokohannya.

Meskipun di sisi lain familiaritas itu juga menjadi beban karena saya tidak melihat tokoh baru, tapi sejauh ini penokohannya sangat baik!

 

Konflik Horizontal dalam Penjara sama seperti Konflik Horizontal yang Kita Alami

Pembacaan paling terang dari latar film ini pun berkaitan dengan konflik horizontal sebagai kondisi yang sengaja dipelihara. Para penghuni lapas diposisikan saling berhadapan, saling bertahan hidup, menabrak segala moral dan ruang hidup. Padahal, sumber masalahnya muncul dari tokoh yang lain, dalam konteks ini kepala sipir yang diperankan si Bapak Pengabdi Setan.

Bukankah kita semua sangat relate dengan premis ini? Pertengkaran yang dibuat-buat “orang berseragam” pun sangat identik.

Mekanisme “mudah diadu-domba” “mudah ditakut-takuti” sering juga dipakai aparat melalui narasi dan distribusi informasi yang timpang.

Ketika akses timpang dan terbatas, maka sudah pasti ketakutan dan emosi menjadi mata uang utama. Orang bereaksi bukan berdasarkan fakta, melainkan berdasarkan narasi buzzer yang disebar, yang sejauh ini, bekerja paling efektif menyulut amarah. See? GITC cerdas membaca psikologi massa.

 

Mise en Scene  dalam GITC

Tokoh tertentu hadir melakukan sebuah gerakan yang “termotivasi” dan “beralasan”.

Contoh paling jelas terlihat pada Lukman Sardi, yang berbicara ketika sudah chaos,  seperti “dosen memberi pelajaran”. Tiba-tiba saja menjadi smart dan memberikan pelajaran moral, memetakan persoalan, dan memberi kesimpulan. Lengkap dengan sinematik cahaya di balik penjara yang gelap! Uhuy!

Tokoh kepala lapas juga buat saya menarik. Kepala lapas yang selalu menerima uang sogokan pun perannya begitu dekat dengan figur birokrat yang kita kenal. Setiap kehadirannya, kepala lapas selalu diceritakan sedang “mencuci tangan”. Mudah dibaca, tapi bermakna!

 

Yang Menurut Saya Kurang Pas

Dibalik ketakjuban saya, ada beberapa hal yang menurut saya tidak pas saja, misalnya adegan yang menunjukkan Anggoro waktu dibesuk oleh anak-anaknya. Somehow, dialognya sangat tidak natural. Anggoro sudah lama di penjara, dan si anak bercerita tentang si Ibu yang sering pergi-pergi bersama seorang lelaki.

Persoalan yang cukup mengganggu tokoh anak sekolah berbicara dengan kelancaran dan kesadaran yang terlalu dibuat-buat. Kalimat seperti,

“Hati Ibu kayaknya luluh deh,”

Buat saya terdengar bukan sebagai ujaran spontan seorang anak, tapi ya dihapal dan ditulis oleh orang dewasa. Masalah dialog semacam ini penting karena bahasa adalah fondasi kepercayaan penonton. Sekali telinga merasa palsu, emosi ikut menjauh.

Penamaan “Kitabuming” pun  menarik dibahas. Sisanya tidak usah saya jelaskan. Pemilihan nama itu tidak salah, tapi ya cukup menarik sebagai konsep saja. Padahal “Buming” “Buming” yang kita tahu bukan seorang aktivis. Akan lebih menarik kalau tokoh “Kitabuming” itu diganti menjadi “Zon” atau “Sudjatmiko” misalnya.

Lagipula, di ujung film, bulshit sekali itu kalimat,

“Dari sekian banyak paopexioarmxchsxasnm yang ada, cuma tinggal 10% nih yang jujur?”

Argh! Kenapa harus ada kalimat itu?! Kesannya jadi seperti menghindari kalau suatu saat di-takedown karena membawa nama “Kitabuming” ☹

 

Bayang-Bayang Industri Nikel

Masuknya isu industri nikel yang didalangi Prakasa Kitabuming memberi konteks yang krusial. GITC nampaknya sadar bahwa kekerasan sosial sesekali harus dibawa ke layer lebar. Perebutan sumber daya, investasi, dan jadi aktivis kemarin untuk menjadi pemangku kebijakan ini hari juga layak ditampilkan di bioskop.

Sayangnya, isu itu hadir sebagai penanda zaman tok, belum sebagai mesin konflik yang sungguh memengaruhi tindakan tokoh-tokohnya.

Alasan inilah yang membuat saya menyenangi film GITC ini, namun tidak seperti saya menyenangi A Copy of My Mind.

Dialognya juga terlalu penuh, tidak berjalan smooth. Meskipun begitu, film ini tetap layak disaksikan dan cocok jadi hiburan saya, tapi mungkin bukan film yang membuat kita searching “kejahatan industri nikel” habis nonton filmnya. Ya tapi tetap layak diapresiasi!

Di beberapa waktu, saya menyebut,

“Eh, kayaknya itu si Dimas di Pengabdi Setan 3 jadi wartawan, deh.”

“Kenapa?”

“Itu kan tadi ada dialog, ‘Tolong saya, saya cuma wartawan! Setiap hari juga saya mikir adik-adik saya dikasih makan apa kalau saya di sini?!”

“Emang orang tua kamu ke mana?”

“Orang tua saya udah meninggal dua-duanya, kena banjir.”

Ya, itu lah dia. Kematian-kematian dan adegan pembunuhan di pertengahan hingga akhir film terasa begitu tergesa-gesa. Padahal, di awal, film menunjukkan alasan yang baik bahwa “amarah dan kesedihan bisa membunuhmu.” namun, sejak pertengahan sampai akhir film, hal tersebut nampaknya tak begitu berpengaruh, “Jaga Kedamaian Bersama” seperti yang diperlihatkan di akhir film.

 

Terakhir …

Sepertinya Joko Anwar juga ingin melawan kanonisasi aktor supaya gak ada kalimat semacam,

“Reza lagi Reza lagi.”

Beberapa aktor justru tampil dengan spotlight yang tepat. Sekali lagi, brilliant!

 

Author

  • Arini Joesoef

    Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | romabet giriş | romabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | jojobet giriş | casino api | betnano | ultrabet | ultrabet | hiltonbet giriş | hiltonbet | malatya web tasarım | betasus | betasus giriş | betasus | grandpashabet | grandpashabet giriş | jokerbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | grandpashabet | royalbet | royalbet giriş | yakabet | yakabet giriş | timebet | timebet giriş | galabet | galabet giriş | elexbet, elexbet giriş | Elexbet | Elexbet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | perabet | perabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | royalbet | royalbet giriş | roketbet | grandpashabet | royalbet | galabet | galabet giriş | galabet | romabet | romabet giriş | galabet | galabet giriş | romabet güncel giriş | how to create invoices | how to create an invoice | how to pronounce | how to pronounce nguyen | how to pronounce pho | hiltonbet | hiltonbet giriş |