(Wawancara ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dedi Sahara, sumber: the Paris Review, interview by Peter H. Stone)

P: Adakah penulis Amerika Latin yang kurang dikenal terutama yang Anda kagumi?

GGM: Saya ragu adakah itu saat ini. Salah satu dampak yang besar dari ledakan dalam sastra di Amerika Latin bahwa penerbit selalu memperhatikan Cortázar. Sayangnya, banyak penulis muda yang mementingkan ketenaran ketimbang karya mereka sendiri. Ada seorang Profesor Perancis di Universitas Toulouse yang menulis tentang sastra Amerika Latin; banyak penulis muda yang menulis surat kepadanya untuk tidak menulis banyak tentangnya karena penulis muda tersebut tidak membutuhkan Profesor lagi dan apa yang dilakukakn orang lain. Tapi apa yang mereka lupakan adalah ketika saya seusia mereka para kritikus tidak menulis tentang saya melainkan tentang Miguel Angel Asturias. Point penting yang saya katakan bahwa para penulis muda telah membuang-buang waktunya untuk menuliskan kritik itu daripada bekerja dengan karya mereka sendiri. Ini jauh lebih penting tinimbang menulis tentang hal tersebut. Satu hal yang saya kira sangat penting tentang karier sastra saya bahwa sampai usia 40 tahun, saya tidak pernah mendapat satu sen royalti penulis, meskipun saya memiliki lima buku yang telah diterbitkan.

P: Apakah Anda berpikir bahwa ketenaran atau kesuksesan yang datang terlalu cepat dalam karier seorang penulis itu buruk?

GGM: Pada usia berapapun itu buruk. Saya akan menyukai buku-buku saya telah diakui secara anumerta, setidaknya di negara-negara kapitalis, meskipun Anda berubah menjadi barang dagangan.

P: Selain favorit Anda, apa yang Anda baca hari ini?

GGM: Saya membaca hal-hal aneh. Saya membaca memoar Muhammad Ali beberapa hari yang lalu. Dracula karya Bram Stoker adalah buku yang bagus, dan salah satu yang mungkin tidak saya baca tahun lalu karena saya pikir akan buang-buang waktu. Namun saya tidak pernah sunguh-sunguh dalam membaca buku kecuali jika direkomendasikan oleh seseorang yang saya percaya. Saya tidak membaca lagi karya fiksi. Saya banyak membaca memoar dan dokumen, meskipun dokumen palsu. Dan saya membaca ulang buku favorit saya. Keunggulan membaca ulang adalah Anda bisa membuka bagian manapun yang benar-benar Anda sukai. Saya kehilangan gagasan suci ini hanya dengan membaca “sastra”. Saya akan membaca apapun. Saya mencoba untuk tetap up-to-date. Saya membaca hampir semua majalah yang sangat penting dari seluruh dunia setiap minggunya. Saya selalu wasapada untuk setiap berita sejak terbiasa membaca di mesin Teletype. Tapi setelah saya selesai membaca semua surat kabar yang serius dan penting, istri saya senantiasa datang dan memberitahu saya tentang berita yang belum saya dengar. Pada saat saya bertanya di mana dia membacanya, ia akan mengatakan bahwa ia membacanya di sebuah majalah di salon kecantikan. Jadi, saya membaca majalah mode dan segala macam majalah untuk wanita dan juga majalah gosip. Dan saya belajar banyak hal setelah membaca mereka. Hingga membuat saya sangat sibuk.

P: Kenapa Anda berpikir bahwa ketenaran begitu destruktif bagi seorang penulis?

GGM: Terutama karena menyerang kehidupan pribadi Anda. Butuh waktu lama yang Anda habiskan dan jauh dari teman-teman Anda, waktu yang hanya dilakukan untuk bekerja. Hal ini cenderung mengisolasi Anda dari realitas. Seorang penulis terkenal yang ingin terus-menerus menulis akan mempertahankan ketenarannya. Sungguh saya tidak ingin mengatakan ini, karena terdengar tidak tulus, tapi sungguh saya sangat suka buku-buku saya dikenal setelah kematian saya, jadi saya tidak harus melewati semua bisnis ketenaran ini dan menjadi seorang penulis besar. Dalam kasus saya, satu-satunya keuntungan dalam ketenaran bahwa saya telah mampu menggunakan politik. Jika tidak, sangat tidak nyaman. Masalahnya adalah Anda terkenal selama dua puluh empat jam sehari dan Anda tidak bisa mengatakan “Oke, saya tidak akan menjadi orang terkenal sampai besok,” atau tekan tombol dan berkata, “Saya tidak akan terkenal di sini atau saat ini”.

P: Apakah Anda juga mengantisipasi keberhasilan yang luar biasa untuk One Hundred Years of Solitude?

GGM: Saya tahu bahwa itu akan menjadi sebuah buku yang akan menyenangkan teman-teman saya lebih dari yang saya miliki. Saat penerbit Spanyol datang kepada saya dan mengatakan akan mencetak buku itu sebanyak delapan ribu eksemplar saya sangat terkejut, sebab buku saya yang lainnya tidak pernah terjual dari tujuh ratus eksemplar. Saya bertanya kepadanya mengapa tidak dimulai secara bertahap, tapi ia mengatakan bahwa ia yakin itu buku yang bagus dan delapan ribu eksemplar akan terjual antara bulan Mei dan Desember. Sebenarnya buku itu terjual dalam kurun waktu satu minggu di Buenos Aires.

P: Kenapa Anda bisa berpikir One Hundred Years of Solitude akan demikian sukses?

