Pada 1759, Candide, sebuah novel karangan penulis Prancis François-Marie Arouet atau yang dikenal sebagai Voltaire, diterbitkan. Itu novel yang mengolok-olok paham optimis yang menyebut “dunia ini adalah yang sebaik-baiknya di antara yang mungkin diciptakan Tuhan”.

Sepanjang novel tersebut, alih-alih sebagai “yang terbaik di antara yang mungkin”, dunia tersuguhkan sebagai sebuah ruang dan waktu di mana isinya melulu penderitaan dan penderitaan. Pada novel itu penderitaan menyentuh siapa saja, baik kalangan atas maupun bawah, orang-orang luar biasa maupun orang biasa, pendeta maupun bukan—penderitaan tak kenal suku, agama, maupun kelas.

Menyoal penderitaan, mau tak mau membuat saya teringat ungkapan Yuval Noah Harari dalam bukunya 21 Adab untuk Abad ke-21. Dalam bagian-bagian akhir buku karya penulis Sapiens dan Homo Deus, ia berulang-ulang menekankan bahwa “penderitaan adalah hal yang paling nyata di dunia”.

Pada halaman 311, ia menulis sesuatu yang patut digarisbawahi: “Dari semua ritual, pengorbanan adalah yang paling ampuh, karena dari semua hal di dunia, penderitaan adalah hal yang paling nyata. Anda tidak pernah bisa mengabaikannya atau meragukannya.”

“Jika Anda ingin membuat orang benar-benar percaya pada beberapa fiksi, bujuk mereka untuk berkorban atas namanya. Setelah Anda menderita demi sebuah cerita, biasanya cukup untuk meyakinkan Anda bahwa ceritanya adalah nyata,” tulisnya pada halaman berikutnya.

“Jika Anda berpuasa karena Allah memerintahkan Anda untuk melakukannya, perasaan lapar yang nyata membuat Allah hadir lebih dari patung atau ikon apa pun. Jika Anda kehilangan kaki Anda dalam perang patriotik, tunggul dan kursi roda Anda membuat negara lebih nyata daripada puisi atau lagu kebangsaan apa pun. Pada tingkat yang kurang megah, dengan lebih memilih untuk membeli pasta lokal yang berkualitas rendah daripada pasta impor dari Italia yang berkualitas tinggi, Anda mungkin telah membuat pengorbanan kecil harian yang membuat negara terasa nyata bahkan di supermarket.”

Rasanya terlalu panjang saya mengutip Harari. Namun paling tidak, setelah membaca kalimat-kalimat di atas penderitaan makin terlihat “nyata” di mata kita. Penderitaan dan betapa teruknya dunia bukanlah hal asing sejak dunia pertama kali diciptakan—apa pun keyakinanmu soal asal-mula penciptaan.

Adam menderita karena hidup sendirian, lalu setelah Hawa muncul ia kembali didera pedihnya perpisahan, lalu tersiksa melihat keturunannya berselisih karena perempuan. Nuh menderita karena dakwahnya ditolak bahkan oleh anak dan istrinya yang kemudian ditelan banjir bandang. Yaqub (yang merupakan bapak Bani Israil dan muasal sebutan Yahudi) menderita karena putra tercintanya Yusuf hilang. Kita bisa menderet seluruh nama Nabi maupun bukan Nabi sepanjang jutaan tahun perjalanan umat manusia dan kita takkan kehilangan bagian di mana mereka semua merasakan penderitaan—apa pun bentuknya.

Kabar baiknya (atau kabar buruknya?) penderitaan bukan hanya milik manusia. Hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, bahkan benda-benda mati pun turut merasakannya. Dan kebanyakan penderitaan makhluk-makhluk non-manusia tersebut adalah akibat ulah manusia. Kucing-kucing tanpa dosa yang disabet, ayam-ayam diadu demi kesenangan sendiri, pohon-pohon ditebang demi meraup untung, gunung-gunung dikeruk, bumi dibor, laut dicemarkan, dan masih banyak lagi jumlahnya—setara dengan jumlah penderitaan yang ada di dunia.

Perihal dosa manusia terhadap alam dan manusia-manusia lain, daftarnya bisa menjadi lebih panjang sekaligus akan tampak semakin nyata jika film-film dokumenter Indonesia semisal “Sexy Killers” (2019)—yang belakangan sangat viral dan ditonton belasan juta orang dalam waktu kurang dari seminggu, “Rayuan Pulau Palsu” (2016), dan “Samin vs Semen” (2015) disertakan.

Namun, bukan maksud tulisan ini untuk mengulas film-film tersebut.

Lalu, salah siapa? Siapa tokoh yang membuat penderitaan berkembang-biak dan subur di dunia fana ini? Apakah manusia? Apakah makhluk berbentuk pipih yang suka mengendarai piring terbang? Apakah setan? Apakah Tuhan?

Tak penting betul mengetahui siapa penyebab segala penderitaan ini ada. Kalau pun “ia” diketahui dengan pasti, itu tidak akan membuat penderitaan lenyap dari muka bumi.

***

Pada awal 2019 Dea Anugrah menerbitkan buku Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Itu bukan buku yang mengajarkan kita agar menjalani hidup dengan penuh optimistis. Sebaliknya dalam buku kumpulan esai itu malah banyak terdapat kisah-kisah tentang penderitaan, rasa sakit, dan kesedihan.

Apa poin yang bisa kita ambil? Bahkan, dalam sebuah buku berjudul “optimistis” sekali pun penderitaan tetap nyata dan ada dan memang begitulah.

Lagi pula optimistis tak selalu sejalan-seiring dengan baik dan bagus dan terpuji dan semacamnya. Justru, dalam bukunya itu Dea menyitir perkataan Emil Cioran yang menyinggung sikap optimistis. Begini bunyi kutipan perkataan tersebut: “Tak ada yang bunuh diri kecuali orang-orang optimistis.”

***

Penderitaan begitu banyak dan tak henti-henti—tak diragukan lagi. Namun, tulisan ini tak hendak membuatmu untuk menjadi putus asa atau pasrah pada setiap penderitaan. Bagaimana pun, hidup memang begitu teruk, namun bukan berarti tak ada yang bisa kita lakukan dan perjuangkan.

Membaca buku bagus, menonton film bagus, mengobrol dengan kawan yang asik, menikmati pemandangan desa, mengenang masa kecil, melihat anak-anak bermain dan tertawa, membantu orang yang kesusahan—semua itu adalah bagian yang menyenangkan dari hidup dan bisa meredakan penderitaan.

Penderitaan hanya bisa diredakan dan tak pernah bisa benar-benar dimusnahkan—di dunia ini. Tak seperti judul buku Dea. Hidup begitu teruk dan hanya itu yang kita punya. (*)

Bandung, 19 April 2019

Profil Penulis

Erwin Setia
Erwin Setia
Lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.
Hosting Unlimited Indonesia