

Sebagai pemuda asli Lamongan yang kemudian menikah dengan gadis Mojokerto, awalnya saya kira hidup akan baik-baik saja. Toh, Mojokerto dan Lamongan cuma tetangga. Perbatasannya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam, seperti Cikampek dan Purwakarta. Tidak perlu paspor dan tak harus menyertakan fotokopi KTP.
Ternyata, menikah dengan tetangga kabupaten pun bisa membuat saya kena culture shock. Iya, meski secara administratif dekat, tapi rasanya seperti pindah budaya. Ada saja yang berbeda. Entah soal kuliner, pemaknaan, cara pandang, atau cara komunikasi.
Beberapa bulan terakhir, saya bolak-balik Lamongan–Mojokerto, dan setiap kali saya menginjak tanah Mojokerto, kepala ini selalu dipenuhi satu pertanyaan:
“Kok bisa, sih, cuma beda satu kabupaten, rasanya beda banget?!”
Secara tampilan, Mojokerto memang lebih mulus. Jalanan di desa pun aspalnya layak dan tidak menguji suspensi kendaraan. Arsitektur kotanya juga serba bata merah a la-a la Majapahit. Tapi bukan itu yang bikin saya kaget. Yang bikin saya syok adalah: penggunaan bahasa krama yang masif.
Lamongan Keras, Mojokerto Lembut
Saya dibesarkan di Utara Lamongan, daerah dengan karakter masyarakat yang ceplas-ceplos, to the point, dan intonasi bicara yang keras. Maklum, kami terbiasa ngobrol diiringi suara ombak, alhasil kebiasaan komunikasinya juga demikian. Weee! Pantura mana suaranyaa?!
Bahasa sehari-hari yang dipakai pun Jawa Ngoko. Bahkan ke orang tua pun, saya tetap pakai ngoko. Bukan karena kurang ajar, tapi ya memang begitu adatnya. Misal, ketika saya nyuruh bapak untuk makan, cukup bilang,
“Pak, mangan!” saja tentu gak dianggap kasar. Di sana, itu biasa. Tidak ada yang baper, tidak ada yang tersinggung. Semua baik-baik saja.
Tapi di Mojokerto? Wah, beda cerita. Bahasa krama bukan cuma pelajaran di buku Pepak, tapi memang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya ketika bicara dengan orang tua. Bahkan ngobrol santai sama saudara ipar pun kadang masih pakai bahasa krama.
Jujur saja, saya kelabakan ketika harus ngobrol dengan mertua. Bukan malah berbicara, tapi saya harus berpikir mendalam, mengingat kosa kata, menyusun ulang gramatika, kemudian mengolahnya agar terlihat natural. Alami. Meski, dalam praktiknya, seringkali saya cuma bisa menjawab dengan senyuman dan diksi andalan mas-mas seperti saya, “Oh, nggeh”.
Saya ingat, pernah mertua saya nanya,
“Kakak njenengan mantun simah?”
Saya cuma bisa bilang, “Hah?”
Untung istri saya sigap menjadi translator dadakan. “Simah itu nikah”, begitu katanya. Setelahnya saya baru bisa menjawab. Dari sana, keluarganya jadi paham kalau saya tidak bisa bahasa krama.
Bahasa adalah Perjuangan
FYI, dalam Bahasa Jawa, tingkatan bahasa itu banyak. Ada ngoko (kasar), madya (sedang), krama (halus), dan krama inggil (halus banget, seringnya dipakai buat ngomong sama raja). Setiap kata punya padanan berbeda tergantung konteks dan lawan bicaranya, yang paling celaka, saya gak pernah hafal.
Pernah juga ketika mertua saya ingin memberi nasihat pernikahan, karena tahu saya tidak terlalu paham bahasa krama, ia seperti penuh effort menggunakan diksi yang dipilah agar saya paham. Bahkan memakai campuran bahasa Indo dan Jawa ngoko. Saya cuma tertawa pelan.
Meski begitu, saya paham satu hal: ini semua soal adaptasi. Pindah rumah setelah menikah itu wajar. Tapi pindah budaya? Itu tantangan. Saya jadi belajar, bahwa menikah bukan cuma menyatukan dua keluarga, tapi juga dua kebiasaan, dua logat, dan dua dunia kecil yang sebelumnya tidak pernah saling tahu.
Nikah itu Nggak cuma Tentang Cinta
Sekarang, saya pelan-pelan belajar bahasa krama. Nggak ingin yang casciscus fasih dan tartil, sih. Setidaknya gak template “Nggeh?” tiap diajak ngobrol saja.
Saya sadar, nikah itu bukan cuma soal cinta, tapi juga soal kesiapan beradaptasi.
Jadi buat semuanya, terutama orang Lamongan yang berencana menikah dengan orang Mojokerto, saya cuma mau bilang satu hal: siap-siap. Bahasa bisa jadi rintangan pertama. Tapi tenang saja, semua bisa dipelajari. Kita hanya perlu adaptasi.
Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!