Fix, Nmax adalah Motor Paling Menyiksa

Kalau dilihat dari segi tampilan, Yamaha NMAX memang motor yang gagah. Bodinya besar, desainnya elegan, lampu depannya tajam, dan joknya kelihatan lebar. Dari luar, motor ini memberi kesan bahwa motor ini begitu nyaman.

Minimal, itulah yang dibayangkan orang ketika pertama melihatnya. Tapi percaya lah, kalau urusannya adalah kenyamanan pembonceng, cerita bisa berubah drastis.

Bahkan, menurut saya, jok belakang NMax Neo ini adalah salah satu tempat duduk paling problematik yang pernah diciptakan dalam sejarah permotoran rakyat Indonesia. Agak lebay memang, tapi setelah merasakannya sendiri, saya merasa berhak mengatakan itu.

Jujur saja, saya nggak tahu apa yang dipikirkan desainer Yamaha ketika merancang jok belakangnya. Sepertinya mereka lupa bahwa manusia punya bokong yang sensitif dan tulang punggung yang tidak dirancang untuk duduk seperti patung di atas tiang.

 

Baru mau bonceng saja sudah sambat

Hal pertama yang selalu saya perhatikan adalah momen ketika seseorang mau membonceng NMax. Coba saja perhatikan di parkiran atau pinggir jalan. Orang yang mau naik biasanya terlihat agak kesusahan. Mereka harus mengangkat kaki lebih tinggi dari biasanya, lalu mencari posisi pijakan yang pas. Bagi orang yang tidak terlalu tinggi, ini sudah jadi tantangan kecil sebelum perjalanan dimulai.

Memang sih, NMax termasuk motor bongsor. Wajar kalau sedikit berbeda dengan motor kecil seperti Honda Revo atau Honda BeAT yang lebih rendah dan ramah untuk segala ukuran tubuh.

Masalahnya bukan cuma soal naik. Setelah duduk pun, posisi pembonceng terasa agak aneh. Jok belakang dibuat cukup tinggi, sementara posisi kaki sedikit menekuk. Kombinasi ini membuat duduk lama-lama terasa tidak natural.

 

Ketika turun, rasanya sempoyongan

Saya tidak bicara ini sekadar dari pengamatan. Saya pernah merasakan langsung. Sedikit cerita, saya dibonceng naik NMax Neo dari Kediri menuju Mojokerto. Kalau dilihat di peta, jaraknya lumayan. Perjalanan bisa sekitar satu-dua jam.

Awalnya saya santai saja. Joknya terlihat empuk, motornya juga besar. Dalam bayangan saya, perjalanan bakal nyaman. Ternyata saya keliru. Baru beberapa puluh menit berjalan, badan mulai terasa pegal. Posisi duduk yang tinggi itu membuat punggung terasa tegang. Belum lagi setiap kali motor mengerem atau melewati jalan tidak rata, tubuh terasa seperti digeser sedikit demi sedikit.

Rencana awal sebenarnya Kediri sampai Mojokerto, tapi di tengah jalan saya sudah menyerah. Saya minta berhenti di minimarket untuk gantian menyetir.

Ketika turun dari motor, entah kenapa kaki saya terasa agak sempoyongan. Serius. Rasanya seperti orang baru turun dari wahana Dufan 2 minggu.

Kebetulan yang mengendarai motor waktu itu adalah istri saya. Dia langsung tertawa melihat saya seperti orang pesakitan. Kemudian dengan santai dia bilang,

“Begitulah rasanya selama ini bonceng pakai motor ini.”

 

Nmax Neo memang problematik

Sebenarnya saya tidak tega mengatakan ini, sebab motor ini sering dipromosikan sebagai kendaraan yang nyaman untuk perjalanan jauh.

Kalau yang dimaksud adalah pengendaranya, mungkin benar. Posisi setang, pijakan kaki, dan jok depan memang terasa cukup nyaman. Tapi bagi pembonceng, ceritanya tidak selalu sama.

Padahal di kelas skuter bongsor, beberapa motor lain justru terasa lebih bersahabat bagi penumpang belakang. Misalnya Honda ADV 160 yang menurut saya lebih enak dari segi posisi duduk pembonceng.

Bahkan beberapa orang juga bilang versi terbaru seperti Yamaha NMAX Turbo terasa sedikit lebih nyaman. Meski tentu saja pengalaman tiap orang bisa berbeda. Yang jelas, menurut saya, varian seperti Yamaha NMAX Neo masih menyimpan masalah klasik di bagian jok belakang.

 

NMax memang keren sih, tapi…

Dengan semua keluhan tadi, saya tetap paham kenapa NMax Neo ini begitu populer. Motor ini memang keren. Tenaganya besar, tampilannya mewah, dan cocok dipakai perjalanan jauh. Banyak orang juga menyukainya karena terasa lebih stabil ketika dipakai melaju jarak jauh.

Tapi ada satu catatan penting: nyaman itu sering kali hanya dirasakan oleh pengendaranya.

Sementara pembonceng nasibnya kadang tergantung daya tahan tulang belakang masing-masing. Jadi kalau suatu hari desainer Yamaha membaca tulisan ini, saya cuma punya satu permintaan sederhana, tolonglah jok belakang dibuat sedikit lebih manusiawi.

Jujur saja, dengan desain yang sekarang, kalau disuruh memilih antara duduk di jok belakang NMax Neo atau jalan kaki beberapa kilometer, saya dengan mantab memilih opsi kedua. Setidaknya kalau jalan kaki, yang pegal cuma kaki. Kalau bonceng NMax terlalu lama, yang pegal bisa seluruh sistem saraf tulang belakang, dan itu rasanya jauh lebih melelahkan.

Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!