

Genap setengah tahun aku tinggal di kota Pempek.
Aku rasa, bagi para perantau amat wajar mengalami yang namanya culture shock atau gegar budaya. Bagaimana tidak?
Memilih pergi ke luar daerah pulau merupakan pilihan yang cukup rumit karena kemampuan adaptasi harus diasah sejak dini.
Dari perbedaan bahasa yang digunakan sehari-hari, lalu lintas yang kian memadati jalanan tiap pagi dan sore hari, dan budaya lebaran yang cukup berbeda membuat tanganku mengelus dagu dengan penuh keheranan.
Pertama, dari segi bahasa. Aku merupakan seorang mas-mas biasa yang lahir di tanah Jawa Tengah. Bahasa yang aku gunakan sebelumnya untuk komunikasi sehari-hari ialah bahasa Jawa.
Dalam tatanan kehidupan, masyarakat Jawa mengenal adanya bahasa “kasar” dan bahasa “halus”. Biasanya, bahasa “halus” ditujukan pada orang yang lebih tua dari segi usia.
Namun, berbeda halnya ketika aku berada di Palembang. Sejauh ini, bahasa yang digunakan tidak serumit yang ada di Jawa. Bahasa yang dilayangkan pada rekan sebaya dengan orang tua tidak jauh berbeda. Perilaku ini yang membuatku agak sedikit kesulitan mengikuti, karena sudah terbiasa menggunakan bahasa yang berbeda tatkala berhadapan dengan orang tua.
Contohnya pada saat mengucapkan kata “Iya”.
Di Palembang, masyarakatnya tidak menyebut kata “Iya”, melainkan “Iyo”.
aat pertama kali mendengar hal tersebut terucap dari anak kecil ke orang dewasa sontak aku langsung kaget, karena kata “iyo” dalam masyarakat Jawa biasnaya hanya dilontarkan pada rekan sebaya saja.
Selain bahasa, nada bicara dari orang Palembang termasuk agak tinggi dibandingkan dengan orang Jawa. Pada saat awal sampai di tanah Palembang, memulai obrolan dengan warga lokal merupakan strategi yang ciamik agar mampu memulai usaha resiliensi. Namun, terkadang di tengah pembicaraan, lawan warga lokal bisa menaikan nada bicara mereka.
Awalnya, kukira mereka memarahiku, mungkin karena ucapanku yang menyayat hati mereka, atau tindakanku yang tidak sesuai dengan nilai yang mereka pegang. Setelah menanyakan perihal nada tinggi tersebut, barulah aku sadar bahwa penggunaan nada tinggi di Palembang sudah sangat lumrah dijumpai di berbagai lini.
Tak berhenti di bahasa, aku pun harus memproses perihal padatnya lalu lintas dan kebisingan di sepanjang jalanan. Perihal padatnya lalu lintas, karena beberapa waktu yang lalu sempat menjadi karyawan di tempat kerja daerah Seturan, Yogyakarta, kupikir jalan Selokan Mataram, Seturan, dan simpang empat Condongcatur sudah menjadi “garis akhir” dari tingkat kepadatan lalu lintas. Ternyata tidak!
Aku mencoba untuk berkeliling di Palembang. Aktivitas tersebut tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga emosi karena tidak jarang bertemu dengan kemacetan yang panjang. Tak hanya kemacetan, telingaku sepertinya harus mulai bersahabat dengan bunyi klakson yang begitu nyaring.
Kondisi tersebut dapat dijumpai saat menunggu lampu merah berubah menjadi hijau. Terkadang, saat detik lampu merah sudah mencapai angka lima, jangan kaget jika terdapat beberapa pengendara yang dengan spontan langsung menekan klakson mereka selama beberapa kali. Kejadian ini sepertinya jarang aku temui di tanah kelahiranku.
Selain kemacetan dan riuhnya bunyi klakson, pengalaman mencari kos di Palembang pun ternyata berbeda dengan di Jogja.
Jika di Jogja hal yang aku takutkan biasanya meliputi kos yang tidak bebas akses 24 jam, ada riwayat bunuh diri atau tidak, dan sempat ada kejadian kemalingan atau tidak, di Palembang menambah kegelisahan saat mencari kosan.
Pertanyaan yang muncul tatkala mencari kos mulai bertambah. Tidak hanya pertanyaan mencari kosan yang bebas akses 24 jam, melainkan juga pertanyaan
Apakah daerah kos tersebut baik akses? atau kosnya rawan banjir atau tidak?
Setidaknya, aku sudah tiga kali mendapatkan peringatan dari orang yang berbeda. Peringatan tersebut berupa,
“Jangan cari kos di daerah yang rawan banjir”
Aku pikir peringatan itu hanya gertakan. Ternyata memang benar adanya daerah rawan banjir di Palembang, sehingga pertanyaan “Daerah sini sering banjir tidak?” wajib dilayangkan pada pemilik kosan.
Pengalaman mencari kosan juga aku dengar dari beberapa kawan yang sudah terlebih dahulu tinggal di Palembang. Mereka mengeluh bahwa air di kosan mereka ternyata tidak mengalir selama 24 jam.
Mendengar cerita tersebut, sontak aku merasa heran. Kok bisa, air tidak mengalir selama 24 jam?
Selama ini, aku pikir permasalahan air selama menetap di kos hanya seputar alirannya kecil, air keruh, atau air mati. Ternyata di Palembang terdapat kos yang airnya tidak mengalir selama 24 jam penuh.
Selain itu, hal yang paling terasa berbeda saat aku tinggal di Jawa dan di Palembang ialah makanan yang hadir tatkala lebaran menyapa. Ketika berada di rumah di Jawa, suasana pagi setelah Salat Ied biasanya langsung dipenuhi aroma santan dari opor ayam yang mengepul di atas meja makan. Ketupat, sambal goreng ati, hingga kerupuk menjadi pelengkap yang hampir selalu ada di setiap rumah. Rasanya seperti ada kesepakatan tidak tertulis bahwa lebaran belum benar-benar dimulai jika belum menyantap opor bersama keluarga. Makanan pembuka itu seolah menjadi simbol kehangatan rumah, sederhana tetapi selalu dirindukan.
Namun, suasana berbeda justru aku temukan tatkala tinggal di Palembang. Tradisi berkunjung dari satu rumah ke rumah lain tidak diawali dengan kuah santan, melainkan dengan sepiring pempek lengkap dengan cuko yang khas. Belum juga duduk lama, tuan rumah biasanya sudah menawarkan pempek kapal selam, lenjer, atau kudapan sejenisnya sebagai sajian pertama.
Rasanya cukup unik, karena di tempat lain pempek mungkin hanya dianggap makanan sehari-hari, tetapi di Palembang ia bisa naik derajat menjadi “menu wajib tamu Lebaran”.
Pedas, asam, dan gurih dari cuko seperti menjadi pembuka percakapan di setiap rumah yang dikunjungi. Dari situ aku menyadari bahwa setiap daerah punya caranya sendiri untuk menyambut tamu dan merayakan kebersamaan, bahkan hanya lewat makanan pembuka.
Bagiku, ragam pengalaman di atas merupakan anugerah yang indah karena mampu menumbuhkan sifat resiliensi, agar mampu menjalani hidup dengan banyaknya perbedaan yang muncul di permukaan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!