

Mereka saling menghadap, bertukar pikiran, tetapi keheningan lebih tahu apa yang tak dikatakan.
Hujan turun deras. Memecah keheningan dua kursi tanpa penghuni yang menyaksikan kepergian dari orang-orang yang telah menghabiskan waktu di kedai Cemara tanpa kenal waktu, hingga dingin merayap tiba-tiba.
“Ruang ini kembali terasa hampa, ya.” Salah satu kursi dekat jendela membuka percakapan. “Aku selalu merasa lebih suka ada yang menempati di sini, daripada kosong tanpa seseorang.”
“Tapi katanya kau selalu terganggu jika ada laki-laki yang duduk di sana.” Kursi dekat pintu menyeletuk. “Kau bilang lebih baik kosong, tidak ada yang boleh menempatimu selain perempuan.”
“Tentu saja, aku ini, kan, kursi khusus perempuan.” Ia menjawab ketus.
“Kau tidak ingat, kenapa kita ditempatkan seperti ini? Selain biasanya laki-laki menempatimu karena posisimu dekat pintu, lebih aman dan nyaman perempuan berada di tempatku,” katanya merasa paling spesial.
Kursi di pintu menyeringai, ia enggan menanggapi lebih jauh. Memilih diam saja, merasakan air hujan yang mulai mengenai kedua kaki di belakang, sementara dua kaki depannya tetap kering karena menghadap ke dalam meja.
Keduanya menjeda beberapa menit, sebelum akhirnya saling teringat sesuatu. Seolah ada jejak ingatan tertinggal, yang turut mereka rasakan.
“Eh, kau pernah ingat?” Kursi di jendela bertanya.
“Ingat apa?”
“Dulu ada seorang laki-laki dan perempuan pernah duduk di tempat ini.”
“Yang mana? Ada banyak sepasang kekasih yang memilih tempat ini. Hingga kita selalu kebagian merasakan bermacam emosi mereka. Yang kau maksud siapa?” Kursi di pintu mulai penasaran.
“Kedua orang yang saling memendam sesuatu, tapi mereka justru menutupi, dan seolah tidak ada apa-apa padahal mata mereka lebih banyak berbicara dari apa yang tak tampak. Seorang laki-laki dan perempuan yang datang setahun lalu saat hujan, saling menghabiskan waktu, berbagi cerita, tapi tanpa mereka tahu, jeda yang terasa seolah membuat kita lebih memahami ada yang terpendam. Kau ingat, bukan?”
Kursi di pintu mulai gelisah karena air semakin mengenai kakinya. “Oh, iya,” jawabnya singkat. “Suasananya persis seperti sekarang meski mereka tak ada di sini. Dan entah kenapa, aku masih menyimpan rasa penasaran tentang mereka.”
“Aku pun juga,” ujar kursi di jendela dengan antusias. “Bahkan saking canggungnya mereka saat itu, aku tak kuasa mengamati ekspresi keduanya yang berusaha bersikap biasa,” ia melempar tawa. “Jika aku bukan benda mati, sudah kubocorkan rahasia di antara keduanya, haha.”
“Kau ini ada-ada saja,” kursi di pintu ikut tertawa. “Tapi anehnya mereka yang paling lama di sini, meski dengan kecanggungan masing-masing, haha.”
“Lucunya mereka bisa memecah keheningan dengan gurauan yang absurd, sampai aku sendiri tidak habis pikir dengan emosi mereka yang sebenarnya karena sejujurnya dari apa yang tampak, ada sesuatu yang tetap mereka rahasiakan.”
“Haha, tapi dari semua yang singgah sementara, hanya mereka yang kau ingat?” kursi dekat pintu bertanya ragu sebab bingung mau menganggapi apa.
“Tidak sih, tapi menurutku mereka yang paling membekas.”
“Alasannya?”
“Karena dari semua yang menempati kita, hanya satu atau dua emosi yang kita rasakan dari sepasang kekasih yang pernah di sini. Sementara, emosi mereka terasa lebih dalam dan tak sepenuhnya terungkap. Sampai membuat kita turut bertanya-tanya, kan?”
Jeda terasa lagi di antara dua kursi yang berhadapan. Mereka tahu di luar hujan turun lebih deras, airnya mulai mengenai kursi di dekat jendela. Dan mereka tak bisa apa-apa, dan kedinginan. Kemudian, tetap mengobrol membahas mengenai dua orang pelanggan yang paling membekas menempati mereka.
“Kau tahu? Aku merasa ada penyesalan yang tampak saat keduanya mulai beranjak dan hendak meninggalkan kedai. Seolah aku tahu bahwa itulah terakhir kali mereka menghabiskan waktu di sini.”
Kursi di jendela terdiam, ia kembali mengingat-ingat percakapan-percakapan dua orang setahun lalu.
“Menurutku, dari semua emosi yang turut kita rasakan. Perasaan dari keheningan itulah yang paling jujur dan tulus, sebab hanya mereka saja yang tahu.”
Dua kursi berhadapan itu kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sementara, di antara kesibukan menerka-nerka, tak jauh dari sana, di meja kasir, seorang perempuan tengah melamun menatap mereka, dua kursi kosong di dekat jendela.
“Kau seperti sedang membayangkan sesuatu. Ada apa?” tanya karyawan kedai satunya, mencoba memahami isi pikiran temannya yang tiba-tiba melamun.
Perempuan itu menggelengkan kepala, memilih membisu, penuh rahasia. Tanpa disadarinya ada yang diam-diam mengamatinya.