Di Antara Dapur dan Impian (Bagian II)

“Miss Ruth Kellogg demonstrating correct postures for housework” oleh Troy, 1920. Dari Delineator Magazine. Public Domain Images Archive

Bagian I baca di sini

 

Gadis itu membuka halaman sastra.
Di sana, tercetak cerpen pemenang lomba provinsi.
Judulnya familiar sekali.

Di Antara Dapur dan Impian — Laraswati.

Tangannya langsung dingin.

“Ayah harus lihat ini,” kata Nara, matanya berbinar.

Suaminya membaca lama. Lama sekali. Ia tak langsung bicara. Hanya menatap istrinya dengan ekspresi yang belum pernah Laras lihat sebelumnya: bingung, bangga, sekaligus seperti baru mengenal seseorang.

“Kamu nulis ini?”

Laras mengangguk pelan.

Suaminya menarik napas. “Bagus.”

Itu pertama kalinya lelaki itu memuji sesuatu yang lahir dari pikirannya, bukan dari dapurnya.

Malamnya, Laras kembali duduk di dapur. Lampu kecil itu masih sama. Meja kayunya masih sama. Bau bawang masih menempel di tangannya. Sedikit ada yang berbeda.

Di koran yang terlipat di sampingnya, namanya tercetak jelas. Bukan sebagai ibu atau istri, tapi sebagai dirinya sendiri. Ia membuka buku biru lamanya. Halaman kosong terakhir menunggunya.

“Aku kira aku harus memilih antara dapur atau impian. Ternyata, aku hanya perlu memberi impianku jalan,”

Dari kamar, ia mendengar Nara sedang membaca cerpennya keras-keras.

Laras tersenyum. Di antara aroma tumisan dan cahaya lampu redup, ia akhirnya menemukan sesuatu yang dulu lama hilang, yaitu suaranya sendiri!

Suara Nara yang membaca itu merambat sampai ke dapur seperti aliran hangat yang menelusup pelan ke dada Laras.

Ia tak langsung bangkit. Masih duduk di kursi kayu yang kakinya sedikit pincang, menatap halaman terakhir yang baru saja ia tulis. Tinta bolpoinnya belum sepenuhnya kering.

Malam turun pelan. Angin membawa bau tanah basah dari halaman belakang.

“Bu … ”

Nara berdiri di ambang pintu, masih membawa koran yang sudah sedikit kusut di tangannya.

“Teman-teman Nara tadi baca juga. Mereka bilang ceritanya sedih, tapi hangat. K-kayak pelukan, ya….”

Laras tersenyum kecil. Ia tidak tahu tulisannya bisa sampai sejauh itu ke anaknya, ke teman-temannya, ke orang-orang yang bahkan tak mengenalnya.

Selama ini ia menulis seolah hanya kertas yang membaca.

“Ibu bakal nulis lagi?” tanya Nara.

Ia menatap dapurnya; kompor dua tungku, wajan yang mulai menghitam, rak bumbu yang catnya mengelupas. Semua masih sama. Hidupnya tidak tiba-tiba berubah mewah atau lapang.

Besok pagi ia tetap harus bangun sebelum subuh. Tetap harus memotong bawang, menanak nasi, menyiapkan bekal.

“Mau … ” jawabnya akhirnya.

Nara langsung tersenyum lebar. Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa, tapi suasananya terasa baru.

Suaminya masih berangkat pagi ke bengkel. Masih menanyakan lauk. Masih jarang berbicara panjang. Tetapi sesekali Laras memergokinya membaca ulang cerpennya yang disimpan rapi di laci televisi.

Suatu malam, lelaki itu berkata canggung, “Kalau kamu butuh waktu nulis … bilang saja. Nanti aku bantu jaga dapur.”

Laras menunduk menahan haru. Ia tahu, itu cara suaminya belajar mendengar. Beberapa minggu kemudian, sepucuk surat datang dari Balai Bahasa. Tangannya bergetar saat membuka.

Isinya undangan pembacaan karya pemenang. Mereka meminta Laras membacakan cerpennya sendiri di panggung kecil di depan orang-orang yang mencintai kata-kata. Ia duduk lama setelah membaca surat itu.

Panggung.

Kata itu mengembalikan ingatan pada tepuk tangan masa remajanya. Pada Bu Ratna dan dirinya yang dulu berdiri tegak dengan mimpi utuh.

Namun kini ia bukan gadis delapan belas tahun lagi. Ia perempuan empat puluh dua tahun dengan tangan penuh bekas luka dapur.

Malam sebelum acara, ia berdiri lama di depan cermin. Menyebut namanya sendiri pelan.

“Laraswati.”

Ia memastikan nama itu masih sah ia miliki.

Hari pembacaan tiba.

Panggungnya kecil. Kursinya tak banyak, dan lampunya cukup terang untuk membuat jantungnya berdegup seperti dulu.

Saat namanya dipanggil, langkahnya sempat goyah.

Ia membawa naskah itu dengan tangan yang pernah lebih sering memegang centong daripada kertas pidato.

Ketika mulai membaca, suaranya gemetar.

Namun di baris ketiga, ia melihat Nara di bangku depan tersenyum lebar. Di sampingnya, suaminya duduk kikuk, tapi menatap bangga.

Di baris belakang, seorang perempuan tua berdiri—Bu Ratna.

Guru itu mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca, seolah berkata, “Ayo! Suaramu penting.”

Lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 20 Mei 2005. Memiliki nama pena Velqiane dan kini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Karya pertamanya berjudul Bertemu Kembali Setelah Terluka. Selain menulis juga suka membaca dan mendengarkan musik. Instagram @velqiane.id dan Wattpad @velqiane

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!