

Sebelumnya, saya tidak pernah memberikan CV kepada orang di luar kepentingan, lagipula serius tulisan disebut CV? Haha.
Sejak tulisan pertama, perkaranya bukan cuma salah mengamati, tapi juga menunjukkan kesalahan cara berpikir yang mereduksi kerja-kerja perempuan hanya pada yang kebetulan terlihat olehnya, dan itu ditunjukkan sejak dalam judul. Semua orang bisa membaca kata “abai”, kan?
Kalimat, “Forum politik, isu anggaran, pembangunan, demonstrasi, dan kritik terhadap pemerintah kebanyakan digerakkan laki-laki,” sudah membuktikan patriarki sejak dalam pikiran. Eh, bisa disebutkan tidak ya, forum politik, isu anggaran, pembangunan, demonstrasi, dan kritik pemerintah yang disebutkan itu?
Kata “kebanyakan” mengakui adanya “yang sedikit”, tetapi pada saat yang sama digunakan untuk membangun kesimpulan bahwa gerakan perempuan “abai”. Sudah tak dilihat, dibilang “abai” pula.
Sekali lagi, seolah-olah, jika tidak muncul di hadapan Agra, maka kerja itu tidak pernah ada, dan tentu saja ini sudah dijelaskan pada tulisan saya. Dengan senang hati saya bold agar dibaca dan diamati.
Cara pandang seperti inilah yang sejak awal justru menghapus jejak kerja kolektif perempuan yang telah berlangsung bertahun-tahun, lalu menggantinya dengan kesimpulan yang dibangun dari keterbatasan pengamatan sendiri, lalu diposisikan sebagai gambaran realitas.
Padahal, sejak tulisan pertama saya telah menjelaskan bahwa kerja-kerja aktivisme perempuan tidak dapat direduksi hanya pada hal-hal yang terlihat oleh seorang pengamat, yang bahkan tak mengetahui kolektif perempuan di Purwakarta.
Tentu saja, menjadikan pengalaman observasi yang terbatas sebagai ukuran realitas adalah bentuk availability bias yang dicanangkan dalam Prospect Theory disiplin ilmu ekonomi. Semacam sebuah shortcut judgement, yang menyebabkan sesuatu dianggap lebih “hadir” hanya karena lebih sering muncul dalam medan pengamatan sendiri.
Supaya lebih mudah, begini skemanya:
Rabun kognitif -> kemalasan epistemik -> siloville mentality -> Dunning-Kruger effect -> unsubstantiated assertion -> nihilisme aktivisme perempuan
Supaya lebih mudah lagi, begini maksudnya:
Keterbatasan pengamatan -> enggan mencari tahu -> enggan berjejaring -> berlagak kenal, tahu saja tidak -> klaim tanpa dasar -> membuat judul dan tulisan yang menihilkan kerja-kerja yang tak diamati.
Singkatnya, meniadakan kontribusi aktivis dan/atau kolektif lain yang berada di luar jangkauan radar pengamatannya.
Sesederhana itu.
Oh, ayo lah. Tulisan balasan kedua sudah cukup untuk menegaskan pengamatan dangkal itu hanya berpusat pada gender yang dianggap “utama”, pengalaman gender lain akan selalu tampak kurang, bahkan dianggap tidak ada. Hasilnya? absennya pengamatan berubah menjadi penghapusan terhadap kenyataan itu sendiri, dan itu terbukti sampai di tulisan dangkal dari Agra yang kedua.
Analogi tukang bakso jelas analogi jelek. Sejak awal, tukang baksonya tak pernah lewat dan muncul di hadapan Agra, kok.
Saya buatkan analogi yang lebih bagus, ya. Seseorang menonton film hantu, dan ketika latar musik memberikan tanda hantu bakal muncul, yang menonton justru menutup matanya rapat-rapat. Maka, ketika ada yang bertanya,
“Gimana? Hantunya seram, gak?”
“Ah! Gak ada hantunya!”
Maka, ketika ada yang bertanya,
“Apa wajah gerakan perempuan di Purwakarta?”
Jawabannya seperti tulisan dangkal Agra pertama.
Ketika ditanya lagi,
“Emang kamu gak nonton?”
“Nonton, kok!”
“Kok bilang gak ada hantunya?”
Jawabannya seperti tulisan dangkal Agra kedua.
Karena itu, sampai sekarang ada dua pertanyaan mendasar yang belum juga terjawab sejak tulisan awal saya.
1. Seperti apa sebenarnya gerakan perempuan yang dianggap ideal menurut seorang “pengamat sosial”? Apa indikatornya? Haruskah selalu berupa demonstrasi jalanan? Haruskah seluruh kerja tampil dalam bentuk advokasi yang spektakuler? Ataukah baru dianggap nyata ketika menjadi konten viral?
Pertanyaan ini jelas harus dijawab. penting karena selama ini forum-forum diskusi, pendidikan, pengorganisasian komunitas, pendampingan korban, hingga kerja-kerja literasi selalu dipublikasikan melalui akun kolektif maupun organisasi. Jika semua itu tetap dianggap tidak ada, maka persoalannya jelas bukan pada keberadaan aktivis, kolektif, dan/atau organisasi. Melainkan pada pengamatan yang sejak awal sudah rabun saja~
2. Sebagai pengamat sosial, sebenarnya yang diamati itu apa? Jika kerja kolektif yang terdokumentasi, forum-forum yang terbuka, publikasi organisasi, hingga rekam jejak gerakan yang telah berlangsung bertahun-tahun tetap tidak masuk ke dalam pengamatan, maka sangat mungkin pengamatannya sendiri terlalu sempit. Cinta lalu bertanya, “Terus? Kalau lo yang gak pernah mau tahu, gak pernah tahu, dan gak pernah mau ngamatin gerakan perempuan di Purwakarta salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue?!”~
3. Mengapa perhatian hanya diarahkan pada cepat atau lambatnya respons terhadap satu isu tertentu, sementara berbagai isu lain yang telah lama diperjuangkan tidak pernah masuk ke dalam analisis?
4. Kemarin ketika diskusi, datang dan menyimak sampai akhir, kah? Mendengar poin tuntutan, kah?
5. Saya juga masih menunggu jawaban soal penggunaan AI. Bagaimana pandangan Agra mengenai dampak penggunaan AI terhadap konsumsi energi, kualitas air, dan ruang hidup? Sebab isu lingkungan juga merupakan bagian dari tanggung jawab sosial. Atau pertanyaan itu sengaja dilewati?
Tulisan saya sebelumnya secara eksplisit membeberkan kerja-kerja kolektif dan aktivisme secara gamblang agar mudah dibaca dan dianalisis. Namun, alih-alih menanggapi dan menjawab pertanyaan di dalamnya, Agra kembali mengulang asumsi yang sama dengan analogi seburuk tukang bakso.
Sulit menyebut Agra kekurangan informasi ketika bukti yang disajikan justru diabaikan. Yang ramai dianggap representatif, yang tidak ramai tidak pernah ada. Perempuan bergerak di belakang layar masih tak kelihatan, perempuan muncul dilayar disebut personal branding. KDM dan Binzein disebut apa kalau begitu?
Feminisme tentu saja menolak relasi kuasa yang menihilkan kerja-kerja perempuan. Feminisme tentu saja menolak pengamatan dangkal yang membuat aktivisme perempuan dianggap tak ada hanya karena tak terlihat~
Uh, perempuan selalu benar ternyata hanya mitos. Patriarki sejak dalam pikiran sekali pengamat sosial satu ini~
Kedua tulisan Agra tak lebih dari pengamatan algoritma media sosial daripada pengamatan realitas sosial. Ganti saja bionarasimu jadi pengamat media sosial.
Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!