Banyak hal yang melatarbelakangi mengapa seorang mahasiswa memutuskan bergabung ke sebuah organisasi. Pokoknya banyak. Idealnya satu yang menjadi alasan utama ketika memutuskan untuk bergabung dengan organisasi tertentu adalah memahami apa yang akan ia lakukan di sana nanti.

 

Ada irisan pada dirinya yang mendorong ia mesti berkumpul dengan individu-individu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Ada semangat kompetensi yang mesti ia tuangkan dan sekiranya organisasi itu mampu menjadi wadah untuk menampungnya. Penting menyadari apa yang ia cari, apa yang ingin lakukan, dan apa yang ingin perjuangkan.

 

Fatalnya tidak sedikit individu yang luput terhadap poin itu. Mereka seakan absen dari kesadaran itu. Faktor-faktor dari luar diri telah ikut mempengaruhi sehingga mau tidak mau mereka harus abai. Lupa untuk mempertimbangkan variabel-variabel kecakapan dalam dirinya. Setiap orang pastinya memiliki batasan. Akan hal itu semestinya semakin tahu pula, semakin mengerti seberapa besar kapasitas kita, sejauh apa daya jangkau kompetensi kita, sejauh apa diri kita akan berkonstribusi dengan bekal-bekal yang kita miliki.

 

Ini belum berbicara soal minat, sebagai keyakinan yang menggugah alasan-alasan tersebut. Keinginan untuk tetap optimis dan bertekad bahwa dirinya akan berkembang, mampu berproses, dan tentunya berkonstribusi. Barangkali ini adalah konsekuensi konkret, apabila secara terang-terangan hal itu (minat) adalah satu-satunya modal yang dimiliki.

 

Minat yang baik dan matang senantiasa membimbing tuannya untuk tetap mengaktualisasi diri. Berusaha menyeimbangi jalan berorganisasi yang tidak mustahil pasti ada turun naiknya. Dengan minat yang kuat sejak awal, seseorang tidak akan mudah lalai, gampang untuk menyerah dan abai, serta pesimis dengan apa-apa yang diusahakan.

 

Minat mendorong seseorang untuk terus belajar memahami keadaan dan memahami iklim (dalam hal ini adalah berorganisasi). Orang yang tidak memiliki kekukuhan ini niscaya hanya menjadi masalah bahkan bisa-bisa jadi batu sandungan bagi rekan-rekannya.

 

Maka sampai lagi kita pada kesadaran. Minimal kesadaran pada diri, kesadaran pada keadaan (lingkungan), dan kesadaran untuk berpikir. Konstruksi logika ini sekiranya cukup mampu menjadi patokan dalam bersikap dan berperilaku, tentunya dalam berorganisasi.

 

Tapi saya tidak ingin menggerutui kelaziman itu. kelaziman? Iya anggaplah begitu. Mari kita beranjak kepada sikap-sikap yang seyogianya diambil dari segala ketelanjuran ini. ketelanjuran? Iya anggaplah begitu. Kita telah memasuki apa yang disebut oleh Albert Camus sebagai absurditas. Absurd dapat diartikan sebagai kondisi di mana manusia tidak mampu menetapkan tujuan dan makna bagi hidupnya, bahkan secara khusus diartikan kondisi manusia tidak mengerti apa itu kehidupan dan untuk apa manusia hidup. Ketidakjelasan tujuan hidup adalah hal yang absurd.

 

Sekiranya kita tidak ada bedanya dengan Sisyphus dalam kisah mitologi. Seorang raja dari Corinth yang dikutuk oleh Zeus untuk mendorong batu ke puncak bukit selamanya. Kesadaran kita ialah bahwa kehidupan ialah sesuatu yang tidak bermakna. Manusia adalah Sisyphus yang memiliki (dan memilih) masing-masing batunya sendiri dan memiliki hasrat untuk mendorongnya ke puncak sampai kita sendiri melihat batu tersebut akan menggelinding kembali ke bawah. Namun kita tetap saja berhasrat untuk mengulanginya. Camus menjawab inilah ketidakbermaknaan hidup. Batu yang didorong Sisyphus adalah kehendak manusia yang bersifat sesaat. Manusia cenderung menurutinya meski tak mengubah kehidupan yang tidak bermakna ini.

 

Nah, ada satu poin yang dapat kita imani dari Babang Sisyphus ini, yakni keinginan kita untuk menekuni sesuatu hal namun selalu dengan cara mengabaikan kesadaran. Tapi berlandaskan minat. Ia seperti mata uang, yang mengukuhkan namun juga melemahkan. Begitu pula dalam berorganisasi kita sering sekali hanya memandang-mandang apa-apa yang di depan, menebak-nebak ada apa di hari depan, apa yang ditawarkan di sana, betapa ruginya diriku ketika melewatkan kesempatan ini. Dengan tanpa kesadaran dan menutup mata para diri sendiri.

 

Mari mengevaluasi diri kembali. Sudah luruskah tujuan kita berorganisasi, seberapa kukuh kita menyeimbangkan antara dorongan hati, keinginan, dengan kemampuan untuk bertanggung jawab. Mari mulai mengembalikan bagian diri yang mulai lepas, saraf-saraf yang mulai mati, dan peredaran darah yang sedikit-sedikit tersendat. Bukankah pada mulanya segalanya adalah kepingan-kepingan yang diutuhkan?

 

Profil Penulis

Yulianto Adi Nugroho
Yulianto Adi Nugroho
Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1997. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Bergiat aktif di komunitas sastra KRS (Komunitas Rabo Sore) Surabaya dan jurnalis di pers mahasiswa Gema, Unesa. Karya puisi dan cerpen dimuat di Suara Merdeka, Solopos, Denpost Bali, Koran Merapi, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Magelang Ekspres, Radar Bojonegoro, Simabala.com, Kibul.in, Apajake.id.