Gas Desa, Tradisi Blora, dan Pesta CEO Al Gen-Z

Sasi selo ini, Blora terasa sibuk sekali. Selo adalah nama bulan dalam penanggalan Jawa. Tepatnya bulan Dzulqaidah jika dalam penanggalan Hijriyah.

Hampir tiap hari, ada saja desa yang mengadakan Gas Desa. Gas Desa ini cara bacanya ‘Gas Deso’ dengan o seperti odong-odong. Yakni sebuah ritual sedekah bumi yang dilaksanakan sebagai penghormatan terhadap bumi. Rasa syukur karena panen berlimpah.

Semua desa di Blora, sepertinya memiliki jadwal Gas Deso yang tidak sama. Jika hari itu berlangsung Gas Desa, maka akan ramai sekali. Seringkali ada pawai gunungan, barongan, atau tontonan lainnya seperti ketoprak dan campursari. Kegiatan ini hampir sama sih dengan acara sedekah bumi di tempat lain.

Yang unik dari Gas Desa Blora, adalah, setiap desa yang sedang berlangsung Gas Desa, maka warganya seperti sedang berhari raya. Mereka menyiapkan makanan di rumah masing-masing, lalu mengundang teman, kerabat, rekan bisnis, dan semua kenalannya untuk makan. Desa itu menjadi sungguh sibuk. Orang akan berdatangan makan dari rumah ke rumah. Seolah-olah itu ‘hari raya kedua’ bagi masyarakat Blora.

Sebagai guru, saya pun mendapat undangan makan dari beberapa rekan kerja dan orang tua murid. Bahkan saya mendapat cerita dari teman saya yang mengajar di sekolah lain, beliau satu hari mendapat 16 undangan.

“Saya sampai nggak bisa makan, Bu!” ceritanya sambil tertawa. Menarik sekali. Bayangkan, kalau di musim pernikahan, kita sehari pergi ke dua-tiga tempat saja sudah kekenyangan. Itu sampai 16 rumah. Sungguh makmur sekali kan masyarakat Blora?

Gas Desa memang dilakukan seperti itu.  Mereka meyakini bahwa cara bersyukur atas hasil bumi yang berlimpah dengan berbagi. Makanan yang disajikan pun bervariasi. Mulai dari sayur lodeh, ayam ingkung, ikan panggang, sampai menu ramesan. Semuanya tergantung kemampuan masing-masing, dan tidak ada patokan khusus.

Selain itu, dihidangkan pula jajanan khas Jawa seperti bugis, lemper, gemblong dan kawan-kawannya. Namun sebagai ikon khasnya, yakni dumbeg dan pasung. Dumbeg terbuat dari tepung dan gula merah yang dibungkus janur. Rasanya manis, bentuknya lucu karena panjang seperti teropong kecil. Pasung rasanya seperti apem, dibungkus daun pisang dan bentuknya lucu seperti corong mini.

“Pasung itu khasnya Gas Desa. Tiap ada pasung, ya itu berarti lagi Gas Desa,” kata teman saya saat saya pertama kali melihat pasung.

Dari fenomena ini, saya jadi teringat serial dracin atau Drama Cina yang sekarang sedang viral. Kebetulan saya termasuk jamaah Melolo, sebuah aplikasi menonton dracin. Nyaris semua judul, menayangkan adegan pesta.

Kurang lebih adegannya begini:

Seorang CEO mengundang semua kenalannya untuk makan di rumahnya. Alasannya bermacam-macam, kakek sedang ulang tahun, penyambutan calon menantu, syukuran kedapatan proyek besar, bahkan perkenalan anak kandung yang sekian lama hilang. Para tokohnya akan berkumpul di sana menikmati berbagai jamuan. Acara seperti itu bertaburan sepanjang serial. Seolah pesta di rumah sudah menjadi adat bagi kalangan CEO.

Berkali-kali mendapat undangan Gas Desa membuat saya membayangkan diri saya sedang berada di dunia dracin. Teman-teman saya adalah CEO yang menyamar menjadi orang biasa. Tidak ada hajatan besar semacam pernikahan atau apa, tapi berturut-turut mengundang kami semua makan di rumahnya. Saya pikir Gas Desa memberi efek domino, rasa syukur yang beruntun. Tak hanya bagi yang melaksanakan–sebab panen melimpah, namun juga kami sebagai perantau yang tak memiliki desa asal di Blora, tetap bisa merasakan kelimpahan rezeki dari teman-teman baik kami.

Sayangnya, baru-baru ini, ada seorang teman yang melaksanakan Gas Desa dengan cara berbeda. Alih-alih mengundang kami makan di rumahnya, beliau membagi berkatan kepada semua rekan di kantor. Alasannya belum pasti. Mungkin saja beliau sibuk, jadi tak ingin izin kerja sekedar untuk menjamu kami di rumah. Atau beliau menyadari Gas Desanya bertepatan dengan yang lain karena kebetulan dari desa yang sama. Atau memang beliau ingin cara yang praktis. Tinggal pesan berkat, bagi. Beres. Memang teman saya ini termasuk Gen-Z. Jadi tidak bisa saya salahkan kalau pola pikirnya jauh lebih simpel dari yang lain. Yang penting sama-sama bersyukur dengan berbagi. Itu saja sih intinya.

Namun masalahnya, ini merupakan pertanda bahaya. Bayangkan bagaimana jika ada 100 orang Gen-Z di Blora yang mengadakan Gas Desa dengan cara yang sama tahun ini. Bayangkan 10 hingga 15 tahun mendatang. Gen-Z yang melaksanakan Gas Desa akan bertambah. Merekalah yang akan memiliki sawah, bisnis, sekaligus pelaku Gas Desa di Blora dan semuanya memilih dengan ‘berkatan’. Tentunya Gas Desa menjadi tak seriuh sebelumnya.

Hal ini tentu bukan murni kesalahan Gen-Z. Memang mereka memiliki kecepatan adaptasi dengan zaman yang luar biasa. Termasuk solusi praktis untuk tetap melaksanakan ritual adat tapi tetap melaksanakan tugasnya sebagai pekerja. Namun bagaimana pemerintah khususnya Pemerintah Kabupaten Blora memberi perhatian khusus. Mungkin dalam bentuk kelonggaran bekerja pada hari itu. Bisa berupa WFH, atau bisa juga menetapkan hari libur bagi sekolah-sekolah yang desanya bertepatan dengan pelaksanaan Gas Desa.

Kenapa sekolah? Ya, sekarang ini anak-anaklah aset masa depan bangsa. Mereka bibit asli dari Blora. Jika mereka tidak pernah memiliki pengalaman yang tebal tentang adat desanya, lalu siapa yang akan mewarisi ini semua? Jika mereka masih dibuat sibuk dengan sekolah, kapan mereka mulai mencintai jati diri desanya?

 

Gas Desa bukan sekedar ungkapan syukur, menurut saya Gas Desa adalah tradisi serupa api kecil yang hidup dalam inti jiwa sebuah desa. Ungkapan penghormatan dan perlindungan. Bila Gas Desa berubah cara, tidak ada yang aneh, karena kita semua mengalami perubahan. Namun,

Apakah nantinya Gas Desa masih memiliki makna yang sama?

Menulis puisi, cerpen, dan esai di berbagai media. Sekarang mengajar di MIN Blora.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!