

Ketika aku menulis puisi
Aku tersadar, bahwa aku bukan seorang penyair
Ketika penyair datang kepadaku
Ia berkata “bangun, bangun, sudah terlalu lelap.
sedang kata itu mengutuk kantuk”
Ketika aku menulis puisi
Aroma tak sedap dari selokan
Mengayun, melewati batas dinding tembok rumah
Kepada penyair ia menoreh luka
Bau tak melulu hirup di hidungmu
2026
Perlahan saja. Ia sudah saklek menenteng senja
Mubazir, angin sepoi-sepoi membiarkan
Hidupnya diterjang sedemikian rupa
Aroma melati di pinggiran kadang peternak
Bebek, ayam kampung, dan kambing melesat ke pelataran rumahmu
Aku tak lagi berani meringkuk di kamar buluk, penuh sisa-sisa
Pakaian dalam yang dibeli dari hutang negara
Baju zirah nabi Zakaria tak mampu menangkisnya
Perlahan-lahan, aroma melati mulai tertepis bau pakan ternak itu
Hidupnya pun tak lagi menentu
2026
Daun putri malu mengkerut, bersimbah basah
Menelan gundukan tanah di antara ranjang sisa-sisa
Bekas kepala desa yang lumat
; tangan besi di kerikil kanannya menunjuk ke atas
“aku bersumpah, diri ini lebih suci dari inti khuldi”
Pada deretan kursi paling menjorok ke kiri, ia terbius luka lama
Bungkam. Duri dari putri malu, tak tahan
Ia segera mengatup, sempurna, lalu patah seketika
Ternyata tangan besi lebih sempurna mematikannya
2026
bau busuk menusuk-nusuk, menerjang-nerjang
serupa bahtera sepak bola, antara palestina dan gaza yang diserang pemain lama
; zionis keparat, bajingan brutal
Perahu nuh mendarat di persimpangan tanah, tak pasti, akankah ia pulang kembali
Burung gereja yang tak menunggu waktu puja, ia singgah di al-aqsa
Mungkinkah, mungkinkah ini Plantungan atau sederet kampung yang berhamburan
Di telan sunyi, sepi, sendiri.
2026
Bedil, dwarrr..
Aku terpanting jauh dari tanah kelahiran
Bau mesiu, mengendap, di rongga hidup yang tak pernah tidur
Aroma tanah selepas hujan dari kampung itu, mengalir, melewati desir angin malam
Apakah orang sisa sisa, sepertiku, memiliki tanah di tanah kelahiranku?
Saat padi, jagung, dan buah betis melunak
Aroma tanah selepas hujan mengelabuhi, seperti biasanya
Ia tak lagi suka mengeja kata, karena, karena tanahnya tak lagi mengingatnya
Bedil dan mesiu perlahan melantun jauh
Melepuh dan bersimpuh.
Di balik tanah kelahiran, yang hilang.
2026