

Pagi selalu datang lebih cepat bagi Laras. Ia sudah berdiri di dapur sempit yang dindingnya mulai menguning oleh asap dan waktu. Suara minyak mendesis seperti bahasa yang hanya dipahami oleh perempuan-perempuan yang hidupnya diukur dari matang atau tidaknya lauk hari itu. Radio tua di atas lemari es berderak pelan. Siaran pagi baru dimulai. Penyiar itu berbicara tentang lomba menulis cerpen tingkat provinsi tentang suara-suara yang perlu didengar, tentang kisah-kisah kecil yang layak diabadikan.
Tangan Laras berhenti mengaduk sayur bening. Ia mematikan api, lalu tanpa sadar membuka laci bumbu paling bawah. Di sana, di antara plastik lada dan ketumbar, terselip sebuah buku tulis bersampul biru yang sudutnya sudah melengkung dimakan usia.
Ia mengelusnya sebentar.
Tangannya berbau bawang. Buku itu berbau masa lalu.
Dulu, namanya sering dipanggil di panggung kecil sekolah.
“Juara pertama lomba cerpen … Laraswati!”
Tepuk tangan, lampu terang, dan Bu Ratna yang memeluknya bangga. Guru Bahasa Indonesia itu selalu bilang suaranya berbeda.
“Kamu harus terus menulis, Ras. Suaramu penting.”
Kalimat itu dulu terasa sangat menyemangati, sampai ayahnya jatuh sakit. Biaya rumah sakit menelan tabungan. Ibunya mulai bicara tentang pernikahan tentang lelaki baik yang siap menanggung hidupnya.
“Menulis tidak bikin dapur ngebul, Ras.”
Ia menikah di usia duapuluh.
Beasiswanya hangus. Naskah-naskahnya dimasukkan ke kardus, lalu entah ke mana.
Sejak itu, ia menulis hanya di kepalanya.
“Hari ini tumis tempe lagi, Bu?”
Suara suaminya memecah lamunan.
“Iya.”
“Besok jangan lupa bayar listrik.”
“Iya.”
Percakapan mereka seperlunya saja. Suaminya bukan lelaki kasar. Ia bekerja keras di bengkel, jarang pulang larut, tak pernah membentak. Tapi ia juga tak pernah bertanya apa yang dipikirkan istrinya saat menatap kosong ke jendela. Lelaki itu memanggil Laras dengan panggilan “Bu”
Setelah semua tidur, Laras menyalakan lampu dapur kecil. Cahayanya kuning redup, tapi cukup saja untuk menulis. Ia tak punya buku baru. Ia menulis di semua tempat, tentang perempuan yang berbicara pada panci, mimpi yang berbau bawang, atau nama yang hilang dari panggilan sehari-hari.
Suatu sore, Nara anak perempuannya masuk dapur sambil membawa buku tugas.
“Bu, bantu aku bikin puisi, dong.”
Laras tersenyum tipis. “Tema apa?”
“Guru bilang tentang ibu.”
Nara melihat tumpukan kertas di meja. “Ini apa?”
Sebelum Laras sempat menjawab, gadis itu sudah membaca satu lembar.
Matanya pelan-pelan membesar.
“Bu … Ini bagus banget!”
Laras buru-buru merebutnya. “Cuma coretan.”
“Ini cerita, Bu. Kenapa gak dikirim ke lomba di radio itu?”
Jantung Laras berdegup aneh takut sekaligus rindu.
“Udah tua, Nara.”
“Tapi kan puisi gak punya umur, Bu?”
Kalimat itu menghantamnya keras.
Puisi gak punya umur.
Ia tak tidur malam itu. Beberapa hari kemudian, ia membeli amplop cokelat saat belanja sayur. Tangannya gemetar saat menyalin tulisannya ke kertas yang lebih rapi. Ia memilih judul yang sederhana: Di Antara Dapur dan Impian.
Saat menulis namanya di pojok kiri atas, ia berhenti lama.
Laraswati.
Nama itu terasa seperti milik orang lain. Ia hampir mencoretnya, ingin memakai nama samaran. Tapi keberanian kecil itu ia membiarkan namanya tertulis utuh. Amplop itu ia kirim diam-diam di kantor pos sepulang dari pasar.
Setelahnya, ia tetap memasak. Tetap mencuci. Tetap dipanggil “Bu”.
Sampai suatu pagi, Nara pulang sekolah membawa koran lokal.
“BU!”
Laras kaget. “Kenapa?”
Lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 20 Mei 2005. Memiliki nama pena Velqiane dan kini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Karya pertamanya berjudul Bertemu Kembali Setelah Terluka. Selain menulis juga suka membaca dan mendengarkan musik. Instagram @velqiane.id dan Wattpad @velqiane
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!