Di hadapan zaman yang berlari kian kencang, sastra hadir seperti sirup lebaran. Ia berubah bentuk sesuai zaman, sesuai kehidupan manusia. Baru beberapa waktu lalu kita dihebohkan dengan buku elektronik, bahkan ada gawai yang khusus diciptakan untuk membaca buku saja. Padahal dulu buku selalu identik dengan kertas, yang baru bau lem dan yang lama bau rayap.

Kini buku tak lagi harus punya bau. Bahkan sesuka hati bisa diatur jenis dan ukuran hurufnya. Bagi sebagian orang, kehadiran buku elektronik membuat buku tidak lagi terasa eksklusif, bagi sebagian lagi justru sebaliknya. Buku menjadi lebih merakyat, karena semua orang punya hp dan semua orang bisa meminjam buku dari perpustakaan digital.

Lain ceritanya jika kita mau membahas hari esok. Hari kemarin kertas, hari ini layar telepon genggam, dan hari esok adalah suara. Jika anda tidak percaya, saya baru saja mulai membuka saluran podcast. Benar-benar terkejut juga karena ternyata di Indonesia sendiri podcast sudah mulai berkembang. Masa depan sudah terlihat, pemirsa. Dan ternyata Nyimpang juga punya podcast. Bisa anda cek di spotify atau layanan podcast lainnya, silakan cari: Nyimpangdotcom.

Jika anda tidak tahu podcast, padanan bahasa Indonesianya adalah siniar. Kata Wikipedia, Siniar (bahasa Inggris: podcast) atau siaran web tan-alir (non-streaming webcast) adalah serangkaian berkas media digital (baik audio maupun video) yang diterbitkan sewaktu-waktu dan sering diunduh melalui penyalur-sedia web (web syndication). Kata ‘podcast’ menelantarkan istilah ‘webcast’ dalam bahasa sehari-hari, karena meningkatnya kegemaran iPod dan pasokan web (web feed).

Secara ringkasnya, podcast atau siniar itu tidak jauh dengan radio. Ada seorang podcaster yang bicara ngalor-ngidul entah dimana, kemudian rekamannya ini diunggah ke internet, kemudian orang-orang bisa mendengarkan rekaman dari siaran itu. Sebetulnya podcast sudah diminati di luar negeri sejak beberapa tahun lalu, tapi di Indonesia tampaknya tahun ini atau tahun depan baru akan populer.

Nah, dari perkara podcast ini saya jadi tahu, bahwa suatu saat karya sastra akan menyusul perubahan bentuk. Buku akan dibaca, disiarkan oleh seseorang di internet dan orang hanya perlu mendengarkan. Ini jauh lebih sederhana dan benar-benar ide bagus untuk tetap melahap bacaan di dunia yang kian sibuk.

Seiring berkembangnya podcast, akan muncul apa yang disebut audiobook alias buku audio. Di Indonesia sendiri ada beberapa penyedia audiobook, tapi tampaknya memang belum laku karena ‘belum zamannya’. Inilah masa depan kita, manusia makin rumit dan sastra akan bergerilya menaklukkan zaman.

Barangkali bagi para pekerja kantoran atau bagi orang-orang yang menghabiskan banyak waktu di jalanan, audiobook akan menjadi teman mereka selanjutnya. Kita akan terbiasa mendengarkan kisah cinta yang dibacakan oleh seseorang dengan suara merdu di ujung sana sambil menatap hujan dari balik kaca jendela bis.

Saya memiliki setumpuk buku terbitan lawas di rumah, seperti cerita-cerita terjemahan balai pustaka. Count de Monte Cristo misalnya, roman Perancis karangan Alexandre Dumas itu sudah menguning karena tidak maksimal dirawat, sebagian majalah lawas saya bahkan habis dimakan rayap.

Tapi kemudian saya memiliki telepon seluler, perangkat komputer dan laptop yang terkoneksi ke dalam satu akun penyimpanan berbasis cloud, semua buku elektronik dan data aman. Ini semua tentu saja karena tuntutan zaman, lebih baik membaca ribuan buku lewat ponsel yang bisa dibawa kemana-mana tapi tidak makan banyak tempat.

Bahkan saya sempat berpikir, dengan adanya teknologi AR dan VR yang sedang hangat dibicarakan beberapa tahun belakangan, buku barangkali akan diadaptasi ke dalam bentuk yang sama. Jadi kita bisa masuk ke dalam cerita, menjadi si tokoh utama, dan keputusan-keputusan yang diambil akan mempengaruhi jalan cerita. Seperti permainan visual novel, tapi dalam bentuk yang jauh lebih nyata.

Mari kita berpikir sedikit mengawang-awang, membayangkan bahwa buku sebenarnya sudah bertahan hidup ribuan tahun lamanya. Dari cerita yang ditulis di permukaan batu seperti prasasti, atau buku yang ditulis di atas dedaunan. Buku–atau mungkin karya sastra–adalah salah satu hal yang berpotensi hidup abadi.

Setelah saat ini audiobook mulai digemari di beberapa negara barat, dan mungkin di Indonesia secepatnya, barangkali akan muncul augmented reality-book. Siapa tahu juga suatu saat nanti cerita di dalam buku bisa disuntikkan ke dalam kepala manusia, atau ditanam dengan perantara chip, membuat kita bisa mengalami kejadian seperti cerita yang ditulis. Mungkin juga kita bisa menghapus kenangan kita dan mengubahnya dengan bait-bait syahdu para penyair.

Tapi tentu ada beberapa hal yang tidak bisa dihapuskan. Pertama adalah aroma kertas buku, dan tumpukan indah buku di atas rak atau lemari. Kita semua pasti setuju jika aroma buku adalah salah satu aromaterapi paling menenangkan dan menyenangkan.

Buku seperti Ouroboros, lingkaran keabadian. Ia berada dalam fase penciptaan sekaligus penghancuran. Orang meninggalkan menulis di atas daun dan beralih menulis di atas kain, orang menghancurkan kebiasaan membaca buku berbentuk kertas dan menciptakan tren membaca buku elektronik.

Buku adalah benda abadi, ia hanya berganti bentuknya saja dari zaman ke zaman. Sedangkan manusia hanyalah titik kecil yang berdiri di tengah-tengah lingkaran keabadian itu, sambil menatap penuh takjub. Betapa lingkaran keabadian terus berputar, jauh lebih cepat mengitari kefanaan manusia.

Profil Penulis

Azi Satria
Azi Satria
biasanya disapa Azi Satria lahir di Ciamis dua tahun setelah pergantian milenium. Menempuh pendidikan di SMAN 1 Rancah dan memiliki ketertarikan akan dunia seni, sastra dan filsafat. Rajin menulis di media daring maupun luring sebagai pemanasan menyambut masa depannya.
Hosting Unlimited Indonesia