“Sayang kok kasar, sayang kok mukul, sayang kok posesif”

Setelah hiruk pikuk Pilkada yang cukup memakan tenaga, pikiran, dan emosi itu, mari kita bergeser kembali membincangkan hal-hal yang ada di sekitar kita, namun seringkali diabaikan.

Sabtu, 7 Juni 2018 sebuah pesan masuk di whatsapp dari nomor yang tak dikenal. Adalah Yayu Nurhasanah, founder Swara Saudari mengontak saya untuk mengisi diskusi soal isu toxic relationship (Hubungan Tidak Sehat).

Tulisan di bawah merupakan salah satu tulisan lawas saya soal isu tersebut. Semoga bisa jadi bahan bacaan sebelum diskusi! Yuhuuu, mari berbagi cerita esok hari ya, siapa tahu kita akan berbagi kehidupan kita selanjutnya! Yeay!

__

Dunia perfilman Indonesia patut berbangga, pasca film bergenre horor sedang naik daun kembali dengan munculnya Pengabdi Setan yang tembus 4jt lebih penonton, kita dibuat kaget oleh film Posesif yang termasuk film remaja namun berbeda. Kenapa saya bilang berbeda? Film Posesif tidak seperti film cinta ala remaja populer, namun ia mengambil satu isu yang jarang sekali diangkat ke layar lebar, yakni menyoal toxic relationship yang bukan hanya tidak sehat namun juga berbahaya.

Pada film ini, ketika diperlihatkan bahwa hubungan relasi personal dalam hal ini pacaran, bukan hanya melulu soal jatuh cinta yang manis disertai pengorbanan yang romantis ala-ala cinta monyet, tapi juga mampu menghadirkan konflik yang rumit dan diselimuti kekerasan. Hal tersebut digambarkan jelas dalam film posesif, lewat Lala (Putri Marino) dan Yudhis (Adipati Dolken).

Kita mulai familiar dengan kasus kekerasan yang selama ini terus menghantui perempuan dalam relasi apa pun, baik dalam relasi suami-istri (Kekerasan Terhadap Istri), relasi pacaran (Kekerasan Dalam Pacaran), maupun relasi personal atau non personal lainnya.

Data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2017 menyebutkan, kasus kekerasan terhadap perempuan seluruh Indonesia yang terbanyak terjadi dalam relasi personal suami-istri (KTI) sebanyak 5.784 kasus dan disusul kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) sebanyak 2.171 kasus. Dari data tersebut kita bisa bilang bahwa kasus kekerasan daam pacaran benar dan nyata adanya.

Ada sebuah term yang mampu menjelaskan kenapa dan bagaimana kekerasan ini bisa terjadi dan seperti apa polanya. Adalah lingkaran kekerasan atau biasa dikenal dengan cycle of abuse yang bisa menjelaskan bagaimana pola perilaku kekerasan yang terjadi dalam sebuah hubungan. Dalam lingkaran ini dijelaskan bahwa kekerasan dalam sebuah hubungan bisa terjadi secara berulang-ulang, baik berupa kekerasan psikis, seksual, fisik maupun ekonomi.

Fase-fase kekerasan dalam sebuah hubungan

Dalam film Posesif diperlihatkan bagaimana pola kekerasan tersebut terjadi dan dilakukan oleh Yudhis pada Lala. Dimulai dari obsesi kepemilikan Yudhis terhadap Lala yang turut menjadi cikal bakal perilaku kekerasan dalam dalam hubungan mereka. Kemudian berlanjut pada tindakan Yudhis yang mulai tidak suka Lala pergi latihan loncat indah, cemburu berlebihan dan marah saat Lala pergi bersama teman-temannya, mengintai dan membuntuti ke manapun Lala pergi. Sampai puncaknya adalah saat Lala memilih Universitas yang berbeda dengan Yudhis.

Itu adalah beberapa jenjang konflik yang terjadi dengan pola kekerasan yang semakin intens, sesuai dengan cycle of abuse.

Dalam fase pertama, lingkaran kekerasan tersebut dimulai dengan  fase pembangunan ketegangan. Di mana kondisi hubungan mulai tegang karena komunikasi yang buruk. Mulai ada bentakan, ancaman, serta perlakuan kasar.

