

Malam kembali singgah di teras ini
Membawa sunyi yang perlahan menetap,
Sebatang rokok menyala pelan,
Mengurai diam yang tak sempat terucap,
Dan segelas kopi
Perlahan kehilangan hangatnya
Seperti kita,
yang perlahan luruh dalam jarak
Dulu, teras ini dipenuhi kalian,
Oleh tawa yang saling bersautan,
Oleh cerita yang tak butuh alasan untuk tinggal.
Kita duduk di kursi yang sama,
Waktu yang seolah tak akan pernah habis,
Menyimpan cerita
Yang kini terasa begitu jauh,
Sekarang, kursi-kursi itu utuh di tempatnya,
Namun riuh telah berubah menjadi jejak.
Kalian melangkah menuju masa depan,
Mengejar mimpi yang dulu sempat terucap,
Dan aku tinggal di antara sisa suara
Yang tak lagi utuh terdengar.
Fajar masih datang seperti biasa,
Tetapi cahayanya tak lagi sama.
Teras ini memilih untuk tetap menunggu,
Menjaga kenangan yang tak sempat berpamitan,
Sementara kalian tak terlihat
Namun bukan hilang
Hanya berpindah dari dekat
Ke ruang yang tak lagi bisa kujangkau.
Dan aku di sini,
Diantara sunyi yang kini terasa lebih luas,
Menyeduh rindu dari kenangan yang sederhana,
Lalu mengerti perlahan,
Namun bayang tak benar-benar pergi,
Kini aku hidup dalam cerita,
Dalam ingatan,
Dalam hati
Yang diam-diam selalu pulang pada mereka.
Rintih batin alkhansa yang menjadi,
memilih menepi akan pesona planet bumi.
Terlihat usai perihal mimpi,
namun jentik jari tak dapat membohongi.
Wahai kaum hawa,
menjadi mutiara tak semudah kata,
dengan hadirnya garis adam penyeru drama.
Nabastala yang tertutup mendung,
menimbun berjuta rasa tersundung.
Mereka yang mendekat tanpa berhitung,
adalah anca yang tak akan beruntung.
Pemberi cinta,
terimalah sajian indah ini.
Rayuan tanpa jeda diharap menghapus lara.
Di balik jendela yang kau buka,
benarkah ini tujuan bersama,
atau hanya teman dalam jalannya sebuah cerita tanpa rasa.
Di antara jutaan wajah,
Aku menemukan wajah yang paling indah,
Hanya senja,
Yang dapat menggambarkannya.
Aku hanyalah pengagum rahasia,
yang hanya melihatmu di balik jendela.
Tak perlu tau aku siapa,
Cukup melihatmu saja sudah membuatku merasa.
Sementara kau tetap berjalan,
Tanpa pernah tahu ada namamu yang kusebut dalam diam.
Jika engkau menjadi bintang,
biarkan aku menjadi malam.
Aku siapkan panggungmu yang paling gemilang,
Di tengah dunia yang mulai tenggelam.
Tunggulah sebentar,
biarkan roda ini berputar.
Membawaku kembali ke tempat yang sama,
Mengagumimu dari jarak yang tak pernah bisa kau jangkau.
Walaupun langkahku bergetar
Dan rindu tak pernah sempat menjadi kata,
Berada di sisimu merupakan sebuah tujuan
Meski bagimu,
Aku tak lebih dari bayang yang tak pernah ada.
Di depan papan tulis aku merangkai cerita,
tentang angka-angka yang tak lagi menakutkan,
tentang pelajaran yang terasa seperti permainan,
dan tawa yang tumbuh di setiap pertemuan.
Mereka datang dengan ragu di mata,
membawa bayang-bayang kata sulit dan tak bisa,
lalu perlahan kutuntun dengan sederhana
bahwa matematika tak sekejam prasangka.
Aku ajarkan mereka mencari nilai x,
bukan sekadar jawaban dalam hitungan,
tapi keberanian dalam ketidakpastian,
dan keyakinan untuk terus mencoba.
Rumus-rumus kuhadirkan tanpa tekanan,
kuubah menjadi jembatan pemahaman,
agar mereka mengerti dengan perlahan
bahwa belajar tak harus penuh ketakutan.
Di sela angka dan garis kehidupan,
kuselipkan arti tentang kesabaran,
tentang usaha yang tak sia-sia,
dan tentang jatuh yang bukan akhir segalanya.
Aku tak ingin mereka hanya pandai,
aku ingin mereka mencintai,
menemukan indah di setiap logika,
dan tersenyum saat bertemu matematika.
Tak perlu menjadi guru yang sempurna,
cukup menjadi tempat mereka percaya,
hingga suatu hari nanti mereka berkata
ternyata matematika itu menyenangkan juga.
Itulah secarik harapanku,
sederhana namun penuh makna,
melihat mereka tumbuh tanpa rasa takut,
dan belajar dengan hati yang bahagia
Lahir di Banyumas, 16 Oktober 2007. Saat ini jadi mahasiswa di UIN SAIZU. Hobinya gym, nonton anime, dan baca manga. Intagram @fadilahrafiw
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!