

Jarum jam sudah menunjuk ke pukul dua belas dan mengeluarkan bunyi
Tang! Tang!
Itu panggilan alarm Shane untuk segera menyeduh teh sebelum para senior mencercanya. Mau tidak mau, tangannya harus melepaskan diri dari alat-alat tabung itu.
Ruang pantry yang selalu kosong itu menjadi tempat langganan Shane untuk berkunjung. Tak ada satu pun orang yang sering ke sini, karena mereka semua sibuk menempelkan hidung mereka ke alat tabung atau jurnal. Bahkan yang kepikiran untuk meminum teh atau air putih, mustahil untuk mereka yang sudah terlalu tenggelam. Maka dari itu, mereka melemparkan tugas menyiapkan minum itu pada junior mereka, Shane.
Deretan cangkir sudah dilabeli oleh nama-nama karyawan di sini telah menunggu Shane di rak kabinet.
“Ayo cepat gunakan aku!” bisik para cangkir dengan suara desas-desus padanya.
Bisikan itu memancing tangan Shane untuk bergerak, tetapi tidak sepenuhnya perhatian Shane. Namun, matanya sesekali melirik sekitar agar memastikan tidak ada sepasang mata pun di sini. Hanya suara dengung air conditioner dan dentingan cangkir. Sunyi.
Sayangnya, itu hanya sekejap.
“Shane! Cepatan!!”
Panggilan itu membuat tangan Shane menjadi gesit. Dia melirik ke teko panas baru diseduh pada dua menit yang lalu.
“Lama banget! Keburu makan siang selesai!”
Sabar. Sabar. Sabar.
Namun mulut Shane tetap tertutup rapat, tidak ada sahutan balik dilemparkannya. Tangannya dibiarkan sibuk untuk menuangkan air panas dari teko yang sudah mendidih ke semua cangkir setelah ditunggu selama beberapa menit. Masing-masing cangkir sudah diberikan kantong teh. Totalnya kira-kira ada tujuh cangkir teh.
Air yang bening tadi perlahan berubah menjadi cokelat pekat. Sorot mata Shane menjadi sedikit berbinar oleh perubahan warna air itu. Inilah saatnya.
Sebuah botol kaca kecil dikeluarkan oleh Shane dari saku celananya, berisi cairan berwarna hijau muda. Tutupnya yang berupa kayu dibuka hingga menimbulkan bunyi ‘poof’, lalu dimiringkan botol itu ke cangkir pertama.
Tes.
Ingatan Shane kembali melayang ke hari pertama dia bekerja, para senior menjelaskan tradisi menyeduh teh kepadanya sebagai junior baru. Sebelum mengajukan pertanyaan, bahunya terlebih dahulu ditekan oleh salah satu senior. Mata senior itu tertuju padanya dengan tajam, seperti mengatakan;
“Jangan pernah mengecewakan kami. Jangan pernah belagak. Selalu patuh pada kami.”
Akhirnya, Shane hanya bisa mengangguk. Di saat itu juga, matanya melirik ke junior lama. Dia bisa melihat kelegaan di tubuh dan wajahya.
Tes. Tes.
Beberapa hari yang lalu, Shane menunjukkan satu formula pada satu seniornya yang dianggap lebih baik dalam penggunaan. Justru dia ditertawakan dengan sinis.
“Formula macam apa ini?! Hei, dengar ya! Kamu ini cuma anak baru, belum ngerti apa-apa. Udah ikuti para senior yang lebih paham tentang standar di sini!”
Kertas-kertas berisi catatan itu tidak dilihat sampai tuntas, melainkan dibuang ke tempat sampah. Seakan kertas-kertas itu sudah ditakdirkan berada di situ.
“Jangan pernah ulangi lagi atau laporan kamu saya buang.”
“Baik, Senior.” kepala Shane hanya bisa menunduk, tetapi ada kedutan di alis dan ujung mulutnya. Kepalan tangannya mengepal kuat, seperti ingin menghajar orang.
Tes. Tes. Tes.
Sebelum masuk ke ruang santai, Shane tidak sengaja mendengar bisikan dari para seniornya.
“Junior kali ini aneh ya? Anaknya diam banget.”
“Udah diam, sok pintar pula. Masa dia kemarin kasih saran formula nggak jelas?!”
“Huh, padahal junior kemarin gak kayak dia.”
“Aduh, semoga yang begini nggak repotin ke depannya deh.”
“Kita perpanjang aja ‘tradisi’ itu biar dia tahu diri!”
Lalu mereka tertawa. Suara tawa yang nyaring dan angkuh itu meluncur bebas dari mulut-mulut enteng tadi.
Saat itu, ekspresi Shane tidak menunjukkan apa-apa, hanya datar. Barulah dia mengetuk pintu dan mengulas senyum ramah dan patuh pada mereka, seperti tidak pernah mendengar apa-apa. “Permisi, tehnya sudah siap.”
“Akhirnya!”
