

ia memelajari rumus langit
sambil menebak berapa kiranya
jarak antara rindu
dan dendam.
apa sejauh aku dan engkau.
kalau malam tiba,
ia cuma mampu menyangka
bulan tidak mengikuti tubuhnya.
hanya terang benderang di langit sambil
mengecup muka air di sungai tawar
ia menduga di hadapannya ada
masa depan yang rumit. perlu
menghitung, membatasi,
dan menggarisbawahi semua hal
yang dilihat mata.
ia takut memeluk yang lampau.
kau misalnya.
alhasil, ia hanya bergumam
di biliknya yang sempit
tidak mendapat natijah apa pun.
pada kesedihan, ia habis
dilahap kebodohannya sendiri.
Kepong, 2026
ia masih setia menatap langit
berharap doa-doanya masih di atas sana
menari-nari & tetap tak sampai
biarlah semua ucapnya menjadi andai
tidak menjelma apa pun atau diganti
apa pun. supaya aku selalu sentosa,
katanya.
Pasar Seni, 2025
kau boleh mencintaiku
boleh juga tidak
karena yang paling penting
jangan pernah berpura-pura.
kau boleh melupakan
boleh juga tidak
karena yang kutahu pasti
kenangan selalu datang
dalam bentuk lain.
apakah cinta bisa datang dua kali, kataku
apakah cinta belum cukup buatmu luka, katamu.
Gombak, 2026
di matamu
isyarat langit tak terjamah
mengulang masa lalu untuk
kembali menikmati perihnya luka-
luka yang dahulu
di matamu
laut adalah tempat paling dalam
belum disinggahi siapapun.
dan tenggelam: satu-satunya
cara mati dalam pelukan. dingin
membeku.
Gombak, 2026
Biasa dipanggil Azzam. Penikmat teh tarik dan roti canai yang sedang studi di Malaysia. Sibuk membagikan beberapa puisinya di instagram pribadi @azzamdhiaulhaq
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!