

Ternyata tawa bahagia bisa berjalan selaras dengan tangis sendu
Ternyata permukaan tidak sepenuhnya mendefinisikan bagian dalamnya
Ternyata tak sepenuhnya surat dalam hati tersampaikan dengan rapi
Jauh di sana, ada suara yang berusaha memanjat tangga untuk keluar dari belenggunya
Jauh di sana, ada ribuan surat yang tertimbun sebab merasa tak ada yang memahaminya
Jauh di sana, ada hasrat untuk dipahami tanpa ingin ditanya mengapa
Namun pada akhirnya hanya bisa berkata: ya sudahlah mau bagaimana lagi.
Bagaimana jika episode menjahit robekan baju ini tak kunjung usai?
Bagaimana jika benangnya putus? atau–
Bagaimana jika jarumnya patah?
Bagaimana jika benar-benar sudah tak bisa diperbaiki?
Lalu dibuang, kedinginan, kepanasan, tanpa sedikitpun perhatian
Waktu demi waktu muncul robekan lainnya
Terkena hujan, terterpa angin, tertimbun tanah
Lalu mati tanpa ada pemiliknya.
Butiran air satu demi satu menetes membasahi atap tua
Tubuh muda terbaring di atas kapuk dalam dinding yang usang
Penuh dengan gejolak tekanan tak terucap
Hujan tak hanya membasahi jalanan
Namun, juga mengalir di atas pipi
Seakan tersesat di hutan belantara, tubuh muda memanggil tuhannya dan bertanya
Oh Tuhan, mengapa manusia mengancam? padahal ia bukan engkau
Oh Tuhan, mengapa manusia menghukum? padahal ia bukan engkau
Mengapa manusia ingin mencuri kehidupan? padahal ia bukan engkau
Mengapa tubuh muda ini seakan ngeri dengan kekecewaan
Tubuh muda ini rapuh bagai ranting kecil
Mencari tempat berlindung, dan juga mencari tempat lainnya yang membenarkan.
Seorang mahasiswa sastra yang lahir di tanah melayu sumatera dan tengah mencari ilmu di tanah jawa. Bukan penulis hebat, tapi lagi usaha biar bakatnya bermanfaat. Suka bikin konten baca puisi di Tiktok dengan akun @sansannnnnn9
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!