Dicium Tikus

Ciuman Berdarah

 

Aku sedang tidak ingin dicium malam itu.

Tidak juga berharap siapa pun datang dalam mimpi—

apalagi dari celah lemari yang berbau musim hujan.

 

Pukul tiga pagi, dunia berkonspirasi:

seekor tikus menciumku—

tepat di bibir atas, tanpa aba-aba.

 

Aku tidak langsung bangun.

Yang membangunkanku adalah rasa asin—

darah merayap di pipi, menyelinap ke bantal,

meninggalkan jejak.

 

Kupikir mimisan.

Namun, tidak ada sesak di hidung.

Hanya perih yang tajam,

seperti sesuatu yang diingat tubuh.

 

Bibirku robek. Bantal merah.

Tubuhku gemetar.

 

Ibu panik, mencari daun sirih,

sementara aku duduk di lantai,

menatap luka

yang terlalu dekat untuk disebut kebetulan.

 

Tiga hari kemudian, bibirku membengkak.

Demam naik, tubuhku mengigau

di antara doa dan bau antiseptik.

 

Di rumah sakit, dokter bertanya:

“Bibir?”

“Tikus?”

“Sudah menikah?”

 

Aku tidak menjawab.

 

Sejak itu, aku tidur dengan selimut waspada—

bukan karena mimpi buruk,

melainkan karena:

 

lewat gigitan, bukan genggaman.

 

 

 

Memburu Tikus

 

Sejak gigitan itu, aku kehilangan kepercayaan pada sunyi.

Setiap bunyi di bawah ranjang

terdengar seperti seseorang menyebut namaku.

 

Aku menyiapkan perang: racun, lem tikus,

doa-doa pendek

yang kubaca seperti balasan.

 

Malam pertama, tak ada hasil.

Yang tinggal hanya bau

yang enggan pergi.

 

Malam kedua, langkah kecil terdengar—

ritmenya seperti denyut rasa takutku.

 

Seekor bayangan muncul,

berkilat dalam cahaya neon.

 

Tikus itu berjalan seperti penyair:

diam, licik, tahu kapan keluar dari gelap.

 

Aku mengayunkan sapu

dengan sisa keberanian.

 

Ia lolos.

 

Racun belum tersentuh, perangkap masih diam,

tetapi di dadaku sesuatu terbunuh:

kepercayaan bahwa luka bisa dibalas.

 

Aku menatap jendela—

dan mendapati diriku di sana,

dengan mata yang sama.

 

 

 

Tikus Belajar Bicara

 

Tikus itu kembali—

bukan untuk nasi,

melainkan kata-kata.

 

Ia menatapku dari bawah meja,

dengan mata sekecil jarum

yang hafal bentuk tidurku.

 

Aku sedang mengutuk dunia waktu itu,

tertawa pada tubuhku sendiri

yang mulai tidak kukenali.

 

Ia menirukan suaraku: pelan, serak.

Menyebut namaku.

Menirukan tangisku.

 

Aku melempar apa pun ke arahnya.

Ia tertawa—

suara itu memantul dari lemari,

dari pipa,

dari dalam kepalaku.

 

“Mengapa kau benci aku?” katanya,

“aku hanya menggigit yang sudah busuk.”

 

Aku diam.

Barangkali yang kutakuti bukan tikus—

melainkan sesuatu

yang tinggal terlalu lama di dalam tubuhku,

menunggu lapar berikutnya.

 

Tanjung Priok, 24 Mei 2026

Nama pena dari Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan, mahasiswa Sosiologi Unusia. Menulis seadanya, menyimpan sesisanya. Selebihnya bisa dilacak di @difaatimah_13.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!