Cunikrem

“Emoh Ni, aku emoh” suara Cunikrem terisak dan sedikit berteriak, ketika Nini Dungkar menyeretnya ke dalam kamar yang sudah disediakan untuk upacara terakhirnya agar bisa dianggap sebagai Ronggeng sejati, bukak klambu.

“Cepat masuk kamar, dasar anak mursal tidak tahu diuntung” teriak Nini Dungkar. Tapi tangan yang sedang diseretnya itu adalah tangan seorang gadis muda, yang tentu saja lebih kuat dari tangan seorang nenek-nenek peyot bau tanah seperti dirinya. Maka dengan sekali kibasan kuat, Cuni berhasil melepaskan cengkraman neneknya, dan mulai berlari keluar dari rumah jahanam itu.

“Ya, terus lari kamu, dasar anak setan! Jangan pernah kembali ke sini lagi! Dasar tak tahu diuntung. Sudah mending aku pungut jadi anak, malah begini balasanmu kepadaku, heh!?” Nini Dungkar melolong sambil meludahkan merah sirih ke pekarangan rumahnya.

Cuni terus berlari dan berlari, hingga hilang pedih dan perih. Ia hanya mengikuti ke mana kakinya berlari. Dia tidak mau melakukan upacara bukak klambu, upacara yang baginya sangat mengerikan dan menjijikan. Upacara yang tidak ada cinta dan kerelaan sama sekali di dalamnya.

Cuni hanya mencintai Basori, anak seorang modin dari desa sebelah. Dan ke sanalah memang Cuni sedang menuju. Bagi Cuni hanya Basori-lah yang memandangnya sebagai seorang manusia, sebagai seorang perempuan seutuhnya. Tidak hanya yang binal-binalnya atau saru-saru-nya saja, tapi sebagai seorang perempuan yang berdarah, berdaging, dan berperasaan. Hanya Basori yang memandangnnya sama seperti manusia lainnya, Basor sangat menaruh hormat dan sayang kepada Cuni.

Dan semua itu tidak pernah ia dapatkan di dalam rumah jahanam itu. Yang ia dapatkan di sana hanya pemaksaan, penyiksaan, dan penghinaan. Ia benar-benar diperlakukan seperti barang dagangan untuk dijual, atau seperti hewan yang disiksa dan dipaksa kawin, bukan diperlakukan sebagai manusia sebagaimana mestinya.

Dan setelah bertemu Basori, hari itu adalah pertama kalinya Cuni menyadari keberadaannya sebagai seorang manusia, seorang perempuan yang memiliki harkat dan martabat seutuhnya. Melalui Basori-lah kemudian Cuni mulai mengenal apa itu cinta, dan apa artinya menjadi perempuan somahan, cita-cita sederhana yang diinginkan oleh perempuan. Pertemuan-pertemuan dengan Basori itulah yang kemudian membuat Cunikrem jadi memiliki keberanian untuk melawan neneknya, dan kemudian ia mulai mendengarkan suara hatinya yang selama ini sengaja ia bungkam.

“Bawa aku lari dari sini Bas” pinta Cuni kepada Basori dengan napas tersengal.

“Kau kenapa Cun?” tanya Basori dengan wajah kebingungan saat melihat wajah Cuni yang sudah berleleran air mata di halaman rumahnya.

“Tidak apa, cepat bawa aku pergi dari tempat jahannam itu.”

“Memangnya apa yang terjadi Cun? Katakan padaku.”

“Aku tidak mau melakukan upacara jahanam itu Bas, aku ingin pergi dari rumah neraka itu.”

“Apa maksudmu?”

“Segera bawa aku pergi  dari rumah celaka itu.”

“Ya nanti dulu, kau harus menceritakan semuanya kepadaku dahulu.”

“Nini Dungkar.”

“Ya, kenapa dengan Nini?”

“Dia memaksaku melakukan upacara bukak klambu.

“Astaghfirullahal’azim, nauzubillahiminzalik,” ucap Basori  sambil mengelus dada.

“Kau mau kan membawaku pergi dari sini Bas?”

“Aku mau-mau saja, tapi bagaimana nanti kata orang?”

“Persetan kata orang, yang penting aku ingin pergi dari kampung itu”

“Tapi aku anak seorang modin Cun, ini tidak mudah dan tidak benar, tidak baik aku melakukan hal keji macam itu” kata Basori dengan wajah pucat ketakutan. Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Basori, Cunikrem langsung muntab.

“Lalu mana katanya yang kapan hari kau akan mencintai, menyayangi, dan melindungiku untuk selamanya itu? Mana yang katanya kau akan membawaku pergi dari kampung jahanam itu?”

“Ya, tapi bukan begini caranya Cun”

“Tidak ada cara lain, selain kita pergi dan minggat dari sini sekarang juga Bas”

“Tapi aku ini anak modin Cun”

“Dan aku anak dukun Ronggeng begitu? Seseorang yang tak pantas dicintai dan dinikahi oleh anak seorang modin begitu maksudmu kan?”

“Bukan begitu maksudku?”

“Lalu apa maksudmu? Giliran aku memintamu untuk membawaku pergi dari kampung jahanam itu kau bawa-bawa nama bapakmu yang seorang modin itu”

“Ya kan benar, aku anak seorang modin, dan anak dari seorang modin tak patut membawa lari anak perempuan orang”

“Tapi kemarin-kemarin saat kau mulai mencumbuku, menindih tubuhku penuh nafsu, dan melenguh penuh berahi, kau tak pernah sekalipun bawa-bawa nama bapakmu yang modin itu dalam persenggamaan kita.”

“Yang kau katakan hanya janji-janji manis yang akan mencintai, menikahi, menyayangi, melindungi, dan menjagaku untuk selamanya. Sebelum kemudian kau merenggut segalanya dariku,” tandas Cunikrem.

Basori yang mendengar kata-kata itu meluncur keluar dari mulut Cunikrem hanya bisa terdiam memasang wajah tolol.

“O pancen lanang asu! Ora teyeng dicekel omongane, su!” umpat Cunikrem setelah melihat wajah Basori sambil meludah ke tanah. Lalu ia pergi untuk selamanya dari hadapan Basori yang hanya mematung memasang wajah tolol, ketakutan, dan pucat pasi; wajah seorang pengecut.

Cunikrem kemudian memang benar-benar pergi untuk selamanya dari kampung jahanam itu. Karena setelah pertemuan terakhirnya dengan Basori. Tiga hari kemudian mayatnya ditemukan mengambang di tepian Kali Serayu, dan Cunikrem mati dalam keadaan menggembol janin tak berdosa yang bersemayam di dalam rahimnya.

Banyumas, 2025-2026

Author

  • Juli Prasetya

    Asal Banyumas. Kumcer terbarunya diterbitkan dengan judul Rudi Gaber yang Ingin Memberi Makan Istrinya dengan Puisi (2025). Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung di Desa Purbadana, Kembaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | nakitbahis | nakitbahis | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | norabahis | jojobet giriş | Report Phishing | Ultrabet |