Gendakan

Dua insan yang tidak terikat hubungan pernikahan baru saja menyelesaikan pelepasan setelah kurang lebih satu jam bergelut di atas ranjang.

“Makasih Sayang, malam ini Mas puas.”

Kedua manusia itu kini duduk bersebelahan bersandar pada kepala ranjang dengan tubuh sama-sama telanjang yang hanya ditutupi oleh selimut.

Tiur, si wanita menyandarkan kepalanya di bahu sang pria, “Sama-sama, Mas. Mas juga malam ini staminanya kuat sekali, padahal kita baru selesai kerja jam sebelas.”

Wisnu, laki-laki itu mengusap kepala wanitanya dengan sayang, “Selarut apa pun pulangnya, asalkan setelah itu tidur bersamamu, lelah itu akan hilang, Sayang.”

Tiur merangkul sebelah lengan Wisnu dengan manja, ia sedikit menggesekkan hidungnya di sana, “Mas, Senin jangan persulit pekerjaanku ya, ‘kan malam ini Mas sudah aku bikin puas.”

“Iya, Sayang, kamu tenang saja, Mas jamin Senin kamu tidak akan keteteran seperti hari ini.”

Wisnu adalah atasan Tiur di kantor. Sudah lama keduanya menjalin hubungan gelap, tidak ada yang tahu, kecuali mereka dan Tuhan. Itu yang mereka kira.

“Mas, besok temani jalan-jalan, ya? Aku ada beberapa barang yang ingin dibeli,” ucap Tiur yang masih bergelayut manja di lengan Wisnu.

“Maaf Sayang, Mas tidak bisa temani, besok sudah ada janji dengan Nimas,” jawab Wisnu kemudian mencium kepala Tiur, menghirup aroma sampo yang bercampur keringat hasil pergulatan panas mereka malam ini.

Tiur melepaskan rangkulannya pada tangan Wisnu dan menatap lelakinya tidak suka, “Nimas? Wanita mana lagi itu, Mas?”

“Hei, tenang, Sayang,” Wisnu menggenggam kedua tangan Tiur dan mengusap punggung tangannya secara lembut dengan ibu jarinya, “Nimas itu istriku, Sayang.”

Tiur mengerucutkan bibirnya, “Ya sudah, kalau begitu berikan ATM milikmu, akan kukuras semua hartamu.”

Wisnu mengambil ATM berwarna hitam di dompetnya, “Kuras hartaku, Sayang, kalau bukan kamu, siapa lagi?”

*

“Mas, baru sampai?”

Nimas membukakan pintu saat tahu suaminya baru saja pulang.

Wisnu mengecup kening istrinya selama beberapa detik, “Maaf ya, semalam Mas tidak pulang. Mas tidur di kantor.”

“Loh, kenapa minta maaf? Aku ‘kan sudah pernah bilang, kalau pulangnya larut malam, Mas tak apa tidur di kantor, daripada memaksakan pulang, malah bahaya untuk diri Mas sendiri.”

Wisnu memeluk istrinya dan mendaratkan dagunya di bahu sang istri. Ia memejamkan mata, seolah lelah karena sudah bekerja hingga larut malam.

Nimas membalas pelukan suaminya dan mengusap kepalanya dengan sayang, “Mas pasti lelah, ‘kan? Lanjut istirahat gih di kamar, nanti siang baru kita ke rumah Mama.”

“Hm,” Wisnu tidak membalas ucapan Nimas, malah menghirup rakus aroma leher sang istri.

“Mas?”

“Iya, Dek, Mas istirahat dulu, ya. Nanti bangunkan saat jam makan siang.”

Wisnu melepas pelukannya pada sang istri dan kembali mencium kening Nimas selama beberapa detik lalu diakhiri dengan mengecup singkat bibir istrinya.

Nimas menatap punggung suaminya yang semakin menjauh. Di balik punggung tegapnya, tersimpan rasa lelah karena sudah bekerja sampai larut malam.

“Kasihan suamiku, pergi pagi pulang pagi. Semoga lelahmu menjadi lilah, ya, Mas.”

Setelah memastikan suaminya beristirahat dengan tenang, Nimas kembali ke dapur menyiapkan makan siang sekaligus barang-barang apa saja yang perlu dibawa ke rumah Mama.

*

“Mas, kapan kamu menceraikan Nimas?”

Tiur duduk menyamping di pangkuan Wisnu dengan tangan membuat pola abstrak di dada sang pria. Saat ini keduanya berada di ruangan Wisnu. Sesuai apa kata Wisnu setelah mereka melakukan kegiatan panas malam itu, hari ini pekerjaan Tiur tidak sebanyak sebelumnya.

Wisnu memperlihatkan cincin yang melingkar di tangannya, “Lihat Sayang, Mas sudah terikat dengan Nimas, tidak mungkin Mas ingkar dengan janji yang sudah Mas ucapkan di hadapan penghulu saat itu.”

Wisnu pusing, bingung memikirkan kelanjutan hubungan gelapnya dengan Tiur. Di satu sisi ia sudah mempunyai Nimas, tapi disisi lain, dia juga tidak mau berpisah dengan Tiur.

“Mas, kalau kamu tidak mau menceraikan Nimas,” Tiur membenarkan posisi duduknya, kali ini lebih merapat lagi, “Aku ikhlas jadi yang kedua, walau berat rasanya, tapi tidak apa-apa, yang penting kita bisa bersama.”

