Diary Safira (1)

Safira. Itulah namaku. Ini kali pertamaku menulis. Dari dulu, aku tak pernah mau menulis. Apalagi sebuah diary. Sungguh! Ini benar-benar percobaan pertamaku. Aku melakukan ini, menulis diary, karena sekarang aku tak memiliki satu pun teman untuk dijadikan tempat aku curhat. Tak seperti dulu.

Dulu, aku masih memiliki seorang kekasih yang bisa aku jadikan tempat curhatan. Setiap aku merasa capek, gelisan, sedih, dan juga merasa senang, gembira, bahagia, aku bisa menceritakannya tanpa harus malu-malu. Aku pun sangat senang apabila curhat kepada kekasihku itu, yang sekarang sudah kujadikan mantan.

Aku senang curhat padanya karena ia selalu saja bisa mengerti perasaanku. Ketika aku sedang sedih, ia selalu bisa membuatku tersenyum kembali. Biasanya ia melakukan hal konyol di depanku. Mengarang cerita yang tak masuk akal; membuat mukanya menjadi jelek; dan bahkan ia berani memperagakan suatu hal di hadapanku. Ketika aku senang karena suatu hal, ia selalu saja bisa membuat diriku merasa menjadi manusia paling hebat di dunia ini. Tutur katanya pun baik. Namun, yang paling kubenci dari dia adalah sifat friendly kepada banyak wanita.

Berhubung kali ini tak ada lagi sosok dia, aku ingin meluapkan semua perasaanku di sini. Aku menulis karena sekarang ini aku sedang merasakan sesuatu. Aku merasakan bahagia yang sebelumnya belum pernah aku rasakan sedikitpun. Aku mendapatkan promosi di kantorku. Bagaimana aku tidak bahagia, toh, aku baru saja bekerja satu setengah tahun di sini. Dan yang bikin aku bahagia selain mendapatkan promosi adalah aku anak kampung yang merantau yang bisa mengalahkan orang-orang kota di kantorku yang adalah seniorku sendiri. Aku bisa mengalahkan seniorku hanya dengan satu setengah tahun. Hahaha.

Para seniorku saat ini sedang membicarakanku di belakang. Aku tahu ini karena mereka membuat status WA yang benar-benar menyinggung diriku, salah satunya seperti ini: “Dasar manager genit. Anak baru ko langsung dapat promosi.” Hahaha. Melihat status WA seperti itu, membuatku merasa kalau aku ini manusia paling hebat di muka bumi. Aku bodo amat ketika mereka membicarakanku di belakangku. Bagiku, tak ada waktu untuk mengurus omongan orang lain. Aku tak ingin hidupku terlalu mengurusi omongan orang lain. Itu sangat melelahkan. Lebih baik aku terus fokus pada tujuan hidupku.

Baca juga  Diary Safira (2)

Oh, iya, aku bekerja di perusahaan digital. Aku masuk ke perusahaan ini berkat mantanku itu. Dulu ia memberi tahu kepadaku ada lowongan di sini, namun kutolak. Aku tak ingin sebenarnya bekerja di perusahaan seperti ini. Karena waktu itu, lowongan yang diberi tahu oleh mantanku adalah sebagai kurir. Aku tak mau itu. Aku wanita. Ditambah, aku tak bisa mengendarai motor. Hehe. Aku teramat takut untuk mengendarai motor sendirian. Maka, aku tak pernah mau belajar mengendarai motor.

Aku berniat untuk mencoba melamar pekerjaan ke perusahaan ini sejak aku pulang ke rumah untuk menemui ibu. Dan ketika aku di rumah, aku mendapatkan kabar tak mengenakan. Aku mendapat kabar bahwa mantanku itu, sewaktu masih menjadi kekasihku, tidur bersama wanita lain. Ah sial, aku tak ingin menceritakan kejadian itu saat ini. Sangat menyakitkan bagiku. Lain kali saja kuceritakan kejadian itu ketika aku sudah siap untuk menceritakan semuanya tentang dia.

Di rumah, setelah aku terpuruk karena sakit hati yang dibuatnya, aku meminta izin kepada ibu untuk merantau kembali ke kota. Aku meminta izin untuk jadi wanita karir saja. Dan untungnya ibu memberiku izin. Lalu, aku pun kembali ke kota. Dan sejak itu lah aku melamar pekerjaan ke perusahaan ini. Awalnya pihak perusahaan menolakku karena sudah tidak ada lagi lowongan. Namun, aku terus memaksanya. Aku terus meyakinkan pihak perusahaan bahwa aku ini bisa memberi yang terbaik kepada perusahaan ini yang bisa membuat perusahaan ini berkembang sangat pesat. Alhamdulillah-nya mereka memberi kesempatan kepadaku waktu itu. Kalau waktu itu aku tidak diberi kesempatan, entah aku sekarang ada di mana.

Baca juga  Melihat Senja Dari Atas Bukit

Karena kesempatan itu, aku berhasil menarik perhatian pihak perusahaan yang kini mempercayakan pekerjaan-pekerjaan manager kepadaku.

Pada saat di fase kesempatan itu, aku diberi posisi sebagai operator. Selagi aku dipantau sebagai operator, pekerjaanku sangatlah rapih. Ya, bagaimana tidak, aku ini lulusan strata satu akuntansi yang sudah biasa melakukan pekerjaan dengan rapih. Sewaktu di bangku kuliah dulu, aku selalu ditekan oleh dosen untuk melakukan pekerjaan dengan rapih, karena apabila tidak rapih akan membuat pekerjaan menjadi repot nantinya. Dan ketelitian menjadikan suatu keahlian kami para mahasiswi akuntansi. Kami tahu, kalau kami mengerjakan sesuatu tidak teliti dan tidak rapih, akan menjadikan hasil akhir yang keliru. Kami menyebut hal itu dengan kata: “Tidak balance”.

Karena kebiasaanku sejak jadi mahasiswi itulah aku dipercaya oleh pihak perusahaan. Dan aku tak pernah sedikitpun menunda-nunda pekerjaan seperti para seniorku. Jadi, wajar saja saat ini aku mendapatkan promosi dari pihak perusahaan. Hihihi.

Kurasa awalan pertamaku sangat baik. Aku bisa menulis ternyata. Hihihi. Mungkin akan kuteruskan diary ini. Malam ini kucukupkan saja ceritaku sampai di sini. Karena besok akan ada rapat pagi hari. Aku harus istirahat yang cukup sekarang. Aku harus terlihat bugar di rapat nanti. Aku tak ingin kelihatan lesu. Aku tak ingin promosiku biasa-biasa saja. Esok hari harus menjadi hari yang istimewa untukku. Selamat malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *