

Wahai Sang Arsitek Segala Senyap, Pemilik Tahta yang Tak Terjangkau Nalar,
Goresan takdir-Mu adalah pekat yang mematikan segala cahaya lancung.
Aku berdiri di tubir Lauhul Mahfudz, menatap tinta-Mu yang hitam-
Hitam yang lebih purba dari malam, lebih tajam dari sembilu penghakiman.
Sungguh, aku adalah pendosa yang paling durhaka,
Sebab berani-beraninya aku meratapi luka, di hadapan-Mu yang Maha Luka bagi segala berhala.
Rabbi … perjalananku adalah jejak-jejak patah di atas bara.
Aku buta, terjerembab pada remahan debu yang Kau beri ruh demi menyesatkanku dalam rupa.
Aku mencintai bayangan yang membusuk, menyembah kefanaan yang wangi,
Mengira debu itu adalah napas, padahal ia hanya sekam yang menanti api-Mu.
Aku telah lama mati, sebelum maut benar-benar menjemput nisan namaku.
Lalu di tengah kengerian ini, Kau hadirkan dia-
sang penyayat sunyi.
Bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai pengingat betapa kotornya jubah jiwaku.
Ia datang seperti musim dingin yang membekukan darah nistaku,
Sebuah ketetapan yang pedih, tanda bahwa Kau masih sudi mencambukku agar kembali.
Aku tahu, ini adalah cara-Mu yang paling gelap untuk menyucikan jalanku,
Menghancurkan aku sepenuhnya, agar tak ada lagi “aku” yang tersisa.
Ampunkan hamba yang bising ini, yang teriakannya hanya memantul di dinding langit.
Aku sadar, aku hanyalah bejana retak yang menampung nanah ketakutan.
Aku bukan Ibrahim, yang sanggup menertawakan lidah api yang menjilat tulang.
Aku bukan Nuh, yang punggungnya sanggup memikul beban kiamat di atas gelombang.
Aku pun bukan Musa, yang amarahnya mampu merobek jantung samudera.
Aku hanyalah sekerat daging yang gemetar,
Sesuap tanah yang ketakutan, yang tak punya arah selain tersedot ke dalam lubang hitam-Mu.
Tolong aku, Wahai Pemilik Satu-satunya Cinta yang Menghanguskan.
Rengkuh aku dalam lebur yang paling sunyi,
Sebab aku lebih baik punah dalam dekapan-Mu,
Daripada kekal sebagai debu yang Kau lupakan.
Tak kuasa kutahan riuh rindu yang menderu,
Hari ini, nyawaku tertinggal di bawah teduh kubahmu,
Sedang raga terseret pulang, memikul bangkai hati yang kaku.
Sepekan hanya sekejap, tak cukup membasuh karat di jiwaku,
Betapa nista, mata ini masih memuja fana di luar Wujud-Mu,
Ruginya aku, tak menyingkap semua aku.
Wahai muara rinduku, masihkah ada sisa ampun bagi si durhaka?
Sudikah Engkau memandang nanah dan noda yang bersimpuh tanpa daya?
Di bawah kubahmu, biarlah aku punah, agar hanya Engkau yang bertahta.
Lima hari tersisa, di ambang mautnya tahun ini,
Mencuci kerak busuk yang mengerak di dinding hati.
Mempersiapkan raga menjemput fajar esok hari,
Sambil mengeja jawaban: ke mana perginya diri ini?
Tiga ratusan matahari telah kutimbun dalam abai,
Kulepas segala isyarat-Mu hingga harapan terurai,
Baru kusadar, hanya Engkau cinta yang tak pernah usai,
Betapa naifnya aku, mengaku buta padahal Engkau melambai.
Wahai Pemilikku, wahai Muara segalaku,
Masih pantaskah nanah kotor ini mengaku milik-Mu?,
Tiap detik kupanggil, selalu Kau sahuti: “Ada apa, wahai cinta-Ku?”,
Namun aku tuli, terpenjara dalam bisingnya egoku.
Bahkan dengan lancang aku menuduh-Mu berpaling,
Mengira Engkau sirna saat duniaku sedang miring,
Ampuni aku, wahai Pemilik nyawa,
Hamba yang congkak, namun kini hancur tak bersisa.
4 Januari, angka genap yang tak pernah tetap
Di sini aku meringkuk, memohon ketetapan-Mu,
Apakah benar masih ada daya hingga seterusnya?
Ataukah aku hanyalah debu yang tersapu angin waktu?.
Puluhan jurnal, puisi, dan buku telah kubaca
Namun tetap saja, aku buta akan makna cinta-Mu
Engkau terus berima, melantunkan “Ya Abdihi” di setiap helaan,
Sedang aku terus abai, terasing dalam hiruk-pikuk kedirian,
Kucari Kau dalam barisan logika yang kaku,
Padahal Kau menyapa lewat debar jantung yang kelu,
Ilmuku setebal kitab, namun rasaku setipis kabut,
Di hadapan rima-Mu, egoku perlahan luruh dan larut.
Januari mungkin genap, tapi jiwaku tetap ganjil,
Tanpa sentuhan-Mu, aku hanyalah noktah yang kerdil,
Kini biarkan aku diam, mematikan aksara di kepala,
Agar kudengar jelas suara-Mu, di balik sunyi yang menyala,
Wahai Pemilik Ketetapan, genapkanlah ganjilku,
Jadikan rima-Mu satu-satunya penuntun langkahku,
Sebab di ujung pencarian, tak ada lagi ‘aku’ atau ‘dia’,
Hanya ada Engkau, sang Muara dari segala rahasia.