GGM: Saya tidak punya gagasan sedikitpun, karena saya seorang kritikus yang buruk bagi karya saya sendiri. Salah satu penjelasan yang paling sering saya dengar bahwa buku itu bercerita mengenai orang-orang Amerika Latin, buku yang ditulis di dalamnya. Penjelasan itu mengejutkan saya sebab upaya pertama saya untuk menuliskan buku itu berjudul The House. Saya ingin seluruh pengembangan novel itu berlangsung di dalam rumah, dan segala sesuatu yang bersifat eksternal hanya dampaknya terhadap rumah. Kemudian saya tidak jadi menggunakan judul The House, tapi setelah buku tersebut masuk ke kota Macondo tidak pernah pergi lebih jauh lagi. Penjelasan lain yang pernah saya dengar bahwa setiap pembaca dapat menciptakan karakter dalam buku yang ia inginkan dan menjadikan mereka. Saya tidak ingin menjadikannya sebuah film, sebab film hanya menampilkan wajah yang mungkin tak pernah bisa dibayangkan.

P: Apa ada kepentingan dalam membuatnya menjadi sebuah film?

GGM: Ya, agen saya memasang harga sebesar satu juta dolar untuk mencegah penawaran dan mereka memperkirakan tawaran itu hingga ia mengangkatnya menjadi tiga juta dolar. Tapi saya tidak tertarik dengan film, dan selama saya bisa mencegah terjadinya hal itu, tidak akan terjadi. Saya lebih suka bahwa itu tetap menjadi hubungan pribadi antara pembaca dan buku tersebut.

P: Apakah menurut Anda setiap buku dapat dialih wahanakan ke dalam film dengan sukses?

GGM: Saya tidak bisa membayangkan sebuah film yang diangkat dari sebuah novel yang baik, tapi saya bisa banyak membayangkan sebuah film yang bagus berasal dari novel yang sangat buruk.

P: Pernahkah Anda berpikiran untuk membuat sebuah film sendiri?

GGM: Ada suatu masa ketika saya ingin menjadi seorang strudara film. Saya belajar menyutradarai di Roma. Saya merasa film adalah media yang tidak memiliki keterbatasan dan di dalamnya segala sesuatu dimungkinkan. Saya datang ke Meksiko karena saya ingin bekerja di film, bukan sebagai direktur melainkan sebagai penulis skenario. Tapi ada keterbatasan besar di dalam film bahwa ini merupakan seni industri, seluruh industri. Ini sangat sulit untuk mengungkapkan dalam sinema apa yang sesungguhnya ingin Anda katakan. Saya masih memikirkan hal itu, namun sekarang sepertinya ada suatu kemewahan yang ingin saya lakukan bersama teman-teman saya tanpa ada harapan benar-benar untuk mengekspresikan diri. Jadi, saya telah bergerak lebih jauh dan semakin jauh dengan sinema. Hubungan saya dengannya seperti sepasang kekasih yang tak terpisahkan, melainkan yang tidak bisa hidup bersama-sama dengan baik. Di antara memiliki sebuah perusahaan film atau jurnal, meskipun, saya akan memilih jurnal.

P: Bagaimana cara Anda mendeskripsikan buku mengenai Kuba yang sedang Anda kerjakaan saat ini?

GGM: Sebenarnya, buku itu seperti sebuah artikel koran yang panjang tentang bagaimanakah kehidupan di Kuba, seperti cara mereka yang berhasil dalam kondisi krisis. Apa yang telah menimpa saya selama banyak perjalanan yang saya ciptakan ke Kuba dalam dua tahun terakhir bahwa blokade tersebut telah membuat Kuba semacam “culture of necessity” di mana situasi sosial di dalamnya membuat rakyat harus hidup dalam kondisi tertentu. Aspek yang benar-benar membuat saya tertarik adalah bagaimana blokade itu telah berkontribusi untuk mengubah mentalitas orang-orang. Kami memiliki bentrokan antara kelas masyrakat yang anti-konsumerisme dengan kelas masyarakat yang memiliki orientasi paling konsumtif di dunia ini. Buku ini telah sampai pada level di mana setelah memikirkannya bahwa itu akan menjadi lebih mudah, suatu karya jurnalistik yang singkat, kini menjadi sebuah buku yang sangat panjang dan rumit. Di samping itu, buku tersebut akan membuktikan melalui fakta sejarah bahwa dunia nyata di Karibia sangat fantastis seperti dalam cerita novel Seratus Tahun Kesunyian.

P: Apa Anda memiliki jangka panjang untuk ambisi atau penyesalan sebagai seorang penulis?

GGM: Saya kira jawaban saya adalah sama dengan yang saya berikan kepada Anda tentang ketenaran. Saya diminta di hari yang lain jika saya akan tertarik Hadiah Nobel, tapi saya berpikir bahwa bagi saya itu akan menjadi malapetaka sepenuhnya. Saya pasti akan tertarik menerimanya, tapi untuk menerimanya itu sangat mengerikan. Itu hanya akan mempersulit bahkan lebih dari permasalahan ketenaran. Satu-satunya hal yang benar-benar saya sesali dalam hidup ini adalah tidak mempunyai anak perempuan.

P: Apa ada proyek yang saat ini sedang Anda lakukan?

GGM: Saya benar-benar yakin bahwa saya akan menulis buku terbesar dalam hidup saya, tapi saya tidak tahu kapan. Ketika saya merasakan hal seperti ini—yang saat ini saya rasakan untuk sementara waktu—saya tinggal sangat tenang sehingga saya bisa abadikan itu.

Profil Penulis

Dedi Sahara
Dedi Sahara
mahasiswa sastra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Bagian dari kelompok belajar Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyyin dan Lingkar Studi Psikoanalisa. Menulis puisi, esai, dan menerjemahkan karya sastra atau artikel ilmiah.