Doa yang Tidak Sampai

Doa yang Tidak Sampai

 

Lagi-lagi kalimat itu menggantung di langit-langit kamar.

Jeritan meraung pada semesta yang mencoba tuli,

ia melucuti semua harap yang tak tersorot itu.

 

Jarum jam selalu berputar pada arahnya—lantas bisakah “aku” seperti itu?

Mirisnya, Tuhan lebih memilih ia terus menjerit dari pada tertawa,

ketidakpastian selalu menempel pada saraf-saraf tubuh.

 

Rasanya ingin sekali menelanjangi isi pikiran,

agar dunia tahu sehina apa harap-harap itu di sana.

Sialnya, bukankah kita sudah punya garis takdir masing-masing?

Jika iya, bolehkah aku melihatnya dalam mimpi yang tidak itu?

 

 

 

Tenang di Permukaan

 

Ah, sialan.

Jejaknya masih tinggal, hujan pun tak mampu menghapusnya.

Darah seolah berhenti mengalir.

Bolehkah sekali saja memuntahkan isi kepala?

Lantas bagaimana air itu mengalir dengan tenang,

sedangkan pohon berusaha tuli pada angin yang berbisik?

 

Ah, sialan.

Laut kembali tenang,

sedangkan ada yang hampir mati tenggelam—

menjerit, meraung, mengharap belas kasih Tuhan.

Sepertinya langit pun tak mampu menopang harap-harap yang tak pernah berakhir.

 

Rasanya ingin mencabik perasaan sialan itu,

tapi jika ia berdarah, apakah ada yang peduli?

Pada akhirnya tiap harap yang dipanjatkan, selalu berakhir

dengan pertanyaan konyol.

 

 

 

Aku yang Tidak Sampai

 

Tuan,

aku ingin mencintaimu dengan inginku sendiri;

menari pada mimpi ketidakpastian itu,

mengecup semua kata manismu,

memeluk erat semua harapanmu—

sayangnya, aku sering berdarah oleh belati di tubuhmu.

 

Tuan,

bolehkah sekali saja kau memperkenalkanku pada akar, rumput, dan pohon?

rasanya tidak adil,

ketika namamu sudah penuh di langit, sedangkan aku—

angin pun sepertinya tak tahu.

 

Tuan,

aku ingin mencintaimu dengan inginku sendiri.

Jika manusia diberi kesempatan mengubah takdir,

aku ingin menciptakanmu sebagai takdir baik

dari semua ketidakbaikan dalam hidup ini.

 

Namun lagi-lagi aku berdarah oleh harapanku.

Belati di tubuhmu terlalu tajam untuk kupeluk tuan,

tembokmu terlalu tinggi untuk kugapai.

 

 

 

Bisik

 

Malam mulai menyapa kulit,

mengelupas hingga ke ujung tenggorokan.

Dari sana gelap merayap masuk perlahan,

menarik satu per satu detak yang masih tersisa.

 

Ia duduk di tulang,

menyelusup seperti rahasia yang enggan tinggal diam,

menggoreskan sunyi pada setiap ruang napas.

 

Ada bayangan yang menunggu,

yang tak lagi mengenal batas tubuh atau cahaya

hanya tahu bagaimana menahan, menarik, mengunci.

 

Sampai akhirnya

yang terdengar hanyalah bisik paling tipis:

jeritan yang tak pernah jadi suara.

Author

  • Karsum Habi

    Aktif menulis esai dan puisi di platform Medium serta beberapa media daring lainnya. Pernah terlibat dalam penerbitan buku antologi bertema self-love. Saat ini penulis sedang mengembangkan kumpulan puisi-puisi pertamanya. Instagram @_krsm.h

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
casibom | parmabet | roketbet | jojobet | jojobet giriş | bets10 | bets10 |