

Masa sekolah dasar saya jalani di Flores sepanjang 3 tahun di SD Katholik Tobiwutung. Dulu awal masuk SD berusia genap 6 tahun. Waktu SMP baru lah saya sadar kalau usia segitu terlalu cepat untuk masuk ke SD.
SD Katholik Tobiwutung berada di Kabupaten Lembata. Saya berangkat ke sekolah naik mobil bersama teman-teman. Bukan mobil milik orang tua, melainkan mobil sewaan yang dipinjam Kepala Desa. Desa saya bernama Dulitukan. Perjalanan ke sekolah memakan waktu 15 menit.
Ruas jalan yang saya lalui sudah beraspal mulus. Pemandangan dari sisi kanan dan kiri hanyalah padang rumput dan beberapa domba. Anjing liar juga ada. Jika hujan mengguyur dengan deras, terkadang kami meliburkan diri. Jika terpaksa disuruh berangkat ke SD, biasanya pakai penutup terpal di atasnya agar tak basah kuyup.
Di mobil berdesakan antara murid laki-laki dan perempuan. Perempuan beragama katolik ada lima anak. Satu diantara mereka ada yang cantik, namanya Sinan. Dia bukan tetangga saya, lokasi rumahnya beda RT. Dia anak Bu Guru di SD dan ayahnya berkerja di kantor Desa Dulitukan.
Saya sekolah pukul 7.00 sampai 11.30 WITA. Satu kelas dihuni 23 anak. Yang beragama Islam hanya 6 anak dan sisanya Katolik.
Seperti sekolah pada umumnya, Senin selalu diawali upacara. Kamis pelajarannya olahraga, IPS, dan Pendidikan Agama Katolik. Pelajaran olahraga diajar Pak Rus, IPS diajar Bu Marni yang jarang kasih PR, dan Pendidikan Katholik diajar oleh Romo Pakalis Nipon. Orangnya pakai kacamata, bermasker dan belum terlalu tua wajahnya.
Di SD Katolik ada seorang suster. Beliau juga mengajar Pendidikan Agama Katolik. Wali kelas saya bagian mengajar Matematika.
Bagaimana dengan kepala sekolahnya?
Kepala sekolah di sini dipanggil Bu Sula. Beliau sering menghukum saya. Hukuman yang saya alami diantaranya push up, jalan jongkok, dan berdiri di depan kelas. Alasannya tidak mau disebutkan.
Masih menceritakan pengalaman di SD Katholik Tobiwutung, saya merasakan suasana wabah corona. Kena suntik vaksin di kelas dua, selain itu minum obat cacing satu kali. Selama pelajaran di kelas memakai masker. Jarak tempat duduk dipisah pisah tak boleh berdekatan. Meski masa wabah corona, saya pernah diberi tugas bersama teman teman untuk bersihkan gereja yang tak jauh dari SD.
Dari SD ke gereja jalan kaki di siang hari. Kegiatan bersih-bersih desa diperintahkan Kepala Sekolah tiap Sabtu, satu kali dalam sebulan. Selesai membersihkan bagian dalam dan luar gereja, langsung kembali ke SD.
Ada kejadian yang paling membekas di memori saya. Saat guru Kesenian memberi tugas menggambar Yesus. Itu jelas sekali perintahnya. Namun tak saya kerjakan dan saya putuskan bolos esok harinya.
Lusanya saya ditegur Pak Kalis, “Kenapa kemarin kau tak masuk sekolah?”
Saya jawab, “Malas saja, habis Bapak nyuruh saya gambar sesuatu yang berlawanan dengan ajaran agama saya.”
Beliau hanya tertawa mendengar jawaban saya. Saya kira saya akan dicubit atau kena pukul rotan.
Selama di SD Katholik Tobiwutung, saya pernah ikut lomba O2SN. Lomba ini digelar di sekolah lain yang cukup jauh. Saya pergi ke sana naik mobil pick up. Yang mewakili SD ada 10 anak.
Saya ikut lomba futsal. Teman saya yang lain ikut lomba renang. Di sana lomba renang yang diadakan di laut. SD saya juara lomba futsal, badminton, dan tenis meja. Singkatnya, saya menang.
