

Bagi sebagian orang, sepak bola bukan cuma sekedar pertandingan, ada sesuatu yang lebih dari itu. Ada yang rela begadang sampai subuh cuma demi menonton tim kesayangannya bertanding dan esoknya tetap masuk kuliah atau kerja walaupun badan lemas dan mata merah kurang tidur. Yang penting tim kesayangannya menang, rasa lelah seketika langsung hilang.
Kejadian seperti itu sebenernya cukup menarik untuk dibahas, dan sebagai laki-laki, saya akan menulisnya berdasarkan sudut pandang saya sebagai laki-laki, ya.
Banyak laki-laki yang suasana emosionalnya dipengaruhi oleh hasil pertandingan sepak bola. Ketika tim kesayangannya menang, mood langsung naik tentu saja. Jadi lebih semangat, dan rasanya hari itu ikut jadi lebih asik dan menyenangkan. Saat tim kesayangannya kalah, apalagi kalah dari tim rivalnya, suasana hati bisa kacau, malas ngobrol, sensitif, bahkan bisa sampai kesel dengan orang sekitar. Terdengar berlebihan, akan tetapi hal tersebut memang sering terjadi.
Kalau menurut saya, sepak bola itu punya pengaruh besar pada perasaan laki-laki. (atau saya aja).
Ada rasa bangga sendiri saat lihat tim kesayangan main bagus atau menang di laga penting. Rasanya kayak kita juga ikut menang bareng mereka. Apalagi ketika pertandingannya seru dan penuh drama, misalnya menang di menit terakhir atau berhasil comeback setelah sempat tertinggal. Perasaan senangnya itu bahkan bisa kebawa sampai seharian.
Sebaliknya, kalau tim kesayangannya kalah, efeknya juga sangat berdampak, terlebih kalau alasannya menyakitkan seperti blunder pemain, penalti yang kontroversial, atau sampai dibantai rival besar. Biasanya ramai pula media sosial dengan ejekan dari teman-teman fans rival itu ☹
Di situ, emosi supporter sering ikut kepancing. Ada yang milih diam saja, tapi ada juga yang malah ikutan “perang” di kolom komentar untuk membela klubnya, dan mempertahankan harga diri ☹
Hal seperti itu sebenarnya menunjukan bahwa pendukung dan tim sepak bola memang memiliki hubungan emosional yang kuat. Banyak laki-laki yang merasa mempunyai ikatan dengan tim yang didukungnya. Mereka mengetahui sejarah timnya dibentuk, mengikuti perkembangan pemain, tahu statistik pertandingan, dan juga sampai ikut merasakan tekanan ketika tim kesayangannya sedang berada di performa yang buruk. Ada juga yang lebih hapal jadwal tim kesayangnnya bertanding dari pada jadwal kuliah dan tugasnya sendiri.
Selain memengaruhi emosional, sepak bola juga sering menjadi tempat pelampiasan ketika lelah beraktivitas sehari-hari. Contohnya seperti lelah selesai kuliah, kerja, atau menghadapi masalah pribadi yang berat. Menonton pertandingan sepak bola bisa menjadi solusi yang cukup efektif untuk menjadikannya hiburan sejenak.
Budaya nobar menjadi satu hal yang membuat sepak bola terasa lebih dekat di kehidupan laki-laki. Di angkringan, pos ronda, atau bahkan kamar kos, di situ lah saya dan teman laki-laki saya yang lain menghabiskan waktu untuk menonton pertandingan bersama.
Meskipun tim yang didukung berbeda, suasana nobar akan tetap berlangsung dengan seru. Ada yang teriak heboh pas gol tercipta, ada juga yang saling ledek waktu tim lawan kalah, sampai debat kecil soal pemain atau strategi pelatih. Dari situ justru muncul rasa kebersamaan yang kadang susah ditemukan di tempat lain.
Namun, di balik keseruannya tersebut, fanatisme terhadap sepak bola juga dapat memberikan dampak yang negatif. Banyak orang yang terlalu serius menanggapi sebuah pertandingan hingga emosinya sulit dikontrol.
Menurut saya, hal yang paling penting saat menonton sepak bola adalah ketika kita bisa menikmati jalannya pertandingan tanpa kehilangan kendali terhadap emosinya. Mendukung tim tertentu itu wajar, semua orang berhak menyukai tim apa pun, tapi jangan karena sepak bola hubungan pertemanan menjadi rusak atau justru memicu perpecahan. Rivalitas seharusnya cukup terjadi di lapangan, selebihnya kita saudara, tapi tidak seperti Abu Jahal tentu saja.
Loyalitas suporter ke klub sepak bola itu memang kadang gak masuk akal kalau dipikir pakai logika (saya). Banyak orang tetap setia dukung timnya meski sering kalah atau performanya buruk bertahun-tahun, namun mereka tetap nonton, tetap beli jersey, dan tetap berharap musim depan bakal lebih baik.
Buat saya, mungkin karena dukung klub itu bukan cuma soal menang atau kalah, tapi lebih ke rasa memiliki dan kesetiaan. Jadi walaupun hasilnya nggak selalu sesuai harapan, tetap aja ada ikatan emosional yang bikin susah buat berpaling.
Hal itu terasa cocok dengan kutipan dari mantan pemain sepak bola Eric Cantona yang pernah berkata,
“Anda bisa mengganti istri, politik, agama, tetapi Anda tidak akan pernah bisa mengganti tim sepak bola favorit Anda.”
Terdengar bercanda tapi kutipan tersebut menggambarkan betapa kuatnya hubungan emosional antara seorang suporter dan klub yang didukungnya.
Pada akhirnya, sepak bola memang lebih dari sekadar olahraga sebab di dalamnya ada rasa senang, kecewa, bangga, dan marah. Semua emosi itu bercampur menjadi satu setiap kali pertandingan dimulai, sebab itu lah menonton klub sepak bola kesayangan bisa memberikan dampak besar terhadap emosional laki-laki. Tinggal kita menyikapinya dengan santai dan tetap dewasa agar sepak bola tetap menjadi hiburan yang menyenangkan saja.
Lahir di Banyumas, 3 Februari 2007. Mahasiswa UIN Saizu Purwokerto yang memiliki hobi bermain sepak bola. Instagram @ibnu.stwnn
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!