

Ketika manusia hidup berdampingan dengan gadget, di situlah anomali tercipta menjadi sebuah kebutuhan tren gaya hidup masa kini.
Di era kehidupan manusia yang serba diberi kemudahan teknologi seperti ini, sebenarnya ada banyak kenikmatan yang telah direnggut. Bukan hanya kekasih hati yang bisa diambil, tetapi ketenangan serta kehidupan yang kini diganggu media sosial.
Setiap bangun tidur, gadget menjadi satu-satunya benda yang dulua dicari. Entah itu sekadar melihat jam, scroll Tiktok, atau cek pesan masuk dari gebetan.
Berkaca dari diri sendiri, aku menjadi korban dari paparan gawai. Dikit-dikit pegang gawai, dikit-dikit lihat notifikasi, bahkan ketika menunggu kebab matang. Aku masih pegang handphone. Ada apa sih?!
Secara psikologis, penggunaan gawai, terutama media sosial, dapat memicu pelepasan dopamin—zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang. Notifikasi, jumlah like, hingga konten-konten menarik memantik sensasi menyenangkan yang mendorong kita terus membuka gawai. Fenomena ini dijelaskan dengan konsep Variable Ratio Reinforcement, yakni munculnya notifikasi dari konten media sosial yang tidak bisa ditebak, ketidakpastian tersebut yang membuat otak semakin penasaran dan memicu lonjakan dopamin besar. Istilah awawnya, nagih.
Di samping itu, beragam fitur media sosial membuat kita semakin terlena. Kita seakan terus dibuat penasaran oleh konten-konten yang menarik, intensitas interaksi yang tinggi juga membuat kita semakin melekat dengan media sosial tanpa mengenal waktu.
Bermodalkan ilmu cocokologi, aku mencoba menguji diriku sendiri. Dengan mencoba membeli kebab di pinggir jalan tanpa membawa gawaiku. Saat itu kondisi cukup sepi. Hanya ada aku dan ibu penjual yang sedang mempersiapkan pesananku. Aku menunggu dengan antusias dan duduk di kursi plastik berwarna merah jambu sebab aku tidak membawa gawai, aku hanya bisa duduk termenung melihat lalu lintas di jalan raya.
Lalu lalang bus, truk, dan sepeda motor membuatku larut dalam lamunan. Hingga satu menit berselang, aku menyadari bahwa hidup tanpa gawai sebenarnya terasa lebih tenang. Sebelum gawai menjadi bagian dari keseharian, orang yang sedang bosan biasanya akan memilih untuk melamun—sekadar memandangi sekitar tanpa melakukan apa-apa.
Kini, hal-hal demikian sudah jarang dijumpai karena waktu luang lebih sering dihabiskan dengan menatap layar gawai. Hal ini ternyata bukan tanpa sebab.
Otak yang kebanjiran informasi akan mengalami hal yang saat ini disebut Brainrot, yakni kondisi menurunya kualitas otak dari kemampuan mengingat, daya fokus, dan fungsi otak dalam berpikir kritis. Ditambah dengan keberadaan fenomena AI yang memudahkan menyelesaikan tugas sekolah.
Selain itu, penggunaan gawai yang berlebihan dapat membuat seseorang sulit melepaskan diri dari layar. Ketika tidak bisa mengendalikan diri atas hal tersebut, seseorang dapat merasa gelisah ataupun cemas saat jauh dari gawai. Akhirnya, waktu-waktu selalu diisi dengan scrolling media sosial.
Jujur, itu nyandu banget asli~
Selain hal-hal tadi, gawai juga membuat orang terlalu banyak berpikir, sama seperti yang aku alami. Terlalu banyak overthinking. Semua informasi menumpuk dalam pikiran, akhirnya otak sulit memproses pikiran yang mengalir bebas saat melamun.
Untuk menghindari kebiasaan-kebiasaan tersebut, aku mencoba mengantisipasinya dengan membaca buku. Sampai saat ini, membaca masih menjadi “jurus ninjaku” untuk memberikan istirahat pada otak. Duduk tenang sambil menuntaskan beberapa halaman buku membantuku untuk meredakan kebiasaan scroll Instagram yang setiap hari menyajikan hal baru.
Namun, karena tuntutan profesi menjadi seorang jurnalis dan content creator, mau tidak mau aku harus selalu bersinggungan dengan gawai dan media sosial. Meski begitu, aku selalu mecoba membatasi waktu dengan gawai yang saat ini kusebut sebagai “setan gepeng”.
Inilah anomali kehidupan manusia yang di dalamnya terdapat ingat-bingar keriuhan media sosial. Arus informasi serta jangkauan yang luas menjadikan setiap individu terbuai olehnya. Walaupun begitu, kita tidak dapat bersikap skeptis apalagi kolot dengan menolak perkembangan zaman. Kita dapat bersikap bijak dan bisa memanfaatkan kemudahan informasi yang ada untuk hal-hal positif.
Lahir di Rembang. Penulis, jurnalis, sekaligus pekerja lepas ala-ala. Apa saja dikerjakan asal halal dan ada duitnya. Tulisannya bisa dilihat di laman website nu.or.id, rembangbercerita.com, dan akun Instagram @dailysastra.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!