Lima menit untuk lima tahun, begitu kira-kira judul lagu yang dibawakan oleh grup band kondang “Coklat”. Walaupun di dalam kotak suara tidak mungkin selama itu, tapi minimal itu adalah sebuah gambaran betapa pentingnya peran masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya dalam pemilu di daerahnya masing-masing.

Di masa-masa seperti ini banyak hal yang menarik, terutama masa-masa kampanye sebelum pelaksanaan  pemilu. Ada berbagai macam hasil kerja kampanye yang dengan mudah kita temukan. Mulai dari baliho yang bukan main besar dan mencoloknya. Juga tak lupa masing-masing calon menunjukkan ciri khasnya, dari yang wibawanya kemiliter-militeran sampai kelihatan shalih. Tidak lupa juga menunjukkan simbol nomor urut dengan jari, atau singkatan nama pasangan yang terkesan dipaksakan sehingga kadang-kadang mengundang tawa, dan jargon-jargon yang sekiranya mudah diingat  juga menjanjikan. Ada juga yang membagikan sembako, kerudung sampai menggelar konser organ tunggal. Semua dilakukan sepanjang hal itu bisa meraih perhatian masyarakat.

Setelah masa kampanye selesai, ada yang dinamakan ‘masa tenang’, artinya tidak boleh ada kegiatan kampanye politik selama masa tersebut. Baliho-baliho dan poster dicabut, tidak ada kumpulan massa politik, dan pada akhirnya sampailah kita pada tanggal 27 untuk melaksanakan pemilu itu sendiri.

Dari semua hal yang dapat kita lihat. Entah itu yang paling buruk seperti desain baliho yang gak aeshtetique sampai yang lumayan baik seperti berbagi sembako, mengapa kita tetap harus berpartisipasi di tanggal 27 Juni nanti?

Memilih atau tidak itu kan hak kita, tapi mari pertimbangkan beberapa hal sebelum kamu membuat tagar

#ayotidurpas27juni dan semacamnya berikut aku kasih alasan kenapa kamu perlu keluar rumah dan selfie-selfie di TPS terdekat.

 

  1. Memilih sama-dengan membantu mewujudkan negara yang demokratis

Sesuai dengan UU Nomor 8 Tahun 2012 (Pasal 19 dan 20) dalam pasal tersebut tertulis bahwa masyarakat Indonesia harus memilih sesuai dengan kriteria yang tertera. Jika tak bisa menyumbang sesuatu yang baik untuk negeri tercinta ini, minimal dengan menggunakan hak suara, adalah sebuah upaya untuk membantu mewujudkan negara yang demokratis.

Minimal loh ya!

 

  1. Bertemu warga sekitar

Kamu anak rantauan dan merasa asing di tempatmu sendiri? Selain kamu dimarahi W.S. Rendra karena tidak mengenali warga di tempatmu tinggal  dan beralasan sibuk kuliah atau bekerja, maka momen pemilu adalah waktu yang pas untuk berkenalan dengan warga sekitar. Ya, minimal tahu namanya karena dipanggil lewat pengeras suara.

Habis pulang dari TPS, lekas ingat-ingat namanya agar tidak merasa asing dan sepi. Juga langsung pulang ya, panitia tidak akan memberi bubur kacang karena itu bukan acara imunisasi posyandu. Hehe~

 

  1. Salah satu ciri dewasa

Seperti dalam aturan Undang-undang bahwa yang berhak memilih adalah WNI berusia 17 tahun ke atas, artinya yang mencoblos adalah warga yang sudah cukup umur dan dewasa. Asalnya kamu masih lari-larian dikejar mama karena susah makan, kini saatnya menunjukkan pada dunia betapa sudah dewasa dan matangnya dirimu, boi, sis!

 

  1. Mengisi snapgram dan status WA

Kuramal dan kutebak tanggal 27 nanti pasti banyak foto kelingking berseliweran. Ada yang pamer satu kelingking ala Pidi Baiq, ngupil kyudh, sampai kelingking mengikat ala Farel dan Rachel. Uww~

Jangan sampai kelingkingmu bersih, atau kebutuhan snap whatsapp dan instagrammu takkan terpenuhi. Ingat tanpa snapgram, kaum millenial hanyalah bubuk renginang.

 

  1. Kali aja ada yang cocok

Nah ini gaes. Mungkin kamu jomlo itu bukan semata-mata karena kamu ditakdirkan begitu. Tapi ya karena selama ini kamu gagal melebarkan antena-antena untuk menangkap sinyal yang lebih luas. Duh, apaan sih penjelasanqu ini.

Intinya, kalau di lingkungan sekolah, kampus, atau tempat kerja kamu ternyata peruntunganmu sial melulu. Kali aja cintamu memang Allah Swt letakkan ada di sekitar TPS!

Sah? Sah! Hehe.

Oke itu saja dariqu. Selamat memilih dan pamer kelingking ungu! Xixixi~

 

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Penulis adalah perempuan biasa yang menemukan Komunitas Swara Saudari sebagai wujud kepedulian terhadap isu-isu perempuan. Senang menjadi fasilitator Kelas diskusi dan sesekali menulis berbagai isu gender di beberapa media online. Selalu ingin disapa duluan, silakan coba di akun twitter @owyaaay sampai jumpa di sana, ya.