Gabung Ormek Gak Mubadzir-Mubadzir amat, Kok!

Sebuah esai tandingan terhadap tulisan Kaderisasi Menye-Menye a la Organisasi Mahasiswa

 

Belakangan ini citra organisasi kemahasiswaan—baik organisasi intra kampus maupun organisasi ekstra kampus—memang sedang tidak baik-baik saja. Di media sosial maupun obrolan di kantin kampus, organisasi mahasiswa kerap digambarkan sebagai sarang drama, tempat adu ego, atau arena perebutan jabatan yang lebih ramai daripada ruang diskusi dan media pembentukan karakter.

Tak disangkal bopeng itu memang ada. Namun, sumber masalahnya sering kali bukan terletak pada organisasinya, melainkan pada oknum pengurus yang masih membawa sifat kekanak-kanakan, gemar berkonflik, dan belum cukup dewasa untuk mengelola perbedaan.

Maka, menurut saya, mengutuk organisasi kemahasiswaan secara keseluruhan lalu menganggap bergabung di dalamnya hanya akan membuang waktu adalah kesimpulan yang terlalu terburu-buru.

 

Ormawa butuh Diperbaiki, bukan Dihindari

Logikanya sederhana. Jika sebuah organisasi dianggap bermasalah, bukankah justru orang-orang yang lebih kompeten, kritis, dan peduli yang seharusnya terlibat untuk memperbaikinya?

Rasanya akan sulit kalau berharap ormawa berubah menjadi lebih baik jika mereka yang memiliki kapasitas memilih menjauh dan hanya menggosipkannya dari luar.

Di titik inilah saya teringat pada Plato, yang saya ingat pernah mengingatkan bahwa konsekuensi bagi orang-orang baik yang enggan terlibat dalam urusan publik adalah dipimpin oleh orang-orang yang kurang kompeten.

Dalam konteks kampus, pesan tersebut saya kira juga masih amat relevan. Jika mahasiswa yang punya gagasan dan integritas memilih menghindari organisasi, jangan heran jika ruang-ruang tersebut akhirnya lebih banyak diisi oleh mereka yang sekadar mengejar jabatan daripada membawa perubahan.

Aaka, alih-alih menjauhi ormawa karena kekurangannya, mahasiswa baru atau maba seharusnya bisa melihatnya sebagai ruang untuk belajar sekaligus memperbaiki hal-hal yang selama ini memunculkan berbagai kritik.

 

Manfaatkan Jaringan yang Dimiliki Ormawa

Satu keuntungan yang sering luput dilihat maba adalah jaringan yang dimiliki organisasi kemahasiswaan. Hampir setiap ormawa memiliki alumni yang tersebar di berbagai bidang, mulai dari birokrasi, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga lembaga swadaya masyarakat.

Jaringan ini memang tidak otomatis menjamin kalian langsung dapat pekerjaan setelah lulus kuliah, tetapi amat berguna ketika klaian membutuhkan sumber informasi, mentor, dan referensi yang rasa-rasanya saat ini masih sulit diperoleh jika hanya mengandalkan dari ruang kelas.

Bahkan dari pengalaman saya, banyak alumni ormawa yang tetap membuka ruang diskusi bagi adik tingkatnya. Ketika kebingungan menentukan arah karier, memilih studi lanjut, atau mencari pengalaman magang, mereka sering menjadi orang pertama yang bersedia berbagi pengalaman. Lagi-lagi, bergabung dengan organisasi bukan hanya soal event-event kampus, tetapi juga investasi relasi untuk masa depan.

 

Peluang Belajar yang Tak Ada di Kelas

Jangan mudah terhasut oleh mereka yang kadung sakit hati di ormawa. Kemuspraan saat ikut ormawa mestinya mudah terbantahkan. Lha wong banyak dari pengurus atau alumni ormawa yang menyediakan pelatihan kepemimpinan, kompetisi, program pengembangan kapasitas, hingga akses beasiswa bagi anggotanya.

Hal yang sama juga berlaku pada organisasi ekstra kampus. Tidak sedikit yang rutin mengadakan pelatihan advokasi, kajian kebijakan publik, kepenulisan, hingga sekolah kader secara gratis.

Pengalaman  dan kesempatan semacam ini saya yakin bisa menjadi bekal yang berharga ketika memasuki dunia kerja. Jadi, kalau saya boleh berpendapat: kuliah adalah tempat belajar teori dan organisasi mahasiswa adalah tempat menguji teori tersebut dalam realitas sosial yang ada.

 

Saya bukan Bakul Jamu yang Menjanjikan Khasiat Ormawa

Perlu saya luruskan, sekali lagi saya bukan bakul jamu yang menjanjikan khasiat bagi maba  yang ingin bergabung ke ormawa. Pengalaman saya di organisasi juga bisa dibilang biasa-biasa aja paling mentok ya jadi kepala departemen kajian dan aksi strategi di lingkup rayon.

Namun, saya juga merasa perlu meluruskan cara pandang yang telanjur bengkok terhadap organisasi intra maupun ekstra kampus saat ini.

Bagaimana pun, ormawa bukan sekadar tentang rapat yang sering molor, proposal yang berkali-kali direvisi, atau drama kepengurusan yang kerap bikin emosi. Banyak juga kok jaringan, pengalaman, kesempatan, dan pelajaran yang sering kali baru terasa nilainya ketika masa kuliah telah berakhir.

Jika suatu hari nanti kalian sudah lulus dan merasa ada banyak kesempatan yang terlewat selama menjadi mahasiswa, jangan sampai satu penyebabnya karena tidak mengambil kesempatan untuk gabung di organisasi kemahasiswaan. Sebab di tengah segala kekurangan, konflik, dan stereotip yang melekat padanya, gabung ormek rasanya masih terlalu mubazir untuk tidak dimanfaatkan bagi kalian para maba.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!