Di Antara Batu dan Kabut

Yang Tak Kembali Sama

 

Sesuatu jatuh tanpa suara,

Entah hujan atau sekedar rasa.

Lalu bumi terima,

tanpa pernah bertanya.

 

Di antara rintik yang jatuh,

ada perih yang tak lagi mencarinya.

Ia mengalir begitu saja,

Larut menjadi tanah, waktu, lalu terlupa .

 

Aku pernah berdiri di bawahnya,

Hanya dengan letih yang tak sempat ku ucapkan .

Dan langit tak pernah menenangkan ,

ia hanya jatuh, untuk dirinya sendiri.

 

Sebab hujan tak datang membawa jawaban,

ia hanya mengingatkan

yang jatuh pun bisa tetap hidup,

meski tak selalu seperti semula

 

 

 

Sunyi di Ujung Senja

 

Sendiri di ujung hari yang sunyi,

memandang langit yang perlahan pergi.

Senja turun tanpa suara,

membawa sepi ke dalam dada .

 

Cahaya mulai redup di permukaan air,

bergetar pelan tersentuh angin.

Segala yang sempat bercahaya,

Kini hanyut Bersama waktu.

 

Air pun terus mengalir,

tak pernah kembali, hanya berlalu.

Seperti hari-hari yang diam lalu pergi,

menyisakan jejak yang kian samar.

 

Di antara sunyi dan angin semilir

aku berdiri dengan sepatah kata,

mendengar sungai berkisah, 

tentang waktu yang tak lagi menunggu.

 

Dan di ujung senja yang hampir padam itu

aku akhirnya mengerti

hidup bukan tentang menahan yang pergi,

melainkan belajar merelakan yang tak bisa dimiliki.

 

 

 

Ketika Fajar Datang

 

Pagi di tepi jalan, langit membuka perlahan.

Awan bergerak mengiringi cahaya,

mentari mengintip di balik bukit,

menyapa bumi dengan hangatnya.

 

Di tepi jalan yang sepi

angin semilir berbisik lirih.

Sawah terbentang menunggu hari,

dan harapan perlahan tumbuh kembali.

 

Embun masih tinggal di daun padi,

berkilau saat disentuh pagi.

Burung-burung melintas di langit,

seperti membawa kabar pagi.

 

Langkah-langkah mulai terdengar,

hari perlahan membuka diri.

Di antara cahaya yang menyebar

aku belajar percaya pada pagi.

 

Sebab setiap fajar yang datang

tak pernah benar-benar sama

ia selalu membawa kemungkinan baru

bagi hati untuk sekedar berharap.

 

Di Antara Batu dan Kabut

 

Air jatuh dari langit yang hijau,

meluncur deras tanpa keraguan.

Kabut tipis memeluk pepohonan,

menurunkan sunyi yang menenangkan.

 

Di antara batu dan dedaunan

gemuruh air menjadi bisik alam.

Angin membawa kesejukan

yang perlahan meredakan lelah.

 

Tetes-tetes jatuh tanpa henti,

mengalir di sela batu yang renta.

Seperti waktu yang tak pernah berhenti

menyusuri jejak perjalanan manusia.

 

Di bawah gemuruh yang tak lelah bernyanyi

aku berdiri dalam diam,

mendengar alam bercerita

arti tenang yang sederhana.

 

Dan dari jatuhnya air yang abadi itu

aku belajar memahami,

kadang yang paling menenangkan hati

adalah kembali pada sunyi.

Lahir di Banyumas, 22 November 2006. Saat ini jadi mahasiswa Tadris Matematika di UIN SAIZU. Domisili Banyumas, instagram @fadli_dhuha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!