Sejarah perkembangan karya sastra tidak pernah bisa dilepaskan dari sejarah peradaban dan kebudayaan manusia. Ia tumbuh, mekar, dan matang melalui tahapan-tahapan yang saling berkesinambungan. Karena itu, ia seperti halnya cermin bening yang akan mempresentasikan wajah dan gambaran dari setiap masa yang dilalui oleh kehidupan. Lalu, yang baik akan berupa baik dan yang buruk akan pula berbentuk buruk.

Setidaknya seperti itulah yang coba digambarkan oleh Anton Kurnia, seorang penulis, penerjemah dan editor dalam bukunya “Mencari Setangkai Daun Surga”. Dalam salah satu catatannya, ia menyatakan bahwa demi mencapai kesejatian hidup, seseorang harus menempuh satu dari empat jalan. Empat jalan yang ia maksudkan adalah jalan agama, jalan filsafat, jalan sains, atau pun jalan sastra.

Mungkin kita tidak sadar, jika memang keempat jalan yang ia katakan tersebut benar adanya, maka sastra sesungguhnya memiliki dimensi yang sama sekali berbeda dengan lainnya. Ketiga jalan yang pertama adalah soal apa yang diberikan Tuhan kepada manusia. Sementara sastra, adalah apa yang diberikan manusia kepada sesama. Inilah yang membuat ia berbeda dengan sains, filsafat, dan agama.

Memberi dan diberi. Tentu begitu jauh perbedaan makna yang dihasilkan dari kedua kata sekandung ini. Meskipun berasal dari satu akar kata yang sama, perbedaan imbuhan yang didapatkan itu akan menghasilkan dampak yang secara signifikan juga  berbeda, mengenai siapa itu subjek dan siapa yang akan menjadi objeknya. Namun sesungguhnya, jika benar dikatakan bahwa manusia adalah subjek dari pekerjaan “memberi”, lantas apa yang sudah manusia beri kepada sesama dengan karya sastra?

Benar sekali. Itu adalah soal keinginan dan juga harapan! Fakta bahwa karya sastra telah dipergunakan oleh manusia untuk menyampaikan dan menjelaskan apa yang mereka inginkan dan mereka harapkan bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Kehendak atas apa yang tersurat atau pun tersirat. Antara yang mungkin dan yang mustahil. Antara yang imajiner dan realita. Hingga antara yang ditakuti dan dipenuhi harapan pasti. Karena itulah, sastra enggan juga mati sampai saat ini.

Dalam ungkapan lain, sastra dijadikan bahasa atas kehendak yang tidak bisa dibahasakan. Menjadi penyampai atas apa yang tidak bisa disampaikan. Tak heran, banyak dari karya sastra yang menjadi kontroversial hanya disebabkan oleh idealisme,  angan-angan dan harapan yang hendak diungkapkan. Da Vinci Code, karya sastra novel fenomenal bergenre misteri, fantasi, ilmiah milik Dan Brown merupakan satu dari jutaan karya yang mengandung dan mengundang kontroversi di dalamnya. Kecaman demi kecaman silih berganti ia dapatkan akibat sirat keinginan yang hendak ia sampaikan di sana. Padahal seharusnya ia tahu, masyarakat Kristian tidak akan pernah siap menghadapi benturan atas serangan keimanan seperti dalam karya sastra Dan Brawn tersebut.

Karena itulah, bagi sebagian orang, karya sastra seringkali dijadikan sebagai senjata. Fleksibilitas sastra untuk menyampaikan apa yang bias dan tidak bisa tersampaikan memunculkan keberanian yang lebih bagi seseorang untuk mengutarakan apa yang ia harapkan dan ia inginkan. Dengannya, seseorang bisa lantang mengutarakan tentang buruknya kondisi sosial lingkungan sekitarnya. Bahkan, tidak sedikit juga kita dapati mereka yang mengutarakan kritik atas kelaliman para pejabat yang sudah terlanjur merajalela di mana-mana.

Pramoedya, seperti penulis beraliran realisme-sosialisme idolanya, Maxim Gorky, adalah contoh nyata atas orang-orang yang menggunakan sastra sebagai senjata. Latar belakang lingkungan dan sosial yang dia hidup di dalamnya, membuat ia terpecut dan terlecut untuk menelurkan novel “Bumi Manusia” sebagai bagian dari karya sastranya. Novel tersebut, beserta siratan kritik pada mantan orang nomor satu di Indonesia atas sifat liciknya untuk menduduki jabatan presiden dalam novel lain karangannya berjudul “Ken Arok dan Ken Dedes”, malah justru menciptakan pedang bermata dua yang balik melukai dan membuatnya mendekam di penjara bertahun-tahun lamanya.

Selain Pramoedya, jagad sastra sebagai senjata dan bagian dari sebuah romansa perjuangan bukan lagi hal yang baru dalam sejarah manusia. Di Indonesia sendiri, Chairil Anwar menunjukkan betapa kata-kata sastra mampu menggerakan ribuan umat manusia. Harapan dan keinginannya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, menjelma dalam sajak-sajak indah puisi yang ia ciptakan. Bahkan dari negara tertinggal seperti Pakistan saja, keberanian menulis dari gadis bernama Malala Yousuefzai untuk mengutarakan apa yang sesungguhnya ia inginkan tentang pendidikan wanita di negara itu sudah cukup menjadi sebuah simbol perjuangan bagi para wanita lain yang ada di sana.

Dari Amerika, nama Harper Lee masuk ke dalam jenis ini. Keinginannya untuk menggungat rasisme terhadap orang-orang berkulit hitam di sana, membuatnya termotivasi untuk menulis novel To Kill Mockingbird dengan sudut pandang gadis polos yang keluarganya mendapat tekanan akibat sang ayah yang membela negro di pengadilan. Novel ini kemudian mendapat penghargaan Pulitzer Award 1961 dan membuat Harper Lee dianugerahi Presidential Medal of Fredom 2007, The Highest Civilian Honor USA.

Setali tiga uang dengan senjata, sastra juga kerap dipergunakan sebagai bungkus, wadah. Keinginan dari sang penciptanya untuk memberikan pesan dan amanat tanpa bernada menggurui adalah faktor utama lahirnya beberapa karya sastra yang masuk dalam jenis ini. Dalam kitab suci umat Islam sendiri, Tuhan berkali-kali memberikan pesan dan amanat lewat kisah-kisah historis yang sengaja benar Ia ceritakan. Ia ingin mengajak umat manusia merenung, menyadari, dan memikirkan makna dan hikmah apa yang terkandung dalam kisah-kisah umat terdahulu tersebut.

Tokoh-tokoh filsafat modern ditengarai banyak memanfaatkan karya sastra sebagai wadah juga. Mereka membungkus pemikiran mereka dalam cerita-cerita, baik itu novel maupun cerita pendek. Sebut saja nama Jean Paul Satre yang menyampaikan gagasan “Neraka adalah orang lain”-nya dalam cerpen No Exit. Dari tokoh filusuf muslim sendiri, nama Ibn Tufail jadi yang pertama dengan kisah Hayy bin Yaqdzon di mana kemudian kisahnya diadopsi menjadi kisah Tarzan oleh dunia barat.

Sesungguhnya, sastra yang bisa digunakan sebagai senjata maupun sebagai wadah ini, pada akhirnya dapat dipertemukan dan dileburkan dalam satu titik di mana sastra dipergunakan sebagai penafsir zaman. Entah kita sadar atau tidak, keprihatinan atas kondisi zaman di mana kita hidup hari ini sudah mencapai puncak-puncaknya. Kejahatan manusia seperti yang tengah terjadi di Palestina dan Suriah yang tidak berujung, kegaduhan politik dan lain sebagainya adalah sedikit dari ratusan problema yang telah menghantam umat manusia. Karena itulah, fleksibelitas sastra sebagai senjata sekaligus bungkus akan mempercantik kandungan amanat yang hendak kita sampaikan. Agar tak ada kesan, siapa menggurui siapa.

 

Profil Penulis

Munandar Harits W
Munandar Harits W
Pria kelahiran Boyolali 15 Juli 1996
Hosting Unlimited Indonesia