Dosa Para Penulis Pemula, Coba Cek yang Mana Dosa Anda

Marilyn Monroe pernah bilang,

“Saya baik, tetapi bukan malaikat. Saya melakukan dosa, tetapi saya bukan iblis. Saya hanyalah seorang gadis kecil di dunia besar yang mencoba menemukan seseorang untuk dicintai.”

Pernyataan ini selaras dengan pengalaman saya sebagai seorang penulis, dan mungkin relate dengan Anda juga.

Jika tujuan hidupnya–yang kadang berdosa dan berbuat baik–itu pada akhirnya demi menemukan seseorang untuk dicintai, saya bertujuan menemukan orang-orang yang saya cintai, dalam hal ini para pembaca karya tulis saya.

Sebab menulis bagi saya sudah menjadi kegiatan yang selalu saya lakukan dalam hari-hari. Mulai dari Senin sampai Minggu minimal ada satu karya tulis yang harus saya selesaikan. Bahkan, jika saya tidak menulis satu paragraf sehari, saya kehilangan gairah untuk beraktivitas.

Saya juga akan merasa berdosa kepada laptop yang menjadi tempat menari-narinya jemari saya, dan tempat persinggahan pertama karya tulis saya. Itulah sebagian kecil dosa saya. Jika ingin tahu lebih dalam, bacalah esai ini sampai akhir. Jangan lupa sediakan secangkir kopi untuk menemani Anda.

5 Dosa Saya sebagai Penulis

Pertama kali saya menulis dan mengirimkannya ke sebuah redaksi media adalah saat kelas 10. Saat itu saya menganggap jika tulisan telah selesai dan sesuai dengan syarat ketentuan, sudah langsung diterbitkan redaksi.

Namun, anggapan itu dibantah mentah-mentah. Tulisan tersebut ditolak. Sekaligus hadiah anotasi tentang kelemahan dan kekurangan dari karya tersebut.

Inti dari anotasinya, adalah list dosa-dosa yang saya lakukan. Rasanya seperti ditolak seseorang, sekaligus dibeberkan alasannya, nyesek, tapi mendapat pelajaran.

Sejak saat itu, saya sadar bahwa saya berdosa dan saya berkeinginan supaya tidak melakukan berbagai dosa itu terhadap karya saya yang lainnya. Sekarang saya mau berbagi apa saja dosa-dosa yang dicatat oleh redaktur tersebut kepada Anda.

Berikut ini 5 dosa yang pernah saya lakukan sebagai penulis pemula:

1. Melakukan Swasunting dan Menulis secara Bersamaan

Dosa pertama saya, yakni tidak memberi jeda waktu antara menulis dan swasunting, atau mengedit. Saking saya memiliki keinginan besar supaya karya saya diterima, saya malah melakukan perbaikan dan menulis dalam waktu bersamaan.

Jika ada kata yang salah, saya edit. Begitu pula tanda baca. Padahal tindakan seperti itu membuat saya melewati beberapa kata yang butuh perbaikan dan beberapa paragraf yang tidak koheren.

Berdasarkan dosa ini, saya belajar untuk mengoptimalkan dan menentukan waktu yang tepat untuk melakukan perbaikan supaya produk tulisan saya lebih rapi dan isinya jelas.

2. Paragraf Pertama yang Bertele-tele

Masih jelas di benak saya bahwa paragraf pertama pada tulisan pertama saya berisi kalimat bertele-tele sehingga serasa membosankan untuk dibaca.

Saya berpikir redaktur yang membaca tulisan saya ini jengkel terhadap saya karena paragraf pembuka tersebut. Bahkan, saya sendiri sebagai penulis berujar, “Bisa-bisanya saya melakukan pemborosan kata pada paragraf pertama.”

Padahal, paragraf pertama adalah kesan pertama, jika kita gagal di sana, maka gagal pulalah seluruh tulisan kita.

 

3. Suka Menunda-nunda

Sebagai penulis tentu saja setiap hari ada ide yang terlintas, tapi sedihnya setiap hari juga ide-ide tersebut hilang dan tidak berjejak karena saya tidak mencatatnya. Ditambah, saya punya kebiasaan menunda-nunda yang akhirnya membuat saya tidak mendapatkan apa-apa.

Seandainya saya tidak hanya menyimpan ide dalam pikiran, sudah banyak tulisan yang siap saya kirimkan ke redaksi. Itulah saya, terlena dengan kalimat waktu terus berjalan.

 

4. Tidak Melakukan Riset lebih Dalam

Ternyata riset sangat penting dalam isi tulisan. Kualitas tulisan dianggap baik jika melakukan riset lebih dalam. Pada tulisan saya yang tadi saya ceritakan, memang betul ada hasil riset, tetapi hanya sekadarnya saja. Alhasil data yang termuat dalam tulisan saya berupa data yang lama, dan jelas-jelas membuat isi tulisan saya seperti makanan basi.

 

5. Tidak Memiliki Mindset Resiliensi

Dosa terakhir ini, menghantarkan saya pada kekalahan. Sejak penolakan karya pertama, yang tidak sesuai dengan yang saya harapkan, alih-alih langsung siap menulis yang baru untuk bangkit dan pulih. Malah saya berhenti menulis sejenak.

Namun syukurnya, saya baru bisa bangkit kembali setelah melihat beberapa penulis yang tetap berkarya walaupun tulisannya tidak banyak dibaca. Kemampuan untuk bangkit dan pulih sangat penting untuk orang seperti kita ini, terutama penulis pemula. Bagaimana pun, tidak semua karya kita dapat diterima. 

 

Upaya taubat dari dosa-dosa tersebut supaya lebih baik

Saat ini, tentu saya sudah berupaya berhenti melakukan kelima dosa tersebut. Hasilnya saya menemukan pembaca karya tulis saya sebagai orang-orang yang saya cinta.

Sebagai penulis yang pernah melakukan dosa-dosa tersebut, saya menyampaikan rasa terima kasih kepada redaktur yang menolak karya pertama saya di waktu dulu. Andai karya itu tidak ditolak, mungkin saya tak mendapat pelajaran yang saya bagikan pada Anda saat ini.

 

Author

  • Cindy May Siagian

    Pengarang fiksi dan penulis nonfiksi. Beberapa karya telah dimuat di berbagai redaksi. Ia menghadirkan tulisan yang menghibur dan memberi ruang refleksi bagi pembaca. Terhubung dan ikuti karyanya melalui akun Instagram @la_bel2e untuk menikmati ragam tulisannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | jojobet | jojobet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | deneme | jojobet giriş | Report Phishing | Ultrabet |