Endapan, Kenang, Kening, dan Puisi Lainnya

Menampung Musimmu

 

Satu kata pengandaian, menempatkan tubuhmu. Seketika ada di luar batas bias.

Lalu senyum itu—sekuntum ranum. Terkulum santun oleh bahasa denyut kepada dada.

Kau menjadi udara untuk setiap napas dari dedoa. Bergumul dengan mega di wajah cuaca matanya.

Di sana, kemarau dan hujan menuliskan pancaroba. Rindu dan cemburu adalah gemuruh yang menghujamkan riuh di dadaku.

Akan tetapi, aku bukan sebatang randu—terima guntur dan gugur, biar aku bentala, menjadi punggung untuk setiap musim di matamu.

Biarlah koyak mencatat ketabahanku di setiap kerutan usia.

 

Gresik, 22 Maret 2026

 

 

 

Bukan sebagai Andai

 

Pernah kita sepakati.

Setiap ucap adalah jejak merayap.

 

Sekali lagi, ingin kuhindari kata andai, pun sebagai.

 

Sebab akan lenyap keberadaan,

sekadar pijakan kaki-kaki jemari

kerap menuliskan bahasa sepi.

 

Hanya kau yang kuinginkan.

Tanpa ini, tanpa itu,

dingin bayanganmu,

sentuhan lembut bibirmu.

 

Setiap helai rambutmu

menjelma tekstur pada kulit tanganku,

tak henti mengusap kening hingga sampai ke palungmu.

 

Malam-malam kita tersimpan dalam detik,

di antara napas saling menunggu.

 

Diam menjadi saksi,

menyimpan rahasia dalam gelap,

hingga kata-kata kehilangan beban.

 

Tanganmu yang jauh

peta bagi rinduku,

menuntun setiap debar,

hingga dunia

menyusut

hanya untuk kita berdua.

 

Gresik, 22 Maret 2026

 

 

 

Endapan

 

Malam menempel di kaca jendela

embun mengeruhkan kota

namamu sempat terbaca, lalu larut

napas menipis di ambang bening

 

Aku menjauh

jalan itu masih menyimpan langkahku

persimpangan menahan berat

lampu bergetar di genangan

cahaya pecah ke dalamnya

 

Kota menimbun kita diam-diam

jejak tinggal tanpa bentuk

 

Beberapa halaman kucabut dari hidupku

kertas basah oleh malam

suaramu terlipat di sela kalimat

 

Sekarang halaman berbalik sendiri

sunyi duduk membaca ulang

 

Hatimu berpindah tanpa tanda

pagi masih hangat

sore jatuh ke air yang tak selesai

 

Aku tertinggal

memungut cahaya dari telapak tangan

serpihnya menggigit mata

 

Angin lewat

sebelum sempat kuberi nama

 

Di sungai itu

wajahmu muncul sebentar

lalu pecah bersama bulan

 

Aku berdiri di tepi

menunggu garis matamu utuh

 

Air terus berjalan

bayanganmu lebih cepat hilang dari sentuhan

 

Tubuhku ringan

debu yang lupa tanah

 

Kata-kata mengering di udara malam

surat kehilangan alamat

beberapa kalimat menetap di dada

 

Bangku tua masih mengenal tubuh kita

retaknya menyimpan lekuk

 

Dua napas pernah menghangat

percakapan jatuh seperti daun kering

 

Bayangan duduk lebih dulu

malam tidak perlu suara

 

Di dada ini masih ada bara kecil

redup

hampir menutup mata

 

Ia tak cukup terang untuk pulang

tapi menolak padam

 

Angin datang berkali-kali

bara itu belajar keras kepala

 

Kota ini belum selesai denganmu

trotoar menyimpan lembap

 

Lampu gemetar di permukaan

cahaya retak, tapi tidak jatuh

 

Udara malam membawa namamu

tanpa alamat

 

Aku meminjam cara batu:

tenggelam tanpa kehilangan nama

 

Arus lewat berulang

waktu mengikis permukaan

 

Di kedalaman

namamu tetap berdenyut

pelan

menolak hilang

 

Suatu malam langkahmu mungkin kembali

jalan ini masih mengenali bayangmu

 

Bangku tua tetap menunggu

kayu menyimpan sisa panas

 

Seseorang duduk di sana

diam

sabar

 

Bara kecil dijaga

 

Jam dinding memanggil

tak ada yang menjawab

 

Gresik, 24 Maret 2026

 

 

 

Kening

 

Bidang sunyi di atas mata

menyimpan aku

 

Setengah pijakan

 

Undakan naik tanpa suara

 

Yang tertinggal mengering

di permukaannya

 

Lintasan lain menggesek tipis

hampir tanpa bekas

 

Aku kini tinggal

di garis yang menahan runtuh

 

Serat dinding membuka celah

tempat benturan berulang

 

Di baliknya

denyut kecil berdiam

 

Di sisi luar

gurat bertambah

 

Pelan menjadi lipatan

 

Yang menetap

tanpa pernah diminta

 

Gresik, 25 Maret 2026

 

 

 

Kenang

 

Yang tertinggal

 

Halus

lebih kecil dari bunyi

 

Air merapat

pada permukaan yang nyaris diam

 

Getar menahan diri

di ujung daun

 

Sebelum angin sempat ada

 

Sesuatu menyusup

tanpa rupa pasti

 

Menanam namaku

sebagai butir

 

Di lipatan yang luput

 

Waktu mengendapkannya

dalam diam

 

Tumbuh satu garis

 

Merambat pelan

menyilang arah

 

Membuka cabang

yang tak selesai

 

Mekar

tanpa warna

 

Menguap

 

Sebelum dikenali

 

 Gresik, 25 Maret 2026

Lahir di Gresik, Jawa Timur, 24 Februari 1985. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif: Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025).Menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat inictengah mempersiapkan buku puisi terbarunya berjudul Dalam Semesta Matamu (2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!