Doa Flores yang Luka

Doa Flores yang Luka

 

Pagi itu doa belum sampai ke langit  

tangan belum sempat menadah  

dan mata belum sempat melihat Tuhan  

di tetes embun.

 

tapi bumi sudah mengaum  

Flores diguncang  

tanpa belas  

tanpa tanya.

 

Rumah-rumah jadi salib-salib patah  

mengubur tawa di bawah puing  

harapan tenggelam  

menjadi air mata yang bercampur lumpur.

 

Perut berdoa pada lapar  

sunyi mengunyah tulang  

dan sungai menangis darah

membawa nama-nama  

ke pangkuan Bapa  

yang belum sempat kami sebut.

 

Tuhan

jika ini ujian  

kuatkan kami  

jika ini murka  

ampuni kami  

karena Flores hanya ingin  

pulang dengan selamat.

 

Bogenga, Flores

31 Agustus 2026

 

 

 

Nyanyian Kepalsuan dari Mulut Besar

 

Mengelus pelan,  

lalu menusuk sampai ke sumsum.  

Merayap di kaki, menggigit jari,  

meninggalkan bekas dingin yang tak terlihat.

 

Di saat yang sama,  

mulut-mulut menebar lumpur,  

berbau janji, berasa kebenaran.  

Ia membius, menidurkan kewarasan,  

hingga kita jatuh,  

tepuk tangan di dalam perangkap,  

sambil bilang: ini rumah.

 

Boawae, Flores

28 Agustus 2026

 

 

 

Malam-Malam Panjang

 

Jika malam-malam panjang adalah sutra harapan,  

maka biarkan malam musim ini menetes menjadi candu.  

Candu di ujung jari kita,  

di setiap napas yang saling menahan,  

untuk terus bercumbu dalam kesadaran.

 

Bersama bunga merah yang mekar seperti api,  

membakar pelan di tengah gubuk paling dingin.  

Di sanalah kita belajar,  

bahwa dingin paling menusuk  

justru butuh hangat paling dalam untuk jinak pada gelombang gempa bumi.

 

Bajawa, Flores

27 Agustus 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!