Dari By The Way ke By The Way: Memikirkan “Literasi” Sekali Lagi 

Refleksi Selepas Muskerwil FTBM Jawa Barat, Bogor 2025

Hidup ini tak ada artinya

Maka kau bebas mengarang maknanya seorang.

–Hindia.

Saat dalam perjalanan ke Muskerwil Forum Taman Bacaan Masyarkat Daerah Jabar (FTBM) di Bogor kemarin seorang kawan yang mengantar nanya untuk apa ikutan FTBM?

Padahal udah sibuk dengan urusan kantor dan jelas-jelas kami ini merupakan generasi sandwich, yang menurut sebuah laporan dari Tirto.id terancam tak akan bisa kebeli rumah. By the way, saya baru ngeuh kalau ngambil cicilan KPR bukanlah jaminan kita punya rumah. Ya Tuhan, ampunilah jongkoknya wawasan literasi finansialku.

Jadi saya tak bisa menjawab pertanyaan itu secepat kilat. Apalagi menjawabnya dengan slogan literasi untuk semua.

Selain khawatir terdengar menggelikan bagi si penanya yang notabene gen-z itu, jawaban demikian hanya akan membuktikan stereotip millennial: omongannya suka dibuat-buat dan suka mencemooh, atau nge-judge.

Meski stereotip millennial itu rada valid di saya, tapi mari kita angkat sedikit maruah millennial. He he.

Sampai sini saya berharap kita semua ngerti apa perbedaan gen-x (baby boomer), gen-y (millennial), dan gen-z, sehingga kita tidak menyederhanakan “anak muda” dengan generasi millennial saja. Salah kaprah yang terus-terusan diulang dalam sambutan di acara-acara bertajuk literasi. Jadinya, terkesan kurang literat aja gitu loh. He he.

Sering belajar bareng kawan-kawan yang lebih muda makin meyakinkan saya bahwa Gen-z muak dengan jawaban yang tidak jujur atau tidak personal, atau related.

Jadi saya perlu menjawab pertanyaan itu dengan jujur dan jelas-jelas tidak terdengar seperti sambutan kepala dinas setempat, yang entah cem-mana selalu ingin diundang dan ajaibnya selalu terlambat. Dan aduhai-nya kita seakan-akan memaklumi perilaku spesies ini.

Namun sebelum sampai pada jawaban itu, izinkan saya mengurai pikiran-pikiran yang mengusut seketika di kepala saya. Iya juga ya, untuk apa sih repot-repot ke Bogor, nyamperin orang yang bukan keluarga dan jelas-jelas ke acara yang gak bikin kaya? Bahkan summit meetingnya Academy Crypto terasa lebih make sense untuk didatangi.

Sepintas pertanyaan ini mungkin terdengar basic dan sepele. Kalau kita tak sabar mengunyahnya, ini akan menjebak kita jadi pencemooh, dan mendorong kita memproduksi jawaban yang justru mirip omongan politisi, yang sudah pasti tidak jujur dan jelas-jelas formalitas belaka.

Bagi saya, pertanyaan ini sejatinya berpotensi sebagai bahan renungan dan upaya penemuan makna dari kegiatan kita sehari-hari. Khususnya buat saya dan kawan-kawan yang bergiat dalam gerakan keberaksaraan di Karawang dan Purwakarta. Bagi saya ini penting ketika belakangan ini selalu ingin garuk-garuk kepala saat diajak berfoto dengan pose jari “L”.

Mengartikulasi Derita Menjadi WNI

Pertama-tama, dengan kerendahan hati saya mau bilang bahwa saya merasa tak berhutang apa-apa pada negara, sehingga perlu banget menjunjung slogan “mencerdaskan bangsa” dalam aktivitas sehari-hari. Begitu pula saat memenuhi undangan Muskerwil Forum Taman Bacaan Masyarakat Jawa Barat, mewakili Pengurus Daerah FTBM Karawang.

Namun apakah kiranya dorongan saya?

Menginjak 33 tahun saya makin yakin kalau menjadi WNI sama saja dengan upaya dan latihan menerima-keadaan menyedihkan yang tak habis-habis.

Apa boleh bikin, kitalah bagian dari 286 juta warga negara yang dengan sadar memilih orang-orang “bermasalah” sebagai pemimpin. Mulai dari Pilpres sampai Pilkada.

Jangan tanya saya, rasanya jadi warga Purwakarta melihat KDM dipuja-puja masyarakat kita belakangan. Kami pernah 10 tahun “bersama”, dan hafal belaka modus-modus kebijakannya. Parahnya, kami memilihnya dua kali, padahal di periode pertama sudah nyadar red flag-nya.

Ini belum lagi jika kita mau mengamati pola-pola penanganan masalah budaya literasi kita. Mulai dari struktur dan model anggaran pemerintah pusat sampai pada fenomena “aktivis” literasi yang tidak tahan membaca buku dan tak mengherankan jika mereka tidak bi(a)sa menulis panjang.