Selanjutnya fase tindakan kronis yang mana pelaku mulai berani memukul korban. Pada fase ini biasanya korban akan memilih menyendiri dan bahkan tidak ingin melaporkan pada pihak berwajib.

Lalu ada fase bulan madu. Di mana pada fase ini pelaku melakukan segala cara untuk memohon maaf pada korban dan bertindak sangat romantis untuk membuktikan penyesalannya. Respon korban biasanya memafkan dengan harapan pelaku akan berubah lebih baik. Pada fase ini biasanya hubungan pelaku dan korban akan kembali harmonis dan baik. Namun kecenderungan untuk kembali pada fase awal akan terjadi lagi, selama korban tidak melepaskan diri dan mencoba keluar dalam lingkaran kekerasan tersebut.

Dengan mengetahui fase-fase dalam lingkaran kekerasan tersebut, kita mampu melihat dan mengklasifikasikan dengan jelas jenis hubungan Yudhis dan Lala di film Posesif tersebut.

 

Bagaimana mengakhiri kekerasan dalam pacaran?

Meski Edwin selaku sutradara film posesif mendapat banjir pujian, saya menemukan ada beberapa bagian yang gagal dijelaskan secara apik bahkan digali lebih jauh dalam beberapa momen.

Salah satunya adalah, saat momentum Lala mengakhiri hubungan tidak sehat atau toxic relationship yang dijalaninya. Yudhis sebagai pelaku menjadi pihak yang memilih meninggalkan Lala sebagai korban karena, sadar akan sifat dan sikapnya yang akan membahayakan Lala, dengan sebuah kalimat “…kalau kamu jagain aku, siapa yang jagain kamu dari aku…?”.

Pertanyaannya, akankah semua pelaku kekerasan dalam pacaran akan sadar dengan sendirinya dan meninggalkan korban? Tentu saja tidak. Lebih banyak kasus, bahkan pelaku enggan untuk meninggalkan korban. Sehingga korban terjerat dalam lingkar kekerasan yang terus menerus.

Meskipun di akhir film diperlihatkan Lala yang memilih berlari meninggalkan Yudhis. Tapi film ini abai menampilkan kompleksnya masalah psikis korban dan keberaniannya untuk keluar dari situasi tersebut.

Selain itu juga moment yang melatarbelakangi sikap posesif Yudhis; kekerasan yang diterima Yudhis dari ibunya. Ini tidak salah, tapi apakah pelaku kekerasan selalu berawal dari dia yang menjadi korban sebelumnya? Ini perlu riset lebih jauh, tapi saya ingin bilang bahwa pelaku kekerasan itu bisa siapa saja dengan latar belakang kondisi keluarga, pendidikan, maupun ekomoni apa pun.

Saya mengapresiasi Palari Films yang telah memproduksi film layar lebar dengan tema yang tidak populer lewat film posesif. Lewat film ini tentu saja harapannya adalah kita mampu melihat lebih dekat bahwa kasus-kasus kekerasan dalam pacaran nyata adanya.

Data CATAHU Komnas Perempuan 2017, pelaku kekerasan seksual terbanyak adalah pacar. Semoga dengan menonton film ini dan melihat bagaimana pola kekerasan itu terjadi, kita tidak akan lagi mengeluarkan statment ngawur saat mendengar tentang kasus KDP ini, seperti “kalau pacaran, berarti suka sama suka dong… masa kekerasan?”.

Untuk korban mampu keluar dari ingkar kekerasan, salah satu caranya dengan berani keluar dalam relasi yang tidak sehat tersebut. Lantas, dari mana keberanian tersebut didapatkan? Adalah tugas kita sebagai keluarga, teman, rekan kerja, yang terus mendukung para korban kekerasan dan menemani korban dalam kondisi apa pun untuk mengambil keputusan yang baik untuk dirinya, bukan malah menggunjingkan dan menghakimi korban. Jika butuh pertolongan lanjutan, bisa menghubungi pihak-pihak yang concern  dalam kasus tersebut, seperti layanan pendamping psikologis atau lembaga bantuan hukum.

*Paper ini adalah pengantar untuk diskusi “Hubungan Sehat Tanpa Kekerasan” pada Sabtu, 7 Juli 2018.

Profil Penulis

Adis Puji Astuti
Adis Puji Astuti
sering berkicau di @adisanwar bila rindu cukup temukan di @adiseeh.