Di Kamar Kecil Ini

Di kamar kecil ini
Hanya ada Aku, segelas kopi dan sepotong sepi.
Di luar begitu ramai, Aku menerka-nerka,
Sepertinya, sedang ada pesta
kubuka jendela perlahan
Ternyata benar, di sana sedang ada pesta hujan
Diiringi nyanyian petir yang sendu dan merdu.

Seketika Aku lupa kepada segelas kopi dan sepotong sepi.
Tanpa sengaja, mereka kuabaikan tanpa kucicipi.

Purwakarta, 2018

Pengaduan

Apa yang paling kelam dalam jiwaku, Tuhan?
Sementara bulan tetap terang, meski di langit kelam.
Apa yang paling buncah dalam nalarku, Tuhan?
Sementara air tetap jernih, meski di tempat kumuh.
Luka yang merekah
Biarlah tertutup oleh waktu yang resah
Benci yang meletup-letup
Biarlah terhapus oleh lupa yang meluap-luap.
Apa yang paling kelam dalam jiwaku, Tuhan?
Apa yang paling buncah dalam nalarku, Tuhan?

Purwakarta, 2018

 

Hujan

Hujan itu belum juga datang
Ia masih ragu dan bimbang
Apakah kehadirannya dirindukan?
Ataukah butir-butir rinainya menyisakan keresahan?
Hujan itu belum juga turun dari sarangnya
Ia masih resah dan gelisah
Ia tetap acuh, tak peduli ada yang merindukannya.

Purwakarta, 2018

 

Hujan II

Hujan..
Kali ini, kau sangat lugu
Apakah kau terlalu canggung kepadaku?
Ataukah kau masih ragu akan kerinduanku?
Kau berkunjung hanya sekejap
Sekadar menyapa, lalu pergi tanpa berucap
Membuatku kembali kuyu dan layu
Membuat lidahku kembali kelu dan bisu.

Purwakarta, 2018

 

 

Pemburu

Tanpa senjata hanya dengan biji-biji asa,
Kau berhasil memburuku, lantas mengungkungku dalam sangkarmu
Persis layaknya seekor burung yang kehilangan gelagatnya
Berkicau lirih, berdesis perih
Di sini gelap, senyap, bahkan pengap
Kumohon lepaskan aku!
Atau, jika kau tak berkenan
Lenyapkanlah aku bersama biji-biji asa yang kau hidangkan untukku setiap hari.

Purwakarta, 2018

 

 

Pada Sela-sela

Pada sela-sela huruf sajak ini
kuselipkan rindu dan sendu
Keduanya saling berselang
Agar keduanya saling berpapasan
Tak ada celah untuk saling berlarasan

Purwakarta, 2018

 

Lilin

Malam bersemayam di atas langit kelam
Tepat setelah semua lampu pada setiap rumah dipadamkan
Hanya ada sesosok lilin bertahta di atas meja
Merasa pongah atas jabatannya
Merasa angkuh atas kedudukannya
Hingga akhirnya ia lupa, bahwa dia akan leleh perlahan,
terbakar atas kepongahannya, hangus oleh keangkuhannya.

Purwakarta, 2018

Profil Penulis

Ridwan Maulana
Ridwan Maulana
Kelahiran Purwakarta, 18 juli 1998 dan tinggal di Purwakarta