Ensiklopedia Jam Karet

Tiga ribu enam ratus detik

Enam puluh menit

Dua puluh empat jam perhari, unik

Partikel lateks dengan polimer hidrokarbon

Dari getah perca serta dandelion

Menghasilkan elastisitas, bersifat molor

Ensiklopedia jam dan karet

Membuat cemas juga gelisah

Arah jam didinding dan di pergelangan tangan semua menunjuk sama

Waktu semakin melewati batas

Apa tak ada harga pada sesuatu yang sia-sia

Duduk dan bergumam

Katanya, “lebih baik telat bersama daripada tepat waktu tapi sendirian”

Akhirnya saling tunggu jadi budaya

Bahaya

Pemakaian jam karet bertambah pengguna

Detak Detik

Detik terus berdetak

Penantian yang membuat penat

Bagai artefak

Terkubur menghilang tak berkabar

Tak ingat aku yang kau janjikan

Kau yang buat, kau yang lumat

Pikirmu, hatimu, mulutmu seenaknya berucap

Seperti tak berbeban meminta waktu pertimbangan

Kawan, detaknya detik kenapa kau permainkan ?

Waktu Kita

Ke mana perginya cahaya,

Tersesat karena senja atau hanya menetap dalam lensa ?

Ke mana perginya merdeka,

Hanyut terbawa nestapa atau termakan buasnya jagat raya ?

Ke mana perginya waktu yang berharga,

Terbuai asmara atau tertelan alam semesta ?

Arloji Omong Kosong

Air langit kembali mengunjungi tanah

Bukan penghalang untuk kau terus berpijak

“arloji omong kosong” umpat kau.

Lutut keriputmu lagi-lagi bergetar

Dingin membuatmu terbatuk-batuk

“arloji omong kosong” umpat kau.

Lalu kau pergi melangkah sempoyongan menebas hujan

Menuju kedai sepi diujung jalan

“arloji omong kosong” umpat kau.

Kopi panas yang kau teguk telah habis

Sembari mengingat perkataan arloji

Ternyata sudah tiga puluh menit arloji ingkar janji

Kau sipitkan mata menuju halte tempat kau berpijak tadi

Kemudian tersentak tubuhmu bangkit dari duduk dengan kecil hati.

“arloji omong kosong!!”

Halte kembali melengang

Dan kau tertinggal

Darahmu Menjadi Milikku

Siangmu juga siangku

Hei kau, manusia

Malammu juga malamku

Wahai manusia pemakan segala rasa

Subuhmu juga subuhku

Manusia yang urung lepas landas terkurung euforia

Darahmu juga sekarang menjadi darahku

Dari aku yang tepat waktu menghisap sebelum kau berhasil menepak

Profil Penulis

Kania Tresna Palupi
Kania Tresna Palupi
Mahasiswa yang juga pekerja