Wisnu menangkup pipi Tiur dengan kedua tangannya, ditatapnya lekat-lekat mata wanitanya itu, “Sayang, Mas akui, Mas cinta sama kamu, tapi Mas tidak berani mengingkari janji suci.”

“Mas,”

“Sabar sebentar ya, Sayang. Mas juga sedang memikirkan hubungan kita kedepannya, mau putus atau terus.”

Wisnu menyatukan kening mereka. Keduanya sama-sama memejamkan mata. Memikirkan hubungan kedepannya akan seperti apa.

“Kalau aku hamil, bagaimana, Mas?” Tiur lebih dulu melepaskan penyatuan kening dan menatap atasannya, meminta kejelasan.

“Sayang?”

“Bukan tidak mungkin, setiap kita berhubungan, Mas tidak pakai pengaman, dan Mas selalu keluar di dalam.”

Wisnu merengkuh tubuh wanitanya, disandarkannya kepala sang wanita di dadanya. “Nanti kita pikirkan lagi, ya.”

“Sampai kapan, Mas? Sampai kapan kita seperti ini terus? Aku juga butuh kepastian.”

Wisnu tak membalas ucapan Tiur, dia malah semakin mengeratkan rengkuhannya.

“Kamu mau apa? Perpanjang kontrak, atau belanja sepuasnya? Semua bisa Mas turuti, tapi tidak dengan yang satu itu,” ucap Wisnu setelah keheningan menyelimuti keduanya selama beberapa saat.

“Aku mau waktumu, Mas. Aku mau waktumu hari ini hanya untukku, tidak boleh berbagi dengan Nimas.”

“Boleh, Sayang. Boleh keluar asal jangan diposting, boleh sayang asal jangan minta kepastian.”

Tiur memutar kedua bola matanya, ia memukul manja dada Wisnu, “Ya beginilah umumnya barang selundupan, risiko jalan sama suami orang.”

 

Tidak seperti malam sebelumnya, malam ini Wisnu pulang ke rumah. Padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam, entah apa yang membuat pria hidung belang itu memilih pulang dari pada tidur bersama kekasih gelapnya.

Sebelum masuk rumah, Wisnu merasa ada yang berbeda, koper besar sudah berdiri di depan pintu, lengkap dengan beberapa barang pribadinya.

Wisnu seperti terkena serangan panik dadakan, ia mengetuk pintu dengan tidak sabar, “Dek! Dek, buka pintunya, ini maksudnya apa?”

Tak lama pintu terbuka, menampilkan Nimas dengan wajah sinisnya dan kedua tangan dilipat di depan dada, “Tumben langsung pulang, tidak check in dulu di hotel? Uangnya sudah habis atau kurang, Mas?”

Wisnu tegang mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir istrinya. Ia panik, takut perselingkuhannya selama ini terbongkar.

“Maksudnya apa, Dek? Mas loh baru pulang, malah mendapatkan hal seperti ini.”

“Ke mana si perempuan yang hampir setiap malam kamu ajak tidur di hotel itu? Sedang jalan dengan pria lain, atau kamu sudah tidak mampu membayarnya?”

“Dek! Bicara apa kamu ini?!”

Nimas mengangkat sedikit ujung bibirnya, “Hotel yang setiap malam tempat kamu check in, itu milikku, tidak mungkin aku tidak tahu kelakuanmu selama ini.”

Wisnu terkejut mendengar ucapan istrinya. Dia baru tahu kalau istrinya pemilik hotel yang selama ini tempat tidurnya bersama Tiur.

“Tidak perlu di hotel deh, kantor tempat kamu bekerja itu, milik sepupuku, dan tidak ada karyawan kecuali satpam yang menginap di kantor, apalagi sampai berhari-hari, jadi apa yang mau kamu sembunyikan dari aku, Mas?”

Seperti tersengat listrik dadakan, Wisnu rasanya tegang, panik, takut semua bercampur menjadi satu.

Pria itu lalu menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh dan meminta maaf kepada istrinya, “Dek, maaf, Mas khilaf.”

“Tidak ada perselingkuhan yang terjadi karena khilaf, Mas. Selingkuh juga butuh effort, pergi chek in, jalan bersama, mengeluarkan banyak uang, bahkan black card milikmu, kamu berikan ke perempuan itu, kan? Kalau sudah seperti ini, apa masih pantas kamu ngomong khilaf?”

Seolah tertampar dengan ucapan istrinya, Wisnu membisu, entah ke mana perginya Wisnu kemarin. Wisnu yang berani bermain api di belakang istrinya, Wisnu yang berani menafkahi secara lahir batin simpanannya, menggunakan harta milik Nimas.

“Ingat, Mas, kamu bukan siapa-siapa kalau tidak ada aku.”

Memang benar, tanpa Nimas, Wisnu bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang laki-laki desa yang merantau ke kota, lalu bernasib baik. Bertemu Nimas yang berasal dari keluarga berada hingga akhirnya mereka menikah.

Malam ini menjadi malam terakhir Wisnu menjadi pria kaya, karena nanti setelah hari berganti, Wisnu akan kembali ke Wisnu yang sebelumnya.

Tidak ada harta berharga yang dibawa Wisnu, kecuali baju dan ponsel. Malam ini, suami yang baru saja diceraikan istrinya itu, akan kembali ke desa, menyesali perbuatannya yang telah menyia-nyiakan istrinya.

Asal Kebumen. Instagram @rtmeyl

2 thoughts on “Gendakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!