Jadi itulah barangkali sepenggal potret derita kita. Hal yang mesti kita terima lebih dahulu, sebelum kita bicara lebih banyak. Persis seperti tingkatan-tingkatan awal berduka (stage of greaving) dalam wacana psikologi populer.

Barangkali Kewajiban Moral dan Tanggung Jawab Politik

Hap! Kembali ke topik utama.

Seperti kebanyakan orang, saya tak punya banyak pilihan—meski para influencer di media sosial matian-matian meyakinkan sebaliknya. Saya tak mungkin menggantikan wapres kita yang dengan santai dan terlihat bersemangat bilang “jujur saya tidak suka membaca”. Jadi sekeras apapun berusaha, saya tak yakin bisa membuat perubahan berarti di daerah saya, apalagi buat Indonesia.

Dari awal dan  mungkin sampai mati pilihan yang ada hanyalah tetap bergulir dalam lingkaran warga biasa yang mengaktivasi kegiatan literasi.

Dan inilah yang saya kira paling bisa kita lakukan sebagai moral duty sekaligus sebagai sikap politik—dalam artian yang lebih luas dari sekedar nyaleg kemudian gagal dan masuk Rumah Sakit Jiwa.

Tentu masih banyak sebal tipis-tipis bergaul dan bergelung pikiran bareng orang-orang literasi sampai saat ini. Mulai dari kebiasaan bikin acara seremonial, project-project penerbitan berkualitas menyedihkan, salam “L” yang bikin tangan keram, orang-orang yang lebih suka membicarakan bukunya sendiri alih-alih buku yang layak jadi reading-list warga Indonesia, orang yang sangat terobsesi dengan bantuan pemerintah—astaga! Istilah “bantuan” untuk program literasi saja bikin kita terlihat menyedihkan. Ini belum lagi dengan jarangnya saya mendengar rekomendasi bacaan yang asyik dari “aktivis” literasi. Tapi ya sudahlah.

Meski belum semuanya, dan jelas tidak semua orang dan acara literasi demikian, menuliskan hal-hal di atas saja sudah menyesakkan. Bahkan saya merasa kita lebih sah membayangkan Indonesia juara Piala Dunia dibandingkan masuk dalam 3 besar skor PISA tertinggi.

Membayangkan Lilipaly mengangkat trofi World Cup bahkan terasa tidak terlalu delusional, dibanding mendengar seorang presiden baru terpilih mengatakan: salah satu program 100 hari pertama saya adalah menjadikan karya-karya sastra terbaik Indonesia sebagai bacaan wajib (reading-list) di sekolah-sekolah. Atau sebuah partai politik yang menyatakan: visi dan misi kami cuma satu, menggeser adagium “politik adalah panglima” jadi “membaca adalah panglima”.

Yang Dekat dan Utama

Tentu sampai sini pembaca yang budiman bisa merasakan nada sinis bahkan ketidakseriusan tulisan ini. Tapi saya mohon, percayalah, bukan itu poin utamanya.

Meski baru kisaran satu dekade terakhir ikut-ikutan mengaktivasi komunitas-komunitas berlabel literasi di kisaran Purwakarta dan Karawang, saya makin menyadari betapa pentingnya menyandarkan kerja-kerja keberaksaraan kita pada hal-hal yang dekat dan utama.

Jauh-jauh dari Purwakarta ke Bogor, bagi saya semangatnya tak mungkin demi mewujudkan literasi untuk semua. Buat saya pemaknaan itu rasanya terlalu jauh. Yang terdekat adalah percaya pada teman-teman saya dan hal-hal baik yang mereka impikan. Dalam hal ini adalah teman-teman di FTBM dan orang-orang literasi yang berhimpun dalam ceruk-ceruk lainnya.

Sementara untuk masa nanti saya berharap orang-orang setelah generasi kita tetap percaya pada, perkawanan yang baik akan menghasilkan kerja-kerja yang baik. Dan yang paling utama: komitmen pada tugas moral yang paling memungkinkan dilakukan.

Meski saya pribadi tak percaya kita akan mencapai “generasi emas” (apapun maknanya) di masa depan, tapi yang jelas, di masa ini kita masih sering bertemu. Untuk itulah hal paling utama dari semuanya dan jelas-jelas paling saya syukuri adalah perkawanan kita.

Ya Ampun jadi serius begini~

Ngomong-ngomong soal jawaban atas pertanyaan di atas tadi, setengah melantur saya bilang: Umur segini temen udah makin sedikit, jadi mesti commit dan dirawat baik-baik.

Saya dan Mayang, ketua FTBM Karawang yang sudah masuk 30 tahunan itu sejenak menahan napas, kemudian mulai tertawa, barangkali demi melepas keperihan pikiran dalam benak kami masing-masing. Sementara Justika yang Gen-Z itu geleng-geleng kepala. Ya Rab, betapa cetek otak para millenial ini rupanya. Mungkin begitu pikirnya.

 

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Al-Quran & Tafsir, UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bagian dari Gusdurian Purwakarta dan Swara Saudari Purwakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!