

Momen setelah wisuda merupakan momen yang cukup mencekam, karena proses kehidupan akan mencapai level berikutnya, yakni mulai mencari pekerjaan. Mengunduh berbagai aplikasi yang berhubungan dengan melamar pekerjaan dapat menjadi salah satu jalan.
Dalam ragam aplikasi tersebut, tak jarang kita akan menjumpai lowongan kerja seperti agent desk collection atau biasa disebut sebagai penagih uutang secara daring. Lowongan ini cukup menjamur dalam beberapa aplikasi.
Bahkan, lowongan tersebut tampak lebih mudah untuk dilamar karena syarat pekerjaan yang tidak aneh-aneh, seperti minimal lulusan SMA/S1, freshgraduated dibolehkan melamar, dan batasan umur yang masih cukup masuk akal.
Namun, sebagai seorang yang pernah menyelami dunia penagihan utang secara daring, saya mendapatkan pengalaman yang kurang mengenakan. Pengalaman pertama yang membuat saya cukup kesulitan ialah lembur yang tidak dibayar.
Kerja lembur dalam gambaran saya sebelum bekerja ialah akan mendapatkan uang tambahan, karena beban kerja sudah melebihi jam wajarnya. Sehingga sebelum memasuki dunia desk collection, saya beranggapan bahwa dengan lembur akan mendapatkan penghasilan tambahan, sehingga dapat menambah uang jajan.
Namun, pada kenyataannya saya harus mengubur dalam dalam ekspetasi mengenai uang tambahan pada saat lembur. Pada pengalaman yang saya dapatkan, lembur diartikan sebagai konsekuensi karena tidak dapat mencapai target yang telah ditetapkan tiap harinya. Jadi, setiap hari target akan terus berubah sesuai dengan algoritma data yang masuk. Semakin tinggi data yang masuk pada hari tersebut, maka target yang diberikan oleh atasan akan lebih tinggi.
Jika seorang agent tidak dapat menyentuh target, maka ia berkewajiban untuk mengambil jam kerja tambahan untuk setidaknya mencapai target minimum. Bukan hanya jam tambahan yang akan diperoleh oleh para agent, mereka juga akan mendapatkan pertanyaan yang sifatnya intimidatif, seperti,
“Kenapa kok sampai sekarang belum bisa nyentuh target?”, atau bahkan bisa ditodong pertanyaan yang lebih menyakitkan, seperti,
“Kalau targetmu sulit dicapai, perusahaan dapat langsung memecatmu.”
Selain lembur yang tidak mendapatkan upah, pengalaman suram selanjutnya yang saya dapatkan ialah memegang pekerjaan pada saat hari libur. Saat mulai hidup berdampingan dengan pekerjaan, bertemu dengan hari libur tentu menjadi salah satu kesenangan. Hari libur yang dapat digunakan untuk rebahan sambal scroll sosial media, jalan-jalan menikmati alam yang ada di Jogja, atau nongkorng bersama kolega.
Gambaran liburan di atas akan sulit didapatkan tatkala menjadi agent desck collection. Saya pikir pekerjaan penagihan utang secara daring hanya dilakukan di kantor saja selama hari kerja berlangsung, tapi yang terjadi, perkerjaan penagihan harus dibawa pulang ke rumah/kos.
Bayangkan betapa tidak tenangnya hari libur kalian jika masih harus memegang pekerjaan. Di saat kita dapat menonton film di Netflix (editor tim LK21), tetapi kita harus melakukan penagihan pada nasabah dari kosan. Rasanya seperti hidup ini hanya untuk menagih, menagih, dan menagih. Sulit untuk mendapatkan ketenangan pada hari libur.
Namun, perasaan di atas akan menjadi kurang valid bagi beberapa orang yang memang merasa bahwa membawa pekerjaan balik ke kosan merupakan hal yang wajar, karena tidak semua orang merasa hari liburnya diambil oleh perusahaan. Ada juga yang tetap bisa menikmati kondisi penagihan di hari libur.
Kesulitan lain yang setidaknya bakal dijumpai oleh para pelamar desk collection ialah insentif yang layaknya kompetisi. Untuk mendapatkan uang tambahan–agar tetap dapat hidup di bawah UMR Jogja, mencari insentif dari performa menjadi salah satu kunci. Namun, guna mendapatkan insentif ini kita harus jalan bebarengan dengan kesulitan untuk meminta izin pada saat tubuh sedang sakit.
Perusahaan memang tetap bisa memberikan izin bagi para agent, tetapi agent tersebut akan merasa tidak tenang tatkala mengambil izin. Data akan terus masuk tiap harinya sesuai jadwal para agent. Sekali ia tak masuk, maka ia akan kehilangan data yang dapat menunjang performa.
Ekstremnya ialah nilai rapor mingguannya akan mudah turun drastis karena ia absen dalam sehari. Jika kita amati, kondisi ini sebenarnya tetap memaksa agent untuk terus berangkat meski ia sakit. Pokoknya selama belum kiamat harus tetap masoooook!
Sekali berhalangan, maka nilainya dapat turun, dan insentif akan makin jauh dari genggaman.
Tampak parah, bukan?
Sistem yang diberlakukan oleh perusahaan. Secara tidak langsung para agent akan merasa sedikit “berdosa” karena absen, sebab ia akan kehilangan banyak data. Namun, di sisi lain ia harus mengorbankan kesehatannya, agar uang tambahan tidak kian jauh dari angan.
Kondisi yang amat ironi, tatkala para pekerja serius untuk mencari penghasilan guna menyambung hidup, eh, malah terjebak dalam sistem kerja yang bikin kepala geleng-geleng sambal mengelus dada. Belum lagi kerja menagih ini tidak jarang mendapatkan makian dari para nasabah. Makin berat beban pikiran pada proses bekerja berlangsung.
Menjadi agent desk collection bukan sekadar soal menagih, tetapi juga menghadapi caci maki, tekanan target yang mencekik, dan dilema moral yang menggerus empati. Di balik setiap telepon yang saya angkat, ada beban psikologis yang tak terlihat—antara menjalankan tugas atau menjadi manusia yang memahami kesulitan orang lain.
Pengalaman ini membuka mata saya bahwa sistem seringkali hanya menuntut hasil, tanpa peduli proses dan perasaan. Dan di tengah semua itu, yang paling menyakitkan adalah saat kita dipaksa kehilangan sisi manusiawi demi memenuhi angka di layar monitor.
Tulisan saya bukan bagian dari ajakan untuk menghindari lowongan pekerjaan penagihan utang online. Semua keluhan saya berdasar pada pengalaman pribadi saya, sehingga jelas tidak ada arahan bagi para freshgraduated untuk jangan melamar pekerjaan di bidang penagihan. Saya hanya memberikan gambaran dunia penagihan utang online bekerja, dan kalau kamu punya pinjol, ya gak papa, kita semua sama susahnya, kok.
Bagi kalian yang masih bertahan, hormat setinggi-tingginya karena dapat mengelola emosi dan terus bertahan diri. Tetaplah hidup dan jangan lupa katakan, “Hidup Jokowi!”.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!