Di Antara Bau Oli dan Doa Ayah, Ini Cita-Cita Saya. Bismillah!

Bagi banyak orang bau oli itu nyengat dan bikin pusing. Baju kotor kena oli juga dianggap jelek, tapi buat sebagian orang, termasuk saya, aroma oli sama suara mesin itu justru kaya lagu.

Saya sudah akrab dengan dunia otomotif, suasana bengkel bukanlah hal asing bagi saya. Semua itu berasal dari bengkel milik ayah saya yang setiap hari ramai oleh pelanggan dan kendaraan yang datang silih berganti. Dari tempat sederhana itu, saya mulai mengenal arti kerja keras, tanggung jawab, dan mimpi besar.

Awalnya, saya hanya melihat ayah saya bekerja memperbaiki mobil dengan penuh ketelitian. Tangan Ayah selalu hitam kotor oleh oli, tapi tidak pernah menjadi alasan untuk mengeluh. Dari tangan-tangan yang hitam itu, saya belajar bahwa semua jenis pekerjaan akan terasa mulia jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Saya sering membantu perkara receh di bengkel setiap Minggu atau hari libur sekolah. Tanpa saya sadar lama kelamaan rasa suka terhadap mobil muncul pada diri saya.

Di situ saya belajar dan merenungkan bahwa mesin adalah sesuatu yang paling jujur. Kalau mereka masang baut kurang kencang, mesin bakal berbunyi, atau juga kalau salah setel klep, mesin bakal mogok. Tidak ada drama dan basa-basi. Cuma ada sebab dan akibat.

Bisa jadi, bagi sebagian orang, mobil hanyalah alat transpotasi. Namun bagi saya, mobil adalah simbol perkembangan, kreativitas, dan peluang usaha. Saya merasa kagum melihat sebuah kendaraan bisa diperbaiki dan kembali berjalan dengan baik melalui keterampilan. Dari pengalaman itulah muncul keinginan besar dalam diri saya untuk menjadi pengusaha di bidang otomotif.

Berawal membantu Ayah yang tadinya cuma bisa ganti oli, sekarang saya sudah bisa banyak. Bengkel pun bukan cuma ganti oli atau tambal ban saja.

Sekarang, dunia otomotif sudah gila-gilaan. Ada mobil listrik dari bermacam merek juga. Montir sekarang gak cukup cuma modal otot. Harus pintar dan kalau bisa jadi Stromnya Marvel supaya bisa nge-charge sendiri 🙂

Mimpi besar saya tak berhenti ingin merakit mesin sendiri, atau mengembangkan bengkel ayah saya yang ada di Cilacap. Kalau boleh meminta pada Tuhan (tentu boleh, dong) saya ingin membuka bengkel yang seperti rumah sakit ekslusifnya para kendaraan.

Saya ingin punya bengkel seperti rumah sakit yang tempatnya bersih, alatnya lengkap, mekaniknya berpengalaman, dan bisa dipercaya. Iya, dipercaya. Bengkel yang jadi tempat “menyehatkan kendaraan” tanpa takut dibohongi dan dibodoh-bodohi waktu service. Tempat teknologi dan kejujuran bertemu.

Saya percaya,dunia ini butuh lebih banyak montir yang keren sekaligus jujur. Yang nggak cuma bisa bongkar, tapi juga bisa punya kemampuan menjelaskan ke pelanggan dengan bahasa yang mudah, singkatnya komunikatif dan public speaking. 

Mungkin, kalau saya nanti punya bengkel, saya ingin ada training public speaking untuk para montir.

Untuk mencapai mimpi tersebut, saya sadar bahwa saya harus rajin belajar dan sering-sering bantu ayah agar lebih tau dalam mesin, serta melatih kemampuan berkomunikasi dan berbisnis. Saya juga ingin membuktikan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan bengkel dapat memiliki mimpi besar dan mampu meraih kesuksesan.

Mesin mengajari saya banyak hal seperti:

  1. Observasi dan pahami dulu, jangan asal vonis
  2. Tak part yang tak penting, semua diciptakan dengan tujuan
  3. Setiap gejala dan penyakit butuh alat yang tepat
  4. Maintenance lebih murah daripada repair seperti mencegah lebih baik daripada mengobati
  5. Selalu pandai mendengar, suara atau lengking sekecil apa pun adalah gejala.
  6. Upgrade itu perlu, tapi pondasi harus kuat.
  7. Mogok bukan akhir segalanya.

Mobil mengajarkan saya hidup itu seperti sistem dan mesin. Semuanya saling berkaitan. Mesin butuh oli, radiator butuh air, aki butuh strum, dan manusia butuh istirahat. Kalau satu saja tidak selesai, semua kena imbasnya.

Aroma oli dan suara mesin terdengar tidak enak tapi bagi say aitu indah, semua itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang membentuk impian dan semangat saya.

Terima kasih ya, Ayah! Doakan saya, ya!

Lahir di Kebumen, 8 November 2005. Sekarang sedang melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Prof. K. H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Instagram @_maym4y00

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!