Di NTT Agama Sedang Cari Validasi, di Tempat Kalian Ada Tuhan Tidak?

Pada 01 Maret lalu, di sebuah restoran di tepi pantai yang tenang, saya dan seorang sahabat larut dalam percakapan panjang. Di sela-sela obrolan, kami sampai pada satu pertanyaan yang menggelitik: mengapa akhir-akhir ini orang begitu gemar memperbincangkan agama di ruang publik? Apakah praktik keagamaan kita begitu haus akan validasi?

Dari pertanyaan inilah, tulisan ini bermula.

Perbincangan Agama di Ruang Publik

Tidak bisa dimungkiri, saat ini konten tentang agama membanjiri kanal media sosial. Saat membuka TikTok atau YouTube, bisa dipastikan kita akan bertemu dengan tokoh agama yang sibuk membenarkan Tuhan versinya sendiri. Atau diskusi berkedok teologi yang berujung pada tindakan saling mengkafirkan antara yang satu dengan yang lain.

Ramainya konten-konten semacam itu menandakan bahwa praktik keagamaan kita haus akan validasi dan kehilangan orientasi.

Padahal, kalau boleh jujur, buat apa semua itu?  Mengingat pembicaraan tentang agama saat ini sering kali menjadi kedok untuk merasa lebih suci dari yang lain, sambil melampiaskan ego intelektual. Atau yang paling ironis, untuk mengalihkan perhatian dari fakta bahwa kita sedang kehilangan makna hidup.

Fenomena tersebut saat ini sedang terjadi pula di tempat saya di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui akun media sosialnya, beberapa tokoh agama mengundang tokoh agama lain untuk berdebat secara terbuka untuk kemudian direkam dan disebarluaskan.

Alhasil para pengikut dari masing-masing pihak, turut menyebarkan konten-konten seperti itu sembari menyanjung junjungannya. Tujuannya jelas, menentukan siapa yang akan keluar menjadi pemenang. Agama seolah menjadi ajang perlombaan.

Menurut saya ketika tokoh agama dan orang-orang beragama sibuk dengan ihwal demikian,  maka agama telah kehilangan orientasi utamanya.

Kita lupa bahwa di NTT masih masif terjadi kasus perdagangan manusia. Yang mana sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak yang direkrut dengan iming-iming pekerjaan layak tetapi kenyataannya jauh dari itu. Berharap dapat keluar dari himpitan ekonomi, mereka malah terjebak dan terjerembap dalam lingkaran kemiskinan.

Atau kita yang memilih diam ketika di kota-kota besar seperti Kupang, Maumere, dan Atambua, kasus kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak terus meningkat. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak NTT mencatat 1.247 kasus kekerasan sepanjang tahun 2023, dan sebagian besar pelaku adalah orang-orang terdekat korban seperti tetangga, kerabat, bahkan tokoh agama yang seharusnya menjadi teladan.

Singkatnya, kita menyibukkan diri menjadi polisi surga bagi orang lain, sementara di bumi sendiri, berbagai bentuk ketidakadilan terus terjadi. Jika kita beragama dan beriman, tentu kita akan memilih terlibat dalam setiap problem sosial tersebut. Karena untuk itulah nilai-nilai agama diajarkan. Bukan sebaliknya memilih bungkam dan lebih sibuk menyaksikan perdebatan tokoh-tokoh agama tersebut.

Beragama Belum Tentu Beriman

Fakta-fakta di atas semakin meneguhkan saya pada satu keyakinan: seseorang yang memiliki agama belum tentu beriman.

Saya berpendapat bahwa agama tidak semata-mata urusan hafalan yang ada di kepala yang diperdebatkan, atau sekadar ketaatan pada ritus. Agama, jika sungguh-sungguh dihayati, mestinya melibatkan kita dalam realitas sosial keseharian.

Ia menjelma dalam cara kita berani melaporkan tindakan perdagangan orang yang berjalan secara sistematis dan kerap melibatkan aparat penegak hukum, bersedia melindungi anak-anak dari ancaman perdagangan manusia, dan konsisten berpihak pada korban kekerasan seksual.

Karena pengalaman akan Tuhan bersifat unik dan personal, setiap orang memiliki jalannya sendiri untuk menemukan makna “Tuhan”. Proses ini adalah pengalaman iman yang tidak selalu sesuai dengan ketentuan agama yang sering diperdebatkan. Lantas masih haruskan kita berdebat jika itu tidak mengantar kita pada pengalaman iman akan Tuhan?

Menemukan Tuhan dalam Realitas Sosial

Jika kita mau jujur, sekali lagi menurut keyakinan saya, mencari Tuhan itu bukan soal kompetisi adu argumen tentang agama yang riuh. Bukan soal siapa yang punya dalil paling benar. Atau retorikanya menarik.

Mencari Tuhan adalah soal keterlibatan dalam realitas sosial. Soal keberanian untuk mengakui bahwa kita tidak tahu segalanya. Pengalaman iman yang paling dalam justru lahir ketika kita berhenti berdebat, menyadari keterbatasan rasio, dan menyadari “hidup di sini dan saat ini”.

Saya jadi teringat buku Sejarah Tuhan karya Karen Armstrong. Ia menunjukkan dengan brilian bagaimana konsep Tuhan dalam tiga agama samawi bukanlah sesuatu yang statis. Tuhan yang kita pahami hari ini adalah hasil dari perjalanan intelektual, politik, dan spiritual yang panjang selama ribuan tahun.

Nah, jika para teolog dan filsuf besar saja membutuhkan waktu ribuan tahun hanya untuk bisa mendekati definisi tentang Tuhan, mengapa kita dengan begitu pongah merasa paling benar?Daripada sibuk menyusun dalil untuk merasa agamanya yang paling benar, mungkin lebih baik kita mulai menemukan makna Tuhan dalam realitas sosial.

Pada akhirnya, ketika kita mati, yang tersisa hanyalah seberapa tulus kita menjalani hidup, dan seberapa banyak cinta kepada sesama yang kita tinggalkan.

Tuhan tidak butuh kita membela-Nya dengan debat yang riuh. Tuhan membutuhkan kita untuk berbuat sesuatu dalam kehidupan yang kian tidak menentu. Dan itu tidak bisa dilakukan hanya dengan perdebatan yang tiada ujung, melainkan dengan tindakan nyata yang membumi dalam realitas sosial keseharian.

Ngomong-ngomong di NTT, nampaknya Agama sedang cari validasi. Kalau di daerah kalian, Tuhan ada tidak?

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | hiltonbet | hiltonbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | deneme | jojobet giriş | casino api | betnano | ultrabet | ultrabet | hiltonbet | grandpashabet giriş | grandpashabet güncel giriş | grandpashabet adres | hiltonbet giriş | hiltonbet | malatya web tasarım | betasus | betasus giriş | betasus | grandpashabet | grandpashabet giriş | jokerbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | grandpashabet | royalbet | royalbet giriş | yakabet | yakabet giriş | timebet | timebet giriş | galabet | galabet giriş | elexbet, elexbet giriş | Elexbet | Elexbet giriş |