

Dulu, waktu aku masih kecil, bahagia itu rasanya murah sekali. Hidup selalu berjalan pelan tanpa terburu-buru. Tidak ada tanggung jawab, mengejar target, atau memikirkan masa depan. Aktivitasku hanya bermain, menikmati hari demi hari dengan enteng.
Kalau ada tugas sekolah yang berat?
Tinggal merengek kepada orang tua atau kakak, selesai.
Dulu aku bisa bebas melakukan banyak hal tanpa perlu berpikir dua kali, walaupun ujung-ujungnya sering dilarang juga, sih~
Lucunya, dulu aku sering menggerutui betapa menyebalkan orang tuaku yang mengekang itu. Mau bermain saja harus diawasi, harus ada yang menemani. Setelah dewasa, pengawasan orang tua membuatku terkekang ternyata membuatku nyaman, tenang, dan selalu punya perasaan “ada backingan”
Begitu dewasa, tanggung jawab menjadi makanan sehari-hari. Tiba-tiba aku dipaksa berpikir sendiri, memutuskan semuanya sendiri, tanpa ada lagi tempat bergantung. Kuliah harus selesai, pekerjaan harus mapan, belum lagi ekspektasi keluarga yang diam-diam membuat pundak terasa berat, ditambah standar sosial yang semakin tidak masuk akal. Argh! Mau kecil lagi ajaaa!
Parahnya lagi, aku hidup di zaman yang semua orang seperti sedang berlomba. Setiap kali membuka media sosial, isinya pencapaian orang lain yang terlihat sempurna: sukses di usia muda, penghasilan ratusan juta, atau liburan terus-menerus tanpa beban. Tanpa sadar, aku mulai membandingkan diri sendiri. Di sinilah aku sadar bahwa hidup tenang dan bahagia adalah hal yang sangat berharga. Otakku jarang bisa benar-benar senyap.
Ironis, ya? Semakin dewasa, aku justru semakin gagap untuk merasakan bahagia yang tulus. Bukan karena hidupku tidak memiliki hal baik, tetapi karena isi kepalaku sudah terlalu sering dipenuhi pikiran berlebihan tentang skenario terburuk, saking sering scroll medsos.
Ketika sedang berbaring ingin tidur malam pun, tubuh boleh diam di kasur, tetapi isi kepala seramai pasar malam. Pertanyaan-pertanyaan seperti,
“Besok bagaimana, ya?”
“Kalau gagal bagaimana?” atau
“Kenapa rasanya aku semakin tertinggal, ya?” terus berputar seperti kaset rusak.
Dulu aku sempat berpikir bahwa menjadi dewasa itu menyenangkan karena bebas. Kenyataannya? Kebebasan orang dewasa sering kali dibayar dengan kecemasan. Ketika kecil aku bergantung kepada orang lain, sekarang giliran aku yang menjadi tempat bergantung banyak hal. Mau tidak mau aku harus terlihat kuat walaupun sebenarnya sangat lelah. Harus tetap berjalan walaupun sedang kehilangan arah dan ditilang~
Dunia kerja dan kehidupan dewasa ini sepertinya sangat tidak suka melihat orang diam. Kita dipaksa produktif setiap saat, seolah-olah mengambil waktu untuk bernapas sebentar adalah sebuah kesalahan besar. Padahal aku manusia, bukan mesin yang baterainya tidak pernah habis.
Wajar jika dipikir menggunakan logika. Semakin bertambah usia, kapasitas berpikirku semakin luas. Aku semakin memahami risiko, memahami pahitnya realitas, dan memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Anak kecil bisa tertawa lepas hanya karena balon tiupnya meletus, ya iya lah, wong mereka belum memiliki kesadaran tentang kerasnya hidup.
Sementara kita?
Telanjur melihat dunia yang sudah kompleks dan rumit. Kenyataan seperti uang bisa habis, hubungan bisa menjadi hambar, kesehatan bisa menurun, dan mimpi bisa patah di tengah jalan membuatku semakin berhati-hati, sekaligus semakin cemas.
Ditambah lagi, ritme hidup modern sekarang membuat semakin kewalahan. Dulu kita punya waktu untuk duduk santai sore-sore, berbincang ke sana kemari tanpa memegang ponsel, tanpa ada rasa bersalah. Sekarang? Semuanya serba cepat. Notifikasi masuk terus, informasi menumpuk setiap detik dan distraksi di semua tempat! Astaga!
Aku dipaksa untuk selalu terhubung, responsif, dan terlihat aktif. Akhirnya mental tidak pernah benar-benar beristirahat.
Bagian paling melelahkan dari proses tumbuh dewasa adalah momen kehilangan secara perlahan. Kehilangan waktu, kehilangan kedekatan dengan teman-teman, sampai kehilangan versi diriku yang dulu jauh lebih ceria. Dulu aku rasa, aku bisa bertemu teman setiap hari, sekarang untuk menyesuaikan jadwal bertemu saja sulitnya bukan main karena masing-masing sudah memiliki urusan. Dari situ aku belajar menerima kenyataan bahwa kehidupan orang dewasa perlahan-lahan akan masuk partai 🙁
Namun, di antara semua kepahitan itu, kedewasaan sebenarnya memberikan satu pelajaran berharga. Kalau saat kecil bahagia itu harus sesuatu yang spontan dan ramai, saat dewasa aku harus belajar menciptakan bahagiaku sendiri, sekecil apa pun bentuknya.
Sekarang, bahagiaku sesederhana. Sesederhana menikmati secangkir kopi hangat setelah seharian dihantam pekerjaan. Atau obrolan mendalam singkat dengan orang yang memiliki pemikiran yang sama, tidur cukup delapan jam saat akhir pekan, dan perasaan lega karena berhasil melewati hari yang rasanya hampir membuat gila. Hal-hal kecil seperti itu yang justru sering menjadi penyelamat kewarasanku.
Aku sering kali terlalu fokus mengejar masa depan yang masih abu-abu, sampai lupa menikmati hari ini. Tidak apa-apa jika hidupku belum seberkilau orang lain di Instagram. Setiap orang memiliki musimnya masing-masing, kan?
Satu hal yang sering aku lupakan: sebagai manusia dewasa, aku juga berhak merasa lelah dan beristirahat.
Jujur, hidup sebagai orang dewasa memang sangat melelahkan. Ada hari-hari ketika aku merasa ingin menghilang sebentar dari dunia, saking lelahnya dengan semua tuntutan. Ada masa ketika dada terasa sesak, tetapi bingung harus bercerita kepada siapa karena semua orang memiliki bebannya masing-masing. Namun hebatnya, besoknya aku tetap bangun pagi, tetap mandi, tetap berangkat bekerja, dan tetap mencoba bertahan walaupun sambil mengeluh dalam hati dan repost-repost story~
Jadi, untuk diriku dan semua orang yang sedang merasa berat: bersikaplah lembut kepada diri sendiri. Yuk istirahat dulu, yuk!
Saat ini saya tinggal di Banyumas, Jawa Tengah. Mahasiswa Universitas Islam Negeri K. H. Syaifuddin Zuhri Purwokerto, 2025. Instagram @cuncauhya
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!