

Beberapa waktu terakhir jagad media sosial sempat dipenuhi dengan tren estetika yang disebut sebagai Dark Fantasy Aesthetic, yaitu sebuah tren foto, gambar, dan video yang memiliki nuansa seperti dunia fantasi yang gelap. Tren itu merujuk pada referensi dunia fantasi ala era medieval Eropa yang diisi dengan kisah-kisah para ksatria berbaju zirah besi, sistem kerajaan monarki, monster-monster yang bersiap menyerang di malam hari.
Secara keseluruhan tren ini saya anggap sebagai bentuk romantisasi warganet tentang kisah-kisah fantasi ala Eropa yang disalurkan melalui video, foto, hingga potongan gambar bernuansa fantasi medieval. Walaupun akhirnya tren ini semakin berkembang dengan menggunakan karya fiksi fantasi lain yang tak melulu soal kisah fantasi medieval seperti digunakannya cuplikan-cuplikan anime bergenre fantasi yang tak semuanya bergaya Eropa abad pertengahan.
Namun di balik semua estetika dunia maya itu, ada satu hal yang selalu menjadi ciri khas dari tren ini, yaitu digunakannya lagu berjudul Golden Brown yang dibawakan oleh band bergaya punk asal Inggris yaitu The Stranglers.
Hal ini menarik karena saat saya pertama kali mendapati tren ini di beranda media sosial saya, secara pribadi saya sempat berpikir, jika lagu berjudul Golden Brown sendiri diciptakan oleh band yang memiliki corak atau setidaknya berada di ruang lingkup musik jazz atau sejenisnya.
Tak mengherankan jika awalnya saya berpikiran seperti itu. Pasalnya, lagu ini memakai tempo yang cukup aneh serta tangga birama yang unik, mengingatkan saya pada tempo lagu-lagu tradisional bangsa Celtic. Lagu ini juga menggunakan instrumen yang cukup asing dan jarang digunakan dalam musik populer modern, yaitu harpsichord. Bisa dibilang, instrumen tersebut merupakan nenek moyang dari piano modern yang kita kenal sekarang.
Dengan penggunaan alat musik yang tak biasa itu, band ini berhasil menghasilkan karakter suara yang ikonik melalui aransemen ala musik era barok dengan ketukan-ketukan ganjil selayaknya musik bergaya waltz. Sementara dari sisi penulisan lirik, lagu ini sarat dengan metafora yang ambigu sekaligus puitis.
Meskipun sering dijadikan sebagai musik latar dari gambar dan video bertema fantasi, nyatanya secara lirik, Golden Brown sebenarnya membahas hal di luar itu. Lirik yang penuh metafora itu, jika ditelisik melalui pengakuan beberapa anggota bandnya, membahas dua hal sekaligus.
Secara umum, lagu ini merupakan ungkapan cinta seorang pria kepada wanita pujaan hatinya sekaligus bentuk kerinduan kepada sang kekasih. Sementara itu, frasa Golden Brown sendiri merujuk pada dua hal.
Pertama, frasa tersebut merujuk pada warna kulit sang kekasih. Kedua, frasa itu juga dapat merujuk pada warna rambut sang kekasih yang bisa diartikan sebagai rambut berwarna pirang.
Kemudian secara spesifik, lirik di lagu tersebut sebenarnya membahas kondisi atau pengalaman seorang pecandu narkoba. Frasa Golden Brown sendiri dapat diartikan sebagai ssatu efek halusinasi yang didapatkan ketika mengonsumsi barang-barang tersebut.
Ya, bisa dibilang, hal ini merupakan stereotipe yang cukup umum ditemukan di lagu-lagu rock tahun 60-an hingga 90-an. The Stranglers melalui lagu Golden Brown tampaknya juga mengikuti stereotipe tersebut dengan cukup elegan, sebagaimana band-band sejawat mereka pada era yang sama.
Dengan mengikuti informasi di atas, saya juga cukup kaget ketika mengetahui bahwa band ini dibentuk pada tahun 1974. Sementara itu, singel Golden Brown dirilis pada 1981 dalam album La Folie, yang jika diterjemahkan secara harfiah berarti “Kegilaan”. Judul tersebut tampaknya merepresentasikan kegilaan manuver musikal yang mereka lakukan dalam album ini, dan lagu Golden Brown menjadi satu dari contoh produk kegilaan mereka sendiri.
Sebagai band yang muncul dan terikat dengan skena punk era awal bersama band-band punk Inggris seperti The Sex Pistols, The Damned, dan The Clash, The Stranglers bisa dikatakan sebagai satu dari band yang menjadi pelopor gerakan skena punk di Inggris Raya.
Fakta ini sebenarnya juga sempat mengejutkan saya karena bagaimana mungkin sebuah band punk bisa membuat sebuah lagu seunik Golden Brown? Sebuah lagu yang awalnya membuat saya mengira bahwa mereka merupakan band beraliran jazz ketimbang band beraliran punk, bahkan sejawat dengan band legendaris The Sex Pistols dan The Clash.
Meski begitu, saya juga paham bahwa pada rentang tahun 1974-1976, musik punk sedang bergerak ke arah yang lebih eksperimental melalui ekspresi gaya musik bernama new wave dan antitesisnya. Dari ekspresi itu, yaitu no wave, sebagai bentuk ketidakpuasan anak-anak punk di rentang tahun tersebut terhadap stagnasi budaya punk, sekaligus bentuk pengakuan diri bahwa punk sangat anti-mainstream.
Dan The Stranglers berhasil melakukan hal tersebut dalam album La Folie. Sebenarnya, hampir di semua lagu pada album ini melambangkan arti dari judul album tersebut, termasuk Golden Brown.
Kini, lagu yang sudah berumur 45 tahun ini masih tetap dinyanyikan, dikenal, bahkan dijadikan sebagai lagu favorit di kalangan yang lebih muda, karena sebuah tren di media sosial. Pada akhirnya, kombinasi antara media sosial, visi artistik sebuah lagu, dan algoritma digital mampu membawa sebuah karya untuk tetap relevan sekalipun sudah berumur hampir setengah abad lamanya.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!