

Film Taiwan besutan sutradara Shih-Ching Tsou, Left-Handed Girl, tidak saja menampilkan gadis kecil bertangan kidal yang dihakimi, dikenai stigma, dan dikoreksi secara serampangan. Lebih dari itu, film ini juga membicarakan kemiskinan dari sudut pandang yang paling intim. Usai menonton, kita dibuat percaya bahwa ancaman kemiskinan hadir lebih berat di hadapan perempuan.
Left-Handed Girl mengisahkan seorang ibu tunggal bernama Shu Fen (Janel Tsai) yang sedang memulai hidup baru di kota bersama kedua anaknya, I-Ann (Ma Shih-Yuan) dan I-Jing (Nina Ye).
I-Ann, perempuan muda pemberontak kini bekerja di sebuah kios pinang (kios yang menjual biji pinang dan rokok). Sementara I-Jing adalah gadis kecil polos berusia 5 tahun bertangan kidal.
Dalam Left-Handed Girl, konflik tidak hadir secara linear dan rapi. Malah, cenderung acak lalu mengisi satu sama lain seolah tidak berkesudahan. Bahkan di bagian akhir filmnya, kita akan dikejutkan oleh konflik yang bersembunyi sekian lama. Dinamika keluarga kecil ini menyerupai pintalan benang kusut yang diurai perlahan sepanjang film. Pada momen ini, saya merasa Left-Handed Girl menampilkan diri yang “apa adanya”, seperti kehidupan itu sendiri.
Feminisasi Kemiskinan dalam Karakter Shu Fen
Sampai kapan pun, kemiskinan tidak akan pernah habis dibicarakan. Shi Fen menjadi karakter yang menanggung beban ganda kemiskinan. Mengurus kedua anaknya, pun mencari nafkah dengan membuka kios mie di pasar malam Taipei yang padat. Ditambah lagi, Shu Fen ‘mengorbankan diri’ membiayai pemakaman mantan suaminya.
Olah peran Janel Tsai terbingkai dalam ekspresi wajah Shu Fen: redup, lelah, dan kewalahan. Ruang hidupnya ditekan keadaan, sama seperti apartemen sewaannya yang sempit dan tuntutan finansial yang melangit. Kerja-kerja yang Shu Fen lakukan bergantung sepenuhnya pada kerja informal. Usaha-usaha kecil yang tidak menjamin penghasilan tetap.
Left-Handed Girl mengupas potret feminisasi kemiskinan dengan cara yang sederhana. Sosiolog Diana Pearce memperkenalkan istilah feminisasi kemiskinan sebagai kecenderungan beban kemiskinan yang dialami perempuan.
Bias gender yang menuai ketidaksetaraan mengakibatkan perempuan lebih rentan hidup dalam kemiskinan dibandingkan lelaki. Dengan kata lain, kemiskinan berwajah perempuan timbul dari kerentanannya secara struktural. Dunia yang kita tinggali masih dikonstruksi sedemikian rupa. Perempuan belum sepenuhnya mendapatkan akses yang sama terhadap pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan.
Kemiskinan perempuan tentu tidak terjadi begitu saja. Hal itu mengakar dari berbagai faktor: ekonomi, sosial, lingkungan, dan politik. Tidak jauh-jauh, dalam Left-Handed Girl, kemiskinan yang dialami Shu-Fen tidak melulu akibat dibebani finansial oleh sang mantan suami selama bertahun-tahun. Namun juga ada pengaruh patriarki yang cukup lantang menggelayuti pengasuhan orangtua Shu Fen.
Beberapa kali film ini menyorot peliknya interaksi Shu Fen dan kedua saudara perempuannya (Xiao Hong dan Xiao Ang), juga dengan orangtua mereka yang tinggal terpisah. Konflik seringkali bersumber dari diskusi soal uang, warisan, dan privilege saudara lelaki. Bagaimana tidak, orang tua Shu Fen menyokong penuh usaha sang anak lelaki hingga sukses mendirikan perusahaan internasional. Apartemen orangtua juga akan diwariskan kepada saudara laki-laki Shu Fen. Pujian demi pujian hanya dialamatkan pada anak emas mereka.
Menjadi ironis ketika Shu Fen kesulitan membayar sewa kios, bukannya dibantu oleh keluarga, Shu Fen lagi-lagi dibiarkan memanggul kemiskinannya seorang diri. Daya lenting perempuan bangkit dari keterbatasan bahkan memiliki keterbatasannya sendiri. Budaya patriarki yang membesarkan Shu Fen nyatanya mengerdilkan dirinya dan membatasi ruang geraknya di kemudian hari.
Luka Pengabaian dan Akibatnya
Melalui bidikan lensa Ko Chin Chen dan Tzu Hao Kao, film ini mengajak kita menemani eksplorasi I-Jing. Kamera kerap diletakkan rendah mengikuti langkah kaki gadis kecil itu mengitari pasar malam Taipei. Bergerak lincah bersama I-Jing di tengah sibuknya dunia. Pengambilan gambar mendekatkan penonton pada cara I-Jing menjalani hari-harinya.
Detak kehidupan Taipei memeluk perempuan kecil itu. Cahaya lampu neon, gemerlapnya papan reklame, dan riuhnya lapak pedagang menjadi ekosistem urban tempat seorang anak tinggal dan bermain-main di dalamnya. Di antara apartemen sederhana dan pasar malam yang beraneka, I-Jing menciptakan dunianya sendiri.
Film ini berkali-kali memotret kehidupan orang dewasa dari sudut pandang anak. Bagi I-Jing, dunia orang dewasa dipenuhi kerja keras, interaksi yang rumit, perdebatan masam, dan beragam rahasia. Dunia orang dewasa jauh dari apa adanya. Di dalamnya, I-Jing lebih mirip kepingan puzzle naif yang sedang bersusah payah mencari posisinya.
Berhadapan dengan ibu, kakak, dan kerabat, I-Jing kerap dianggap sebatas anak kecil yang belum dan tak perlu tahu apa-apa. Padahal, anak kecil justru menyerap realita secara spontan. Dalam sebuah adegan, I-Jing diam-diam datang ke kios gadai setelah memahami kesulitan finansial keluarga.
Beberapa adegan juga menampilkan kesulitan I-Jing untuk punya ruang bicara dengan orang dewasa. Percakapan yang didengar I-Jing seolah tidak boleh dipertanyakan balik. Kebingungan dan rasa tahu I-Jing dicukupkan. Ketimbang menerima penjelasan, pertanyaan I-Jing seringkali dibalas dengan kalimat semacam ini:
“Anak kecil cukup dengarkan saja,”
“Bukan urusanmu” atau
“Jangan menyela pembicaraan orang dewasa”
Meski tidak dinyatakan eksplisit dalam film, perlakuan orang dewasa pada I-Jing berpotensi menimbulkan luka pengabaian emosional. Shu Fen memang mencukupi kebutuhan I-Jing seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidikan. Namun, kebutuhan emosional I-Jing sesederhana didengarkan dan diperhatikan tampaknya belum dipenuhi. Tidak sulit untuk menyimpulkan bahwa beban ganda Shu Fen menjadi salah satu akarnya.
I-Jing terkesan mandiri, mudah beradaptasi, penurut, dan tahu situasi. Namun bukankah itu adalah respons dari pengasuhan dan cara orang dewasa memperlakukannya?
Stigma Tubuh
Kenangan masa kecil sutradara Shih-Ching Tsou yang pernah dikoreksi akibat kidal, dieksekusi dengan baik di film ini. Pengalaman itu kemudian dilekatkan pada karakter I-Jing. Anak kecil itu mulai mempertanyakan makna tubuh setelah dihardik sang kakek usai makan dan menulis dengan tangan kiri.
Tangan kiri I-Jing langsung mendapat stigma negatif. Bersamaan dengan itu, aktivitas I-Jing menggunakan tangan kirinya serta-merta dihakimi, dan tak butuh lama bagi I-Jing untuk dikoreksi.
Dalam kultur Asia, individu kidal kerap diasosiasikan sebagai abnormalitas, patologis, dan kurang pantas. Dalam film ini, tangan kiri I-Jing dilabeli sang kakek sebagai tangan iblis. Tangan yang jika digunakan akan mendatangkan keburukan. Tidak cukup sampai di situ, sang kakek lantas mengoreksi I-Jing supaya beraktivitas menggunakan tangan kanan.
Stigma sang kakek pada I-Jing rupanya terinternalisasi. I-Jing mulai mencuri barang-barang dagangan pasar malam. Ketika ketahuan oleh I-Ann, I-Jing melindungi diri dengan menumbalkan ‘tangan iblis’nya.
Stigma dan penghakiman yang diterima I-Jing dari sang kakek juga membuat I-Jing mempersepsikan tangan kiri sebagai bagian tubuh yang ganjil dan cacat. Citra tubuh negatif itu semakin besar hingga I-Jing menutupi tangan kirinya dengan kain. I-Jing juga mencoba membawakan piring pelanggan kedai dengan tangan kanan saja meski akhirnya gagal.
Yusra Masud dan M Asir Ajmal dalam jurnalnya berjudul Left-handed People in a Right-handed World: A Phenomenological Study, mencatat bahwa pembatasan penggunaan tangan kiri kerap dialami populasi kidal. Sejak usia kanak-kanak, kerap kali mereka dipaksa berlatih menggunakan tangan kanan. Opresi ini dapat menimbulkan self-suppresion, suatu usaha adaptasi diri supaya dianggap ‘normal’ di antara populasi kinan. Kontrol tubuh individu kidal dari lingkungan tidak hanya berbentuk verbal seperti larangan atau bentakan. Melainkan juga fisik, seperti mengikat tangan kiri, menutupi tangan kiri (dalam film, ini adalah manifestasi self-suppresion I-Jing), memukul tangan kiri, dan menempatkan benda atau peralatan di tangan kanan (dalam film, sang kakek menempatkan sumpit di tangan kanan I-Jing).
Dalam Left-Handed Girl, stigma tangan iblis tercipta dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Dipengaruhi faktor sosiokultural yang kuat, stigma tubuh ini diwariskan antar generasi. Kita bisa menyimpulkan opini terhadap warisan semu ini justru menciptakan dampak fisik, psikologis, dan psikososial yang merugikan.
Pada suatu bagian film, pekikan bahagia I-Jing terasa menetralisir keseluruhan cerita. Tarian menggemaskan mengisi ruang sempit kedai pasar malam. Dalam tarian itu, Shu Fen ikut serta dan I-Ann turut tersenyum. Sebuah potongan visualisasi bahwa beban dan kerentanan perempuan dapat ditanggung bersama-sama.
Selain itu, perihal stigma tubuh yang dialami I-Jing, penonton seperti diajak mengkritisi ajaran turun temurun secara lebih kritis dan jernih. Untuk tidak melulu menganggap perbedaan sebagai kecacatan dan tidak memaksakan nilai-nilai pribadi di atas otonomi tubuh itu sendiri.
Referensi
Pearce, Diana M. 1989. The Feminization of Poverty: A Second Look. Washington: Institute For Women’S Policy Research. (https://iwpr.org/wp-content/uploads/2021/01/D401.pdf)
Masud, Y & M Asir A. 2012. Left-handed People in a Right-handed World: A Phenomenological Study. Pakistan Journal of Social and Clinical Psychology: 49-60.
Part-time writer, full time-doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano. Instagram @mariamonataliani
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!