Ketika mereka mengambil cangkir teh mereka, satu dari mereka mengernyit saat mencicipi tehnya dan coba mengendus untuk mencari letak kesalahannya. Tidak ada, semuanya normal.
“Hm … Hanya perasaanku aja atau tehnya memang terlalu manis, tetapi ya sudah, lah.” gumamnya dengan tidak yakin, walaupun sesekali matanya melirik ke Shane seperti siap untuk menyalahkannya. Namun, hari ini, suasana hatinya terlalu bagus untuk memarahi seorang junior.
Sementara itu, Shane hanya melirik mereka dari kejauhan. Ekspresinya sudah kembali datar. Tangannya mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan mencatat sesuatu di sana.
‘… lidah objek mulai menunjukkan kepekaan terhadap rasa teh yang berbeda. Ternyata, Objek BS memiliki kepekaan terhadap indra perasa. Sepertinya, aku harus menambah campuran racun lain.’
Tanpa sadar, mulut Shane kembali berkedut, seperti ingin melengkung.
Tes.
Satu tetes cairan hijau muda itu berakhir di cangkir terakhir. Shane mengaduknya sampai bersatu dengan teh yang berwarna cokelat pekat, berkamuflase tanpa terlihat sama sekali.
Barulah saat itu, senyum mekar lebar di bibir Shane hingga deretan gigi yang tidak pernah muncul, akhirnya muncul juga.
“Aduh, perutku sakit sekali.”
“Hoekkk!”
“Astaga!”
Seluruh penghuni laboratorium tidak bisa berdiri tegap, kebanyakan sedang mencengkram perut mereka seperti berusaha menghentikan tusukan demi tusukan yang panas. Beberapa ada yang bolak-balik ke toilet untuk coba buang air besar, tetapi berujung kehabisan tenaga akibat kebanyakan ngeden. Bahkan ada yang terduduk lemas saking sakit dan lemasnya dia.
Ekspresimen mereka harus terlantar, karena semua orang berfokus ke sakit perut mereka yang melilit. Hanya Shane yang bisa melanjutkan pekerjaannya sebagai asisten dari satu seniornya saat itu.
Meskipun, sesekali ekspresinya menunjukkan kekhawatiran dan kadang membantu beberapa seniornya untuk mengambil air atau obat sakit perut.
“Apa perlu saya panggil ambulans saja?”
“Ng-nggak usah! I-ini biasa!”
Shane mendesah, berusaha menahan diri untuk tidak memutarkan bola matanya. Emang manusia terlalu gengsi.
Bruk.
“Pak Don?!”
Semua orang langsung berkerumun ke tubuh Pak Don yang tergeletak di lantai, mulutnya mulai mengeluarkan liur berbusa dan bola matanya bergerak tak karuan. Beberapa berusaha untuk membantu, walaupun perut mereka sedang melilit tak karuan.
“Shane! Cepat minta resepsionis panggil ambulans!”
Shane yang berdiri terpaku, sedikit tersentak dan mengangguk seraya berlari menuju telpon yang berada di meja resepsionis. Kakinya memang berlari menuju meja resepsionis, tetapi matanya sempat melirik ke tubuh Pak Don mulai kejang-kejang. Tubuh itu menggeliat seperti ulat yang disiram air panas. Bedanya, bukan air panas yang disiram ke luar tubuh, melainkan air teh panas yang telah menjalar ke seluruh dalam tubuh.
Sebelum menuju meja resepsionis yang jaraknya cukup jauh dari laboratorium, Shane mengeluarkan buku catatan kecilnya dan pulpen. Matanya terus mencari bagian mana yang bisa ditulis sampai tertuju pada barisan nama, status, tanggal, dan catatan.
‘Nama Objek: Pak Don.
Inisial Objek: Objek PD
Tanggal: 3 April 20XX.
Status: Racun sudah bereaksi kuat.
Hari ini, aku menambahkan kira-kira dua tetes ke teh objek PD. Ternyata reaksinya luar biasa, seperti mulut berbusa dan kejang-kejang. Ini berarti racikan racunku berhasil.’
Shane menutup catatan jurnalnya dan menyimpannya kembali sebelum lanjut berjalan ke meja resepsionis. Langkahnya memang lebih cepat, tetapi penuh dengan kepercayaan diri. Ada siratan kepuasan dari langkah itu.
Kali ini, Shane tidak sabar bagaimana para objeknya akan menilai eksperimennya ini. Dia ingin melihat ekspresi mereka, antara kekaguman atau ketakutan?
Tunggu. Mereka hanya objek, seharusnya lebih cocok ketakutan. Itu akan jauh lebih memuaskan.
Lahir dan tinggal di Jakarta. Suka menulis sejak kecil, karena terlalu banyak berimajinasi sejak dulu. Sudah menulis beberapa puisi dan cerpen, tetapi baru memberanikan diri untuk publikasi cerpen ke media daring. Instagram dan X: @liliraven06
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!