Gema di Perut Bumi

Gema di Perut Bumi

 

Di lorong sunyi Gua Pindul

air mengalir seperti waktu yang bersujud,

menyentuh batu-batu purba

yang diam namun penuh makna.

 

Langit tak tampak,

namun cahaya menetes dari celah gelap,

mengajari hati membaca tanda,

bahwa terang tak selalu di atas.

 

Perahu karet meluncur perlahan,

menyusuri doa-doa yang terpendam,

setiap tetes menjadi zikir,

setiap riak menjadi tafsir.

 

Lalu terdengar gema,

bukan sekadar pantul suara,

melainkan panggilan batin

yang berulang hingga jiwa terjaga.

 

Di dalam sunyi yang memeluk,

aku belajar mendengar yang tak terucap,

bahwa alam adalah kitab terbuka,

dan gua ini, lembar yang mengajak renung.

 

Gunungkidul, 24 Maret 2026

 

 

 

Arah yang Tak Dibengkokkan

 

Ia berdiri di ruang yang ramai,

di antara suara yang gemar mengukur perempuan.

 

Muruah baginya bukan slogan,

melainkan kompas kecil

yang tak kehilangan utara.

 

Ia tak berteriak,

namun juga tak mundur;

menolak yang menindas,

tanpa menanggalkan adab.

 

Perjuangannya bukan legenda,

melainkan keberanian yang berulang setiap hari.

 

Dan ketika banyak nilai dibenturkan,

ia tetap tegak

menjadi arah

yang tak bisa dibengkokkan.

 

Tanjung Priok, 21 April 2026

 

 

 

Etalase yang Menyala

 

Pagi datang membawa kabar dari pasar;

cabai menggantung sebagai grafik merah yang memanjat dinding pikiran pemilik warteg, sementara minyak menetes pelan seperti cemas yang tak selesai dihitung di sudut nota belanja.

 

Ia membuka etalase seperti membuka harapan,

Di seberang jalan, spanduk-spanduk baru tumbuh bak bunga musim panas, lebih terang, lebih nyaring; sendok-sendok mereka beradu diam-diam memperebutkan lapar yang sama.

 

Maka resep diwarisi seperti silsilah keluarga.

Sayur asem dirawat agar tak lupa jalan pulang,

sambal dijaga seperti janji lama,

sebab pelanggan datang bukan hanya membeli kenyang, melainkan mengenang sesuatu yang akrab di lidah.

 

Di dapur sempit yang berembun, waktu berubah menjadi pemburu.

Ikan, nasi, dan sayuran berlari mengejar siang, sementara dingin kulkas bernegosiasi dengan basi tentang siapa yang lebih dulu merebut hari.

 

Senja pun tiba dengan untung setipis rempeyek.

Etalase itu tetap menyala, seperti perahu kecil yang enggan karam di arus harga. Sebab di balik piring-piring sederhana, ada orang-orang yang bertahan hidup dari dompet yang terus melesak.

 

Koja, 8 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!