

Hati manusia adalah salah satu bagian tubuh yang penting. Bukan hanya sebagai penetralisir racun agar organ-organ dalam tubuh terjaga. Hati adalah bagian tubuh yang membuat kita bisa merasa aeperti lidah. Namun hati merasakan dengan cara yang lebih dalam. Bentuknya bisa berupa kepekaan, cinta, kasih sayang, kebencian, ketenangan hingga kesombongan. Namun apa yang terjadi jika hati seseorang telah mati?
Hatiku telah mati. Bukan, aku masih hidup seperti manusia biasa. Lebih tepatnya perasaan di hatiku telah mati. Aku tidak bisa merasakan apapun lagi. Aku makan dan lidahku masih membantuku mencerna makanan walau rasanya hambar. Sebenarnya indera pengecap lidahku tidak masalah sama sekali, tetapi karena hatiku sudah mati maka bagiku semua hal sudah tidak ada rasanya.
“Tolong! Tolong aku pak.”
“Ada apa Bu?”
“Anak saya kecelakaan. Tolong bantu saya membawanya ke rumah sakit.”
Segera dengan cepat aku digiring si ibu menuju tempat anaknya berada. Gerombolan orang menyingkir melihat seragam cokelatku dan dengan gerakan cepat aku mengamankan tempat kejadian. Ya, aku adalah polisi. Aku meletakkan jari telunjukku di leher anak itu dan menggeleng. Terlambat. Anak itu sudah mati di tempat.
Aku membantu si ibu membawa anaknya ke rumah. Keluarga penabrak berulang kali meminta maaf atas kecelakaan tak disengaja itu. Ibu itu diam karena kehilangan satu-satunya alasan untuk bertahan hidup. Namun, ibu itu lebih kuat daripada yang aku duga. Kudengar setelah anaknya meninggal, si ibu mendapatkan tawaran untuk bekerja di panti asuhan. Mungkin tempat yang berisi banyak anak-anak itu bisa menyembuhkan luka di hatinya.
Luka? Ah ternyata aku terluka sedikit karena kakiku tertancap pecahan beling di rumah si ibu. Darah segar keluar dari telapak kakiku. Aku membeli obat merah dan menutup luka dengan plester luka sembari membawa tentengan plastik hitam dari rumah si ibu.
“Argh … ”
“Ada apa gerangan lagi!”
“Pak Polisi! Ada perempuan yang barusan terjun dari jembatan.”
Sepertinya kerjaanku banyak sekali hari ini. Perempuan itu masih muda. Wajahnya cantik, mirip seperti mantan istriku. Tetapi wajahnya pucat. Dia juga mati. Sayang sekali. Padahal kalau aku lebih cepat bertemu dengannya mungkin dia bisa menjadi pengobat kesepianku. Segera aku menelepon kantor untuk membantu autopsi.
“Serahkan ini kepada kami. Kau hari ini sudah berjuang keras. Pulanglah. Besok pagi kau boleh ikut kami menguburkannya.”
“Baik, Pak. Terima kasih,” ujarku sambil membawa dua tenteng plastik hitam.
Aku lupa belum makan hari ini. Untungnya malam hari di supermarket ada banyak diskon. Kedua kakiku melipir ke supermarket terdekat dan membeli semua yang aku suka. Ada kacang polong, roti, sayur kol, wortel, kentang, tahu dan bumbu sup siap saji. Malam-malam memang enak makan makanan hangat. Tak lupa aku membeli sekaleng soda dingin rasa stroberi mint. Biar saja. Meskipun aku laki-laki aku suka soda stroberi daripada soda bening. Menurutku soda bening tidak ada rasanya.
“Hei Eren!”
“Ah kamu sudah selesai mengautopsi wanita tadi?”
“Sudah. Kamu habis belanja?”
“Iya. Aku baru sadar belum makan sejak siang tadi.”
“Oh iya mumpung kau masih ada di sini boleh aku minta tolong?”
“Hah … Ini sudah tengah malam. Apa tidak bisa besok saja?”
“Bukan begitu. Sebentar saja. Ayolah. Aku tidak berani melakukannya sendirian.”
“Baiklah tapi jangan lama-lama. Aku sudah tidak sabar ingin makan supku.”
Adinata mengajakku ke sebuah selokan. Miris. Dalam selokan itu ada sesuatu yang dibungkus kain bedung kecil. Seorang bayi. Lagi? Astaga. Sudah hampir dua minggu ini kami menemukan mayat bayi yang dibuang. Memang dunia ini sudah semakin gila.
“Dia masih hidup Eren.”
“Kau pasti bercanda.”
“Jika kau tidak percaya, pegang saja dia.”
Meskipun tubuh kecil itu kedinginan, denyut nadinya masih ada. Luar biasa. Naluri dalam tubuh kecil ini ingin bertahan hidup meskipun kedua orangtuanya tidak menginginkannya.
“Bukankah rumahmu dekat dengan rumah sakit? Bawalah bayi ini ke sana. Kemudian letakkan dia di sebuah panti asuhan untuk dirawat. Kasihan dia. Meskipun kita berdua tidak bisa mengurusnya, setidaknya biarkan dia hidup.”
“Kenapa tidak kau sendiri saja yang melakukannya?”
“Aku tidak bisa. Istri dan bayiku sudah menunggu di rumah. Sebagai ayah yang juga memiliki bayi, aku tidak sanggup kalau harus merawat dua bayi. Kau tau bukan bagaimana keadaan keuangan kita?”
Aku mengangguk dan mengiyakan. Adinata mengantarku ke depan halaman rumah sakit dan dia pulang. Namun belum sampai di ruang perawatan, bayi itu berhenti bernapas. Ah, jadi ternyata inilah akhirnya. Kau sudah berjuang keras bayi kecil. Kembalilah ke surga karena dunia ini terlalu kejam untuk makhluk suci sepertimu. Aku kemudian menguburkan bayi itu di sebuah pemakaman kecil. Mengambil foto makam dan mengirim pesan ke Adinata bahwa sebelum bayi itu sempat menerima perawatan dia sudah meninggal. Kutaburkan bunga-bunga dan kusiram kuburan kecil itu sebagai bukti aku telah bertanggung jawab. Lalu aku pulang tanpa menoleh lagi ke belakang sambil menenteng tiga plastik hitam kecil.
Aku menyalakan televisi sambil memasak. Setidaknya agar rumahku tidak terlalu sepi karena aku memang tinggal seorang diri. Berita-berita itu menayangkan apa yang aku alami hari ini. Tentang kecelakaan, orang yang bunuh diri karena ternyata terjerat hutang dan tentang berita banyaknya bayi yang dibuang oleh para remaja. Bayi yang aku temukan tadi hanyalah satu diantaranya. Aku bukan pembunuh. Toh sebelum sempat masuk ke pintu rumah sakit, bayi itu sudah tidak bernapas lagi. Wangi harum semerbak dari masakanku mulai tercium pertanda sudah matang. Air liurku menetes dan hampir saja masuk ke dalam panci. Aku mengambil sambal terasi di botol siap saji. Menuang soda stroberi ke gelas. Menyiapkan nasi hangat dan sup yang telah matang sempurna. Duduk di sofa sambil tetap menyetel berita. Mereka semua penasaran dengan hilangnya bagian dari tubuh korban berupa sebelah paha dan lengan. Tanpa tahu sama sekali bahwa paha dan lengan itu sudah menjadi semangkuk sup daging dan masuk ke dalam perutku.