Saya pindah sekolah waktu naik ke kelas 4. Ibu saya yang mengajukan pindah sekolah ke SD Inpres Tulitukan. Kondisi gedung SDI ini biasa saja, masih bagus SD Katholik Tobiwutung. Kanan kirinya SDI masih hutan. Di SDI ini satu kelas cuma 9 anak yang terdiri 4 perempuan dan 5 laki-laki saja. SDI ini tak ada musala. Jadinya kalau mau salat berjamaah harus menumpang ke gedung perpustakaan.
Menjelang kelulusan di kelas 6 ada acara perpisahan di Bulan Juni. Saya dan teman-teman pakai baju batik dan celana hitam. Bentuk acaranya makan-makan di dalam kelas sekitar jam 11 siang bersama murid dan wali kelas. Makanan kala itu ikan kakap merah dipanggang dan dilengkapi sayur ketaka. Acara ditutup dengan sesi foto bersama.
Mondok ke Jawa
Habis lulus SD saya berniat mondok, tapi tak tahu tujuan mondoknya. Sampai saya bertemu dengan Ustaz Sawal, paman dari pihak Ibu. Ternyata beliau satu diantara pengasuh di Pesantren Muhammadiyah Al-Munawwaroh di Kota Malang. Saya lalu main ke Malang bersama Ibu dan Ustaz Sawal.
Kami naik kapal laut yang memakan waktu 4 hari 3 malam. Teman-teman saya yang berangkat bersama saya diantaranya Muslimin, Afzalul bin Erlon, dan Faisal.
Suasana yang saya rasakan setelah sekolah di Malang adalah hawanya dingin, sementara di desa kelahiran saya agak panas. Terlebih, kalau Juni sampai awal Agustus. Uh, dinginnya bukan main. Di sini pemukiman padat sekali, berbeda dengan di Flores. Harga alat tulis pun murah sekali kalau dibandingkan dengan di rumah saya.
Selama mondok, saya cuci baju sendiri. Termasuk setrika baju dan celana yang akan dipakai berangkat ke sekolah. Di pondok ini saya menjalani ujian praktek ibadah. Bentuknya ujian lisan. Dua penguji menanyai ke peserta ujian soal bacaan salat, sejauh mana hafalan Asmaul Husna, praktek bersuci sampai urusan membacakan doa sehari-hari. Saya masih ingat diuji Pak Nasrul Arief, syukurlah dapat nilai yamg cukup bagus dan tidak disuruh gambar Yesus.
Selesai ujian lisan baik ibadah, tahfidz, Bahasa Inggris dan Bahasa Arab, pondok saya menggelar penyembelihan hewan kurban. Sekolah saya libur sepekan lebih tanpa ada KBM.
Baru masuk lagi Selasa 2 Juni 2026, dan langsung ujian tulis. Ujian tulis disini disebut UAS atau kalau disekolah lain pakai nama Sumatif Akhir Semester. UAS berlangsung dari 2 Juni sampai dengan 11 Juni 2026. Pelajaran yang diujikan meliputi Bahasa Indonesia, SKI, Tajwid, Imlak hingga Khat. Totalnya 18 pelajaran yang bakal saya kerjakan.
Sekolah saya yang sekarang menerima MBG. Diantar pagi dan baru bisa disantap saat rehat pukul 12 siang. Rasanya hambar sekali. Masih enakan masakan ibu dapur atau yang akrab disapa Bu Nur. Rencana saya 6 tahun ke depan bakal sekolah di Malang. Pasalnya di sini dapat beasiswa penuh dari panti asuhan Muhammadiyah. Dapat beasiswa gratis begini menggambarkan betapa baiknya lembaga milik Muhammadiyah. Masalah nanti lanjut kuliah atau tidak, bisa dipikir belakangan. Ada cukup uang ya kuliah, tak ada uang otomatis cari kerja dulu.
Siswa di MTs Muhammadiyah 2 Kota Malang. Sejak Juni 2025, mondok juga di Pesantren Muhammadiyah Al-Munawwaroh. Cita-cita ingin jadi Muballigh.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!