

Sudah tahun 2026, tapi entah kenapa masih banyak yang menganggap tarot itu semacam ritual memanggil jin lewat kartu. Padahal, yang dilakukan pembaca tarot hari ini lebih mirip konseling ringan ketimbang teriak-teriak di tengah sesajen sambil baca mantra. Ya begitulah, warisan stereotip kadang lebih susah diberantas daripada utang cicilan motor.
Banyak yang masih mengira bahwa pembaca tarot adalah peramal yang bisa “melihat” masa depan, lengkap dengan efek suara horor dan cahaya lilin. Tidak jarang pula disandingkan dengan dukun, orang sakti yang konon bisa mengubah nasibmu hanya dengan sebaskom kembang tujuh rupa dan satu ekor ayam kampung.
Padahal ya, kenyataannya tidak seseram dan se-absurd itu.
Saya pun dulunya skeptis. Banyak pembaca tarot yang saya temui hanya membaca berdasarkan buku panduan, lantas menyebut dirinya “profesional”.
Hebat sekali, ya? Belum seminggu pegang kartu, sudah bisa pasang bio “tarot session only by DM”
Inilah kenyataan dunia modern, semuanya bisa dengan sangat mudah dilakukan. Mulai dari jadi beauty influencer sampai spiritual guru, tinggal pakai filter dan followers yang cukup banyak.
Namun, semua berubah ketika saya bertemu teman saya, seorang mahasiswa psikologi di sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Bukan, dia bukan dukun yang nyambi kuliah. Ia seorang praktisi tarot yang menyebut dirinya sebagai “Tarot Reading Consultant”.
Namanya “Kerang Ajaib”. Iya, betul, terinspirasi dari si kerang absurd di kartun Spongebob. Bedanya, yang ini benar-benar bisa jawab tanpa bikin orang frustasi dan emosi.
Dengan dia, saya belajar satu hal penting, bahwa tarot bukan alat meramal, tapi media untuk mengenali diri sendiri. Kliennya datang bukan untuk tahun kedatangan jodoh atau tahun pengungkapan tabir ternyata orang tuanya CEO terkaya di kota ini. Lebih dari itu, tarot difungsikan untuk mencari makna, mengurai perasaan, dan kadang ada juga klien yang cuma didengarkan. Sederhana, kan?
Mungkin belum banyak yang tahu, tarot itu bukan warisan dari Mbah Dukun atau hasil seminar ilmu gaib. Tarot pertama kali muncul di Eropa, tepatnya Italia, pada abad ke-15. Waktu itu namanya tarocchi, permainan kartu bangsawan, yang anehnya tidak melibatkan santet atau kemenyan.
Baru di abad ke-18, seorang tokoh bernama Antoine Court de Gébelin iseng (atau jenius?) mengaitkan tarot dengan Mesir Kuno. Katanya, tarot adalah bagian dari Buku Thoth, kitab mistis yang konon menyimpan rahasia alam semesta. Klaim ini tak jelas juntrungannya, tak ada bukti sejarahnya.
Tapi siapa yang butuh bukti kalau sudah terdengar cukup mistis dan menjual?
Yang menarik, Antoine Court de Gébelin sendiri tidak pakai tarot buat meramal. Ia menggunakannya sebagai alat kontemplasi spiritual, semacam self-help book versi analog. Dari sinilah, tarot mulai dikawinkan dengan elemen astrologi, Kabbalah, sampai psikologi.
Bahkan Carl Jung, bapaknya psikologi analitik, melihat tarot sebagai representasi dari kolektif bawah sadar (collective unconscious). Menurutnya, simbol di kartu tarot itu sejalan dengan archetype psikologis dalam diri manusia. The Fool, misalnya, bukan orang tolol tapi simbol perjalanan baru. Sedangkan The Tower, ya … cocok buat menggambarkan momen hidupmu saat semua serba kacau seperti waktu kamu sadar isi dompet di akhir bulan tinggal selembar, bukan yang merah atau biru pula!
Di Indonesia, tarot mulai naik daun dalam sepuluh tahun terakhir. Terutama di kalangan anak muda urban, yang mulai sadar pentingnya kesehatan mental dan self-awareness. Media sosial seperti Instagram dan TikTok menjadi ladang subur bagi para pembaca tarot, baik yang serius maupun yang hanya numpang viral.
Tentu saja tren ini membawa dua sisi. Di satu sisi, tarot menjadi lebih dikenal dan diterima. Di sisi lain, muncul pembaca instan yang bermodalkan kartu dan caption aesthetic, tapi minim empati dan wawasan. Mirip orang beli kopi mahal cuma buat foto cup yang ada namanya~
Inilah mengapa penting untuk membedakan tarot sebagai alat refleksi dan tarot sebagai sekadar konten viral. Sebab sayangnya, tidak semua yang trending itu berkualitas!
Sekarang mari kita luruskan lagi. Tarot bukan perdukunan/ramalan. Pembaca tarot bukan cenayang, bukan pemilik bola kristal, dan tidak bisa membaca isi pikiran di kepalamu.
Di era sekarang, semua orang bisa burnout hanya karena scroll berita atau sosial media, tarot muncul sebagai ruang alternatif yang reflektif dan nyaman. Banyak orang belum siap bertemu psikolog. Entah karena biaya, stigma, atau memang belum siap membuka diri. Dalam situasi seperti itu, tarot bisa menjadi pintu awal untuk menyapa diri sendiri.
Sesi tarot yang hangat, empatik, dan tidak menghakimi sering kali menjadi oase di tengah padatnya tuntutan hidup. Tapi tentu, tarot bukan pengganti psikolog. Untuk kasus serius seperti depresi berat atau gangguan kejiwaan, tetap butuh penanganan profesional. Jangan pula datang ke pembaca tarot minta diagnosa bipolar. Itu bukan wewenangnya.
Sudah waktunya kita berhenti menyamakan tarot dengan perdukunan. Literasi publik soal ini harus ditingkatkan, agar masyarakat bisa membedakan yang serius dan yang sekadar jualan “misteri” demi likes, followers dan cuan semata.
Begini saja, kan tidak semua content creator adalah jurnalis, maka tidak semua pembaca tarot adalah cenayang. Jangan buru-buru menuduh cuma karena kamu melihat seseorang bawa kartu dan berkata, “Tarik satu.”
Alih-alih menghakimi, mari belajar memahami pendekatan mereka. Apalagi jika dilakukan dengan empati, wawasan, dan niat membantu. Pada akhirnya, tarot adalah alat bantu, seperti cermin saja.
Terakhir, tarot bukan dukun. Tarot bukan klenik. Tarot bukan kuis “Kapan kamu menikah” ala filter story Instagram. Tarot adalah medium untuk berbincang, memahami emosi, dan menemukan kejelasan di tengah keruwetan hidup. Tidak lebih, tidak kurang.
Jadi, lain kali kamu melihat seseorang menggelar kartu tarot, jangan buru-buru menyebutnya “pelihara jin”. Bisa jadi, yang mereka lakukan adalah sesuatu yang lebih manusiawi dari kebanyakan mendengarkan.
Berminat pada isu sosial, politik, dan kelestarian lingkungan. Suka mengamati kebijakan publik, dan aktif mengikuti perkembangan budaya pop sebagai kacamata untuk melihat fenomena masyarakat hari ini. Instagram @ogzatt_13
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!