Emma baru berusia 21 tahun tetapi ia sudah ingin menempuh operasi penyusutan payudara. Ukuran payudaranya memang sangat besar (34GG) dan menurut Emma ini tidak proporsional untuk tubuhnya. Dan payudaranya ini tipe yang menggelepai dan Emma sungguh tak suka dengan hal ini; di matanya payudara dengan bentuk seperti ini lebih cocok ada pada perempuan berusia 70-an tahun dan bahwa payudara tersebut ada padanya dinilainya sungguh menjijikkan. Kondisi payudaranya ini membuat Emma tidak percaya diri; ia bahkan selalu menolak ajakan berkencan sebab ia tak ingin calon pasangannya itu melihat payudaranya. Bisa dibilang, kondisi payudaranya ini membatasi Emma dari melakukan hal-hal yang sejatinya sangat ingin ia lakukan.

Emma mengemukakan keluhannya tersebut sambil sesekali terisak. Baginya, ini bukan masalah sepele. Ia membayangkan setelah ia memperoleh ukuran dan bentuk payudara yang diinginkannya ia akan bisa menjalani hidup yang normal, di mana ia adalah seorang perempuan yang percaya diri dan karena itu bisa melakukan hal-hal yang tadi sangat diinginkannya itu. Ia bahkan rela kelak kehilangan kesempatan untuk menyusui bayinya sebagai efek samping dari operasi yang akan ditempuhnya. Dengan tegas, Emma mengatakan bahwa ia tidak ingin menjalani hidup sebagai seorang perempuan yang didefinisikan oleh (kondisi) payudaranya.

Mencermati kasus ini sekilas, kita mungkin berpikir bahwa masalah Emma memanglah kondisi payudaranya. Tetapi coba perhatikan kalimat terakhir di paragraf sebelumnya. Di sana, secara kentara, terkatakan bahwa kondisi payudara Emma ini menjadi masalah karena ia didefinisikan seperti itu; ada pihak(-pihak) yang mendefinisikan kondisi payudara Emma sebagai sesuatu yang bernilai buruk untuk seorang perempuan muda sepertinya. Pertanyaannya kemudian: siapa pihak(-pihak) yang yang secara sewenang-wenang melakukan pendefinisian ini?

Budaya Populer, Patriarki, dan Tubuh yang Terdefinisikan

Tentu jelas bahwa pendefinisan tersebut dilakukan oleh Emma, tetapi ini harus kita posisikan sebagai produk, sebagai sesuatu yang berada di hilir. Proses dari hulu ke hilir inilah yang harus kita coba urai. Misalnya, kita bisa bertanya-tanya kenapa Emma sampai melakukan pendefinisian yang sifatnya negatif ini padahal ia sebenarnya bisa saja melakukan pendefinisian lain yang sifatnya positif. Dan jawabannya barangkali adalah ini: karena pendefinisian yang negatif tersebut sudah menjadi semacam keumuman, sesuatu yang disepakati bersama, sehingga Emma pun pada akhirnya mau tak mau ikut melakukannya.

Dengan kata lain, Emma menilai kondisi payudaranya itu buruk untuknya karena orang-orang di sekitarnya menilainya demikian. Atau, begitulah setidaknya yang diyakini Emma.

Namun kenapa orang-orang itu menilainya demikian? Apakah penilaian ini mereka berikan atas inisiatif mereka sendiri? Atau, ada sesuatu sistemik yang menggerakkan mereka tanpa sedikit pun mereka menyadarinya?

Jika kita berpikir sebagai seorang sosiolog beraliran strukturalis, kita akan cenderung meyakini yang terakhir disebut. Orang-orang itu, sebanyak apa pun mereka, pada dasarnya ada dalam kendali sebuah sistem yang begitu kuat, yang bukan hanya mengendalikan mereka tetapi juga mengekang mereka. Sistem ini membatasi mereka melakukan sesuatu sekaligus membuat mereka terpaksa melakukan sesuatu. Misalnya, orang-orang itu sesungguhnya bisa dengan relatif mudah mengubah penilaian mereka atas kondisi payudara Emma menjadi jauh lebih positif, tetapi sistem yang mengendalikan dan mengekang mereka tidak membiarkan mereka melihat opsi-opsi penilaian yang jauh lebih positif tersebut.

Lalu dalam wujud apa sistem ini? Banyak. Salah satunya adalah budaya. Dalam hal ini budaya populer dan patriarki yang melebur-satu.

Budaya populer bekerja sejalan dengan prinsip keumuman. Semakin banyak orang menyukai sesuatu, semakin sesuatu ini dinilai penting bagi masyarakat tersebut. Semakin banyak orang sependapat akan sesuatu, semakin pendapat mereka ini dianggap berlaku bagi semua orang di dalam masyarakat tersebut. Dan patriarki sementara itu meyakini bahwa laki-laki harus senantiasa superior atas perempuan. Maka, ketika keduanya melebur-satu, nilai-nilai yang dianggap berlaku umum bagi masyarakat tersebut adalah nilai-nilai yang memosisikan perempuan di bawah laki-laki. Dan mendefinisikan tubuh perempuan berdasarkan perspektif laki-laki, tentu saja, termasuk di dalamnya.

Payudara Emma yang sangat besar dan menggelepai itu, mudah ditebak, dinilai buruk karena si penilai menyukai payudara yang tak menggelepai dan mungkin tak sebesar itu. Dan kembali mudah ditebak, si penilai ini menggunakan perspektif laki-laki atas tubuh perempuan. Seorang laki-laki yang memiliki ketertarikan seksual terhadap perempuan menghendaki perempuan pasangannya, atau bahkan-bahkan perempuan di sekitarnya, memiliki tubuh yang proporsional yang bisa membangkitkan nafsu seksualnya, termasuk di antaranya adalah ukuran dan bentuk payudara si perempuan. Dan tak perlu disangkal bahwa kebanyakan laki-laki menghendaki payudara yang ada pada perempuan muda tidaklah menggelepai melainkan padat-berisi dan menonjol. Dalam hal ini, prinsip keumuman tadi bekerja. Budaya populer yang tercampuri nilai-nilai patriarki mendefinisikan bahwa seorang perempuan muda dengan bentuk payudara yang menggelepai tidak cukup mampu membangkitkan nafsu seksual laki-laki dan karena itu nilai tawarnya rendah. Si perempuan kemudian mau tak mau menerima pendefinisian ini, dan ia pun menjadi seperti Emma: menyalahkan kondisi payudaranya dan kehilangan rasa percaya diri.

Budaya Populer, Postfeminisme, dan Perspektif yang Keliru

Di sini kita harus jeli memahami bahwa yang menjadi masalah dari penilaian tersebut adalah ia bertolak pada perspektif laki-laki, lebih tepatnya perspektif laki-laki patriarkis. Si penilainya sendiri, sementara itu, belum tentu laki-laki; ia bisa saja perempuan atau perempuan-laki-laki (shemale), atau yang lainnya. Pada kasus Emma pun demikian. Emma, seorang perempuan, justru menilai payudaranya—dan kemudian dirinya—dengan bertolak pada perspektif laki-laki patriarkis.

Tetapi bukankah ini aneh? Jika kasus Emma ini terjadi di abad ke-18, di mana feminisme belum lahir, kiranya jauh lebih masuk akal; sistem sosial yang masih sangat patriarkis ketika itu bahkan memungkinkan kasus semacam ini terjadi dengan frekuensi yang tinggi. Tetapi di abad ke-21 ini? Bagaimana bisa? Dan semakin aneh lagi jika kita mempertimbangkan masyarakat di mana Emma hidup, yakni masyarakat Barat di mana nilai-nilai feminisme semestinya telah meresap ke dalam sendi-sendi kehidupan mereka.

Penjelasan mengenai hal ini kita temukan saat kita menelusuri perjalanan feminisme. Sebagai respons atas perselisihan antar-para-feminis pasca feminisme gelombang kedua, di mana sejumlah banyak feminis menilai pornografi dan eksploitasi seksual sebagai sesuatu yang buruk bagi perempuan sedangkan sejumlah banyak feminis lainnya beranggapan sebaliknya, lahirlah apa yang kemudian disebut postfeminisme. Postfeminisme menolak feminisme dengan melihatnya sebagai sesuatu yang usang, yang tidak lagi relevan dengan zaman; sebuah masa di mana ruang gerak perempuan dan ruang gerak laki-laki sudah relatif berimbang—di Amerika Serikat. Postfeminisme juga memafhumi pornografi dan eksploitasi seksual dan bahkan membawanya lebih ekstrem lagi, yakni memafhumi juga objektifikasi seksual dan melihatnya sebagai bagian dari empowerment. Sederhananya, postfeminisme menolak feminisme namun menikmati situasi-situasi menguntungkan yang telah berhasil diwujudkan feminisme, dan di saat yang sama merangkul bahkan menumbuhkan kembali nilai-nilai patriarki.

Contoh konkretnya begini. Seorang perempuan memanfaatkan platform youtube atau media sosial seperti instagram untuk meraih popularitas dan tentu saja keuntungan finansial. Dalam upaya mencapai kedua hal tersebut, ia memosisikan tubuhnya sebagai aset, sebagai produk untuk dinikmati—dipandangi. Ia menyajikan tubuhnya sebagai objek tatapan lelaki dan ia tidak menilai ini buruk sebab dalam benaknya ia tetap memiliki kontrol atas tubuhnya; kendati di mata para penikmat tubuhnya itu ia adalah objek, di matanya sendiri ia adalah subjek. Ia tak peduli kalaupun cara yang ditempuhnya ini secara tidak langsung menguatkan kembali budaya patriarki, membuat para lelaki kembali berpikir bahwa seorang perempuan dengan tubuh yang “menawan” memang sudah sewajarnya dikenai objektifikasi. Bahkan, lebih jauh lagi, ia pun berpikir bahwa sudah semestinya seorang perempuan memiliki bentuk tubuh atau penampilan yang “enak dipandang”, dan di saat yang sama menilai rendah perempuan-perempuan yang malas membentuk tubuh atau menjaga penampilan mereka. Dan di sini, tentu saja, ia menggunakan perspektif laki-laki patriarkis.

Seperti itu jugalah kiranya kasus Emma tadi. Tak bisa dimungkiri, di antara para perempuan sendiri banyak yang beranggapan bahwa payudara pada seorang perempuan muda sebaiknya memang padat-berisi dan menonjol, bukannya lembek dan menggelepai. Mereka tidak sadar bahwa dengan beranggapan seperti ini mereka sesungguhnya sedang membenarkan anggapan para lelaki yang melihat mereka sebagai objek itu. Jika saja mereka berpikir sebagai diri mereka sendiri, yang terbebas dari kontaminasi patriarki, mereka akan melihat bentuk payudaranya itu sebagai bagian dari diri mereka, sebagai sesuatu yang sifatnya netral—tidak negatif dan tidak juga positif—dan karena itu tak layak disalahkan apalagi dibenci.

Dan sayangnya kekeliruan mereka ini justru mendapat dukungan dari budaya populer yang tersebar massif lewat ruang-ruang kreatif seperti industri film. Hollywood, misalnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa aktris-aktris Hollywood yang payudaranya besar—Christina Hendricks, misalnya—cenderung diberi peran yang membuat mereka rentan dikenai objektifikasi seksual, seolah-olah memang sudah takdir mereka untuk mendapatkan peran seperti itu. Dampak dari hal ini adalah terbentuknya perspektif bahwa seorang perempuan dengan payudara yang besar memang akan selalu berakhir sebagai objek, sebagai sesuatu untuk dinikmati—oleh laki-laki. Lambat-laun timbul juga pemahaman keliru di benak si perempuan bahwa memiliki payudara yang besar adalah sebuah kesalahan sebab itu rentan membuatnya dikenai objektifikasi seksual, juga di saat yang sama dipandang rendah atau murahan oleh perempuan-perempuan lain dan masyarakat itu sendiri.

Pada kasus Emma, yang terakhir disebut barusan lumayan terlihat, meski konteksnya agak lain. Emma tidak percaya diri. Ia menilai dirinya tak menarik, buruk, bahkan salah. Dan mirisnya adalah Emma sepenuhnya menimpakan tanggung jawab kepada dirinya sendiri—ia akan mengubah bentuk dan ukuran payudaranya. Kalau saja budaya populer menempatkan perempuan-perempuan seperti Emma ini pada posisi tawar yang baik, saya kira kasusnya akan jauh berbeda. Setidaknya Emma tidak akan sampai menyalahkan dan membenci kondisi payudaranya itu, yang artinya ia tidak akan sampai terpikir untuk menempuh operasi penyusutan payudara di usianya yang masih sangat muda, yang berarti ia juga tidak mengorbankan kesempatan berharganya untuk menyusui bayinya kelak. Dan ini tentu sesuatu yang baik baginya.

Kira-kira, begitulah pembacaan kita atas kasus Emma. Ia bertolak pada perspektif yang keliru dalam menilai payudara dan tubuhnya, tetapi di sini posisinya adalah korban; ia korban dari masyarakat yang menggunakan perspektif yang keliru dalam melihat tubuh perempuan. Namun masyarakat ini sendiri pun adalah korban, yakni korban dari sistem yang mengendalikan sekaligus mengekang mereka, yang membuat mereka menggunakan perpektif yang keliru tersebut dan melihatnya sebagai sebuah kewajaran belaka—postfeminisme dan budaya populer yang melebur-satu dengan patriarki tadi. Maka, idealnya, perbaikan dilakukan terhadap sistem tersebut; kalau perlu sistem tersebut dihancurkan dan sebagai gantinya dibentuk sistem lain yang jauh lebih baik. Adapun yang bisa kita lakukan sebagai langkah awal untuk mewujudkannya, salah satunya, adalah memberikan edukasi kepada orang-orang di sekitar kita tentang perspektif seperti apa yang sebaiknya kita gunakan dalam melihat tubuh perempuan. Mereka, terutama, harus diberi pemahaman soal bagaimana selama ini tubuh perempuan berelasi dengan budaya populer dan postfeminisme.(*)

—Bogor, 24-25 April 2019

Keterangan

Video terkait kasus Emma ini ditayangkan di youtube dengan judul “Woman’s Life Ruined by Large Breasts” (tonton: https://www.youtube.com/watch?v=abTK2A7NisU&list=LLzmqSF2nPt9AyQiRCr9EisA&index=25&t=0s)

Hosting Unlimited